Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Makna Metirta Usai Melaksanakan Persembahyangan bagi Umat Hindu

Putu Agus Adegrantika • Senin, 7 Oktober 2024 | 21:14 WIB

 

SEMBAHYANG : Prosesi sembahyang oleh umat Hindu yang diakhiri dengan nunas tirta.
SEMBAHYANG : Prosesi sembahyang oleh umat Hindu yang diakhiri dengan nunas tirta.

BALIEXPRESS.ID – Tirta atau metirta merupakan air suci yang diyakini oleh umat Hindu sebagai pembersih sekala dan niskala. Bahan tirta itu sendiri adalah air, yang memiliki peran penting dalam kehidupan sehari-hari.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Gianyar, Ida Bagus Made Oka Yusa Manuaba, usai sembahyang bersama Pj. Bupati Gianyar pada puncak upacara Karya Pengurip Bumi di Pura Ulun Kulkul Besakih, menyampaikan makna metirta.

Disebutkan dalam pandangan agama Hindu, air tidak hanya sebagai sumber kehidupan fisik. Namun memiliki fungsi sakral dalam berbagai upacara keagamaan yang dikenal sebagai metirta atau air suci.

“Dalam kitab suci Bhagavad Gita, air suci ini disebut dengan istilah Toyam atau Toya. Memiliki kekuatan magis serta kekuatan religius,” jelas Ida Bagus Made Oka Yusa Manuaba.

Dalam kesempatan tersebut diungkapkan juga pada Bhagavad Gita III.14, dinyatakan bahwa makhluk hidup ada karena makanan, makanan ada karena hujan, hujan ada karena yajna, dan yadnya ada karena karma.

Hal ini menunjukkan bahwa air adalah sarana yang sangat penting dalam yadnya. Dimana manusia memohon anugrah berupa air hujan untuk kesehatan dan keselamatan.

Makna tirta juga berkaitan erat dengan persembahyangan. Setelah menghaturkan sembah, umat Hindu melanjutkan dengan memohon tirta.

Proses ini mencakup penyiraman tirta sebanyak tiga kali, mengonsumsi tirta sebanyak tiga kali, dan mencelupkan tangan ke dalam tirta sebanyak tiga kali. Tiga kali ini melambangkan penyucian bayu, sabda, dan idep.

Pemercikan tirta pada tubuh manusia memiliki makna penyucian badan. Meminum tirta melambangkan penyucian dari kotoran dan perkataan, yang dikenal sebagai suksma sarira (Tirta Kamandalu).

Sedangkan saat diraup melambangkan kesucian dalam kekuatan hidup (Tirta Pawitra Jati).

 

“Ketiga tahap pemercikan tirta ini bertujuan memberikan kesucian pada diri manusia,” pungkasnya.

Tirta juga berperan sebagai pemelihara. Dalam pandangan Tri Murti, yakni Dewa Indra sebagai penguasa hujan memberikan air kehidupan dan kesuburan pada semua makhluk hidup. ***

Editor : Putu Agus Adegrantika
#Metirta #sembahyang #Tirta #Budaya Bali