BALIEXPRESS.ID - Dalam tradisi Hindu Bali, melukat menjadi ritual yang tak ternilai, di mana umat membersihkan diri dan pikiran melalui air suci.
Salah satu lokasi yang paling diakui untuk melakukan melukat adalah Pura Campuhan, yang terletak di Banjar Pohgending, Desa Pitra, Kecamatan Penebel, Tabanan, Bali.
Keindahan alamnya dan pertemuan dua aliran sungai menjadikannya tempat istimewa bagi para pencari kesucian.
Keajaiban Pura Campuhan
Pura Campuhan berdiri megah di antara arus Sungai Yeh Empas dan Yeh Beji. Keberadaan dua sungai ini di tengah suasana hijau dan asri memberikan vibrasi spiritual yang tinggi, sehingga banyak umat Hindu yang percaya bahwa melukat di sini memberikan manfaat yang setara dengan melukat di sumber mata air suci lainnya.
Sejarah dan Mitos Pura Campuhan
Dulunya, Pura Campuhan terisolasi, jauh dari pemukiman dan lalu lintas manusia.
I Made Jelas, Tokoh Adat Banjar Pohgending, menceritakan bahwa pada masa lalu, tempat ini jarang dikunjungi sehingga kurang mendapat perhatian.
Menurut tetua, sejarah pura ini sangat erat kaitannya dengan almarhum Pekak Oleng, sosok fenomenal yang dikenal sebagai pemangku Pura Dalem Pohgending.
“Pekak Oleng menerima pawisik untuk mendirikan Turus Lumbung yang menjadi cikal bakal Pura Campuhan,” jelas Jelas.
Turus Lumbung ini terbuat dari pohon dadap, tetapi telah tumbang pada tahun 2014. Sebagai respons, masyarakat melaksanakan upacara Guru Piduka dan pecaruan untuk menghormatinya.
Ritual Melukat yang Mendalam
Pura Campuhan, yang sebelumnya dikenal sebagai Pura Penaweng, tidak memiliki pemangku tetap hingga sekitar tahun 1990.
Sejak saat itu, pengelolaan dan piodalan diserahkan kepada Banjar Pohgending, dengan pelinggih-pelinggih yang melaksanakan piodalan setiap Purnama Kedasa.
Sebelum melukat, umat diwajibkan bersembahyang di Pura Campuhan untuk memohon keselamatan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
“Setelah itu, kita melukat di pertemuan dua sungai, membersihkan diri, pikiran, dan perkataan dengan tulus,” imbuhnya.
Mitos Ular Poleng
Kepercayaan terhadap ancangan Ular Poleng, penunggu Pura Campuhan, masih dipegang teguh hingga kini.
Saksi mata menyatakan bahwa ular ini muncul saat warga melakukan ngayah dalam rangka piodalan.
“Kami percaya ini adalah pertanda baik yang meningkatkan sradha dan bakti kepada-Nya,” tutup Jelas.
Dengan keindahan alamnya dan kekayaan sejarah yang mendalam, Pura Campuhan tidak hanya menjadi tempat melukat, tetapi juga sumber inspirasi spiritual bagi umat Hindu.
Apakah Anda siap menjelajahi keajaiban dan makna mendalam di balik ritual melukat di Pura Campuhan? Mari temukan rahasia keberkahan yang tersembunyi di tempat yang suci ini! ***