Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sejarah Desa Bongkasa Badung Terkait dengan Kisah Balian Jero Ketut Tangsub Sembuhkan Istri Raja Mengwi: Begini Ceritanya

Nyoman Suarna • Senin, 7 Oktober 2024 | 00:16 WIB
DESA BONGKASA: Merupakan jejak sejarah perjalanan Jero Ketut Tangsub yang berhasil sembuhkan istri raja Mengwi.
DESA BONGKASA: Merupakan jejak sejarah perjalanan Jero Ketut Tangsub yang berhasil sembuhkan istri raja Mengwi.

BALIEXPRESS.ID - Desa Bongkasa, yang terletak di Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung, Bali, memiliki sejarah yang kaya dan menarik.

Meskipun sebagian besar kisahnya diturunkan secara lisan dari generasi ke generasi, cerita tentang asal-usul desa ini tetap hidup di antara masyarakatnya.

Sejarah Bongkasa erat kaitannya dengan perkembangan Kerajaan Mengwi pada abad ke-17 serta kontribusi tokoh-tokoh penting yang pernah menetap dan berperan dalam pembentukan wilayah ini.

Dikutif dari desabongkasa. Badungkab.go.id, konon Desa Bongkasa dahulu masih merupakan hutan belantara dan semak- semak yang tanahnya berpalung – palung.

Pada saat itu wilayah Desa Bongkasa merupakan daerah  kekuasaan Raja Mengwi yang batas timurnya adalah Sungai Ayung.

Pada tahun 1600 M Raja Mengwi mengutus orang kepercayaannya yang bernama I Gede Geredegan dan I Made Tanggu untuk merabas daerah sebelah barat Sungai Ayung.

I Gede Geredegan dan I Made Tanggu menuju tanah sebelah barat Sungai Ayung dengan mengambil lokasi di sebelah barat Pura Sima yang ada sekarang.

Sambil merabas hutan, I Gede Geredegan dan I Made Tanggu menanam tanaman yang bisa dinikmati.

Sayangya mereka tidak mengajak istrinya sehingga tidak menumbuhkan anak sebagai keturunan (sentana). Kendati demikian, mereka tetap bertahan (teguh dalam hutan atau wana) sehingga tempat tersebut diberi nama Teguh Wana. Lama kelamaan disebut Teguan.

I Gede Geredegan  dan I Made Tanggu membagi tugas dengan kesepakatan I Gede Geredegan kembali ke Puri Mengwi untuk melaporkan hasil pekerjaan atau tugas yang diembannya dan I Made Tanggu dengan setianya menunggui batas timur kerajaan Mengwi.

Tak lama kemudian ada berita bahwa Permaisuri atau istri Raja Mengwi mengalami sakit keras dan pada saat itu keadaan terpaksa   Raja Mengwi  mengundang para Pendeta dan para Dukun atau  Tabib yang ada di Istana maupun yang ada di luar Istana untuk memberikan pertolongan mengobati Isteri Raja Mengwi.

Namun satupun tidak ada yang berhasil untuk mengobati Isteri Raja Mengwi.

Kabar berita itu telah tersebar ke segala penjuru hingga sampai ke orang tua Jero Ketut Tangsub di daerah Manuaba di Gianyar.

Orang tua Jero Ketut Tangsub mengutus Jero Ketut Tangsub untuk berangkat ke Puri Mengwi untuk memberi pertolongan atau pengobatan kepada isteri  Raja Mengwi.

Dengan peralatan berupa sebuah tas terbuat dari ate yang disebut Kompek Gandek berisi sirih, kapur, pinang, tembakau, Jero Ketut Tangsub berangkat ke Puri Mengwi.

Sesampai di Kerajaan Mengwi, Jero Ketut Tangsub melihat para balian dan pendeta silih berganti keluar masuk mencoba mengobati isteri raja.

Karena penasaran, Jero Ketut Tangsub bertanya kepada seorang pedagang rujak di bawah pohon beringin, “Ibu pedagang rujak, berapakah dapat ongkos orang–orang yang berkeliaran keluar masuk puri itu?“

Dianggap terlalu mengejek, pedagang rujak melapor ke kepada para patih dari Raja Mengwi.

Para patih pun marah dan ingin membunuh Jero Ketut Tangsub.

Jero Ketut Tangsub dipanggil menghadap untuk menjelaskan maksud kata–kata yang diucapkan.

Jero Ketut Tangsub bertanya, apakah orang yang berhasil menyembuhkan istri Raja Mengwi mendapatkan imbalan?

Ttanpa memberikan jawaban, para patih langsung menyuruh Jero Ketut Tangsub mengobati istri Raja Mengwi. Jika menolak, Jero Ketut Tangsub akan dibunuh.

Dengan wajah berseri–seri, Jero Ketut Tangsub minta izin untuk mengobati.

Ketika diperciki yang telah diberi mantra-mantra gaib, istri Raja Mengwi langsung sembuh.

Sebagai imbalannya, Jero Ketut Tangsub menerima berkah dari  Raja Mengwi  berupa tanah seluas 10 Ha yang bisa dipilihnya.

Guna mencari tempat yang diberikan oleh Raja Mengwi, Jero Ketut Tangsub ditemani I Gede Geredegan dan Istrinya.

Tiba di daerah ketinggian, Jero Ketut Tangsub melihat seberkas sinar merah keemasan di arah timur.

Sinar tersebut diartikan Rangde Langit yang dalam bahasa bali disebut Bang Akasa.

Setelah menjadi desa, disebut Desa Bongkas yang merupakan bagian dari Kecamatan Abiansemal Kabupaten Badung, Propinsi Bali.

Dengan kesuburan tanahnya dan keamanan yang sangat menjanjikan, menarik minat para pendatang dari Tabanan, Gianyar, Carangsari dan sekitarnya.

Editor : Nyoman Suarna
#raja mengwi #jero ketut tangsub #sejarah #desa #Bongkasa