Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Desa Sanur Didirikan oleh Keturunan Dang Hyang Nirartha, Bermula dari Sebuah Cahaya saat Banjir Melanda Padanggalak: Begini Sejarahnya

Nyoman Suarna • Selasa, 1 Oktober 2024 | 23:57 WIB
PANTAI SANUR: Nama Sanur bermula dari sebuah cahaya yang dilihat keturunan Dang Hyang Dwijendra saat banjir melanda Padanggalak.
PANTAI SANUR: Nama Sanur bermula dari sebuah cahaya yang dilihat keturunan Dang Hyang Dwijendra saat banjir melanda Padanggalak.

BALIEXPRESS.ID – Sanur merupakan salah satu wilayah yang ada di Denpasar, Bali. Tempat ini sudah dikenal di mancanegara sebagai salah satu objek wisata di Bali.

Namun tak banyak yang tahu, nama Sanur muncul pada masa pemerintahan raja Dalem Sagening.    

Tokoh masyarakat Sanur, Ida Bagus Mudiartha mengatakan, sejarah nama Sanur tak terlepas dari sejarah Pura Dalem Kedewatan yang merupakan pura dang kahyangan.

Berdirinya pura ini tidak terlepas dari rangkaian perjalanan tirtha yatra dari Dang Hyang Nirartha yang datang ke Bali ketika pemerintahan Ida Dalem Waturenggong pada tahun 1460-1550 M.

Ida Bhatara Dhang Hyang Nirartha tidak saja mengunjungi pura yang sudah ada di Bali, tetapi juga mendirikan pura.

“Salah satunya adalah Pura Dalem Kedewatan. Pura ini  didirikan oleh putranya, sebelumnya menetap di pesisir Padanggalak,” jelasnya.

Seperti yang tercatat dalam sejarah Pura Dalem Kedewatan, Ida Pedanda Telaga Sakti Ender yang merupakan putra dari Dhang Hyang Nirartha  tinggal di daerah Klungkung ini.

Beliau memiliki empat orang putra. Putra yang pertama adalah Ida Pedanda Telaga Tawang, yang kedua Ida Pedanda Made Telaga.

Putra  ketiga Ida Pedanda Anom Bandesa, dan yang keempat adalah Ida Pedanda Penida.

Keempat putra Ida Pedanda Telaga Sakti Ender, setelah berkuasanya Ida Dalem Segening (1580-1665 M), tinggal di beberapa wilayah di Bali.

Ida Pedanda Telaga Tawang tinggal di Desa Kamasan, sedangkan ketiga adiknya yakni Ida Pedanda Made Telaga, Ida Pedanda Anom Bandesa, dan Ida Pedanda Penida tinggal di Wilayah Padanggalak.

Setelah tinggal di Padanggalak, dua orang putra Ida Pedanda Telaga Sakti Ender, yakni  Anom Bandesa dan Ida Pedanda Penida, pindah ke Tabanan dan Buleleng. Sehingga yang menetap di Padanggalak hanya Ida Pedanda Made Telaga.

Ida Pedanda Made Telaga akhirnya membentuk sebuah desa dengan pengikut sebanyak 40 kepala keluarga.

 Ida Pedanda Made Telaga, lanjut Mudiartha,  juga memiliki seorang istri bernapa I Gusti Ayu Putu Pacung yang merupakan keturunan dari I Gusti Ngurah Pinatih.

Setelah beberapa lama tinggal di Padanggalak, suatu ketika pedesaan Padanggalak yang diperintah Ida Pedanda Made Telaga dilanda bencana air bah.

Setelah sempat bertahan beberapa lama, akhirnya pada hari yang telah ditentukan, berupaya untuk menyelamatkan diri dari bencana air bah ini.

Ida Pedanda Made Telaga berserta para pengikutnya pergi meninggalkan Desa Padanggalak.

Saat itu, Ida Pedanda Made Telaga beserta keluarga dan pengikutnya mendapat petunjuk berupa sinar putih dari sisi utara Desa Padanggalak.

Kemudian, arah datangnya sinar putih itu dinamakan Desa Sanur yang berasal dari kata “Sah” yang artinya tunggal dan “Nur” yang berarti sinar atau teja atau cahaya

“Jadi kata Sanur tersebut dapat diartikan sebuah tempat yang bercahaya atau bersinar,” terang  Mudiartha.

Setelah mendapat petunjuk tersebut, para pengikut dari Ida Pedanda Made Telaga akhirnya sempat berlindung di Desa Sanur dengan cara nyatur.

Pengikutnya menyebar keempat penjuru arah dari pusat datangnya sinar suci tersebut, seperti di Pakandelan di sisi utara, Batanpoh di sisi timur, Pemaron di sisi selatan, dan Belong di sisi Barat.

Sedangkan Ida Pedanda Made Telaga tinggal di pusat desa bersama dengan putranya.

Setelah mendapatkan tempat tinggal, akhirnya para pengikut ini diperintahkan untuk memindahkan  pura-pura yang sebelumnya ditinggalkan di Padanggalak.

Di antaranya Pura Dalem Kedewatan, Pura Batur, Pura Kahyangan Tiga.

Sedangkan beberapa pura lainnya, seperti Pura Padang Sakti dan Pura Kentel Gumi masih ada di Tangtu, karena saat itu masih ada masyarakat yang tinggal di sana yang ditugaskan untuk memelihara pura.

Ketika proses ngingsirang pura ini, masyarakat bergotong royong selama beberapa waktu.

Karena pura-pura yang ada di Padanggalak masih dalam kondisi baik, pura-pura tersebut dipindahkan secara keseluruhan.

Proses permindahan inilah yang diceritakan dalam tari Baris Tumbak yang ditarikan setiap upacara piodalan.

Editor : Nyoman Suarna
#sanur #Dang Hyang Nirartha #cahaya #desa #padanggalak #banjir