Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Catat, Lima Jenis Sarana Mebayuh Oton, Mulai dari Merafal Mantram hingga Bebantenan, Melukat disesuaikan Hari Kelahiran

I Putu Mardika • Rabu, 9 Oktober 2024 | 04:23 WIB
Bayuh oton dilaksanakan dalam upaya menetralisir energi negatif dalam kelahiran
Bayuh oton dilaksanakan dalam upaya menetralisir energi negatif dalam kelahiran

BALIEXPRESS.ID-Bayuh oton menjadi salah satu ritual penting yang dilaksanakan umat Hindu di Bali. Ritual ini dilaksanakan bagi setiap orang untuk tujuan menghilangkan berbagai mara bahaya dalam hidup.

Penekun Lontar, Ida Bagus Putra Manik Ariana menjelaskan, Tradisi Bayuh Oton berasal dari kata bayuh, yang berarti bagi, bayar, bahaya, membagi, ayu. Sedangkan oton diartikan sebagai weton atau kelahiran.

“Kata Baya itu sumbernya dari kata mayah, sebagai penguasa spirit kehidupan. Karena setiap hari kelahiran pasti ada dewa, kala. Sehingga kita harus berbagai,” paparnya.

Melaksanakan tradisi bayuh pada saat otonan berarti nyasa untuk membayar, menghilangkan berbagai bahaya dan rintangan dalam hidup, agar hidup mendapatkan kerahayuan.

Bayuh biasanya dilakukan saat otonan, sehingga aktivitas ini disebut dengan bayuh oton. Karena dilaksanakan pada saat otonan, maka siklusnya 210 hari (berdasarkan hitungan Uku, Saptawara dan Pancawara).

Otonan bertujuan melakukan persembahan sarana upakara sesuai oton dengan harapan hal-hal buruk bisa menjadi baik.

“Bayuh oton merupakan persembahan sarana yang dapat dibagi ke dalam lima jenis. Misalnya, bayuh oton dengan sarana Mantra; bayuh oton dengan sarana logam, Bayuh oton dengan sarana batu permata, bayuh oton dengan sarana Tirta Panglukatan; dan bayuh oton dengan sarana bebantenan,” jelasnya.

Dengan menggunakan sarana Mantra Gemana, bayuh oton misalnya dengan melapalkan Siwa Gemana, Uma Gemana, Gangga Gemana, Bharuna Gemana, Wana Gemana, Giri Gemana, dan lain-lainnya.

“Tingkat kanista bisa dengan mengucapkan mantram saat bayuh oton. Kalau secara ekonomi kurang mampu, maka cukup dengan matram ketika hari kelahiran sebagai momentum untuk membersihkan diri,” jelasnya.

Selanjutnya Bayuh oton dengan menggunakan sarana logam, misalnya kelahiran Redite (minggu) menggunakan sarana emas pralambang Surya.

Kelahiran Soma (Senen) menggunakan sarana Slaka pralambang Candra, kelahiran Anggara (Selasa) menggunakan sarana Gangsa pralambang Api, kelahiran Budha (Rabu) menggunakan sarana Besi pralambang Tanah.

Kelahiran Wrhaspati (Kamis) menggunakan sarana Perunggu pralambang Guntur; kelahiran Sukra (Jumat) menggunakan sarana Tembaga pralambang Sabeh, dan kelahiran Saniscara menggunakan sarana Timah pralambang Angin.

Bayuh oton dengan menggunakan sarana permata, misalnya kelahiran Redite Umanis menggunakan permata Socania osadi (zambrut/Emerald), daluman (giok/jade), ijo gading (peridot), narigangga (Chrysoberyl Cat’s Eye).

Kelahiran Redite Pahing menggunakan permata Socania mirah (ruby), nila (sapphire); kelahiran Redite Pwon, menggunakan permata Socania rudirarnawa (danau darah / garnet);

Kelahiran Redite Wage mengggunakan Socania kecubung (amethyst), cempaka (yellow sapphire); kelahiran Redite Kliwon menggunakan permata Socania cempaka (yellow sapphire), ijo rangreng (peros) dan seterusnya.

Bayuh oton juga dapat dilakukan dengan menggunakan Tirta Pengelukatan Bayuh Oton, misalnya kelahiran Umanis menggunakan sarana 18 toya kelebutan, kelahiran Pahing menggunakan sarana 12 toya kelebutan.

Kelahiran Pwon menggunakan sarana 8 toya kelebutan; kelahiran Wage, menggunakan sarana 6 toya kelebutan dan kelahiran Kliwon menggunakan sarana 14 toya kelebutan.

Selain itu, bayuh oton juga dapat dilakukan dengan menggunakan upakara. Misalnya, kelahiran Radite (Minggu) menggunakan Sesayut Kusuma Jati.

Kelahiran Soma (Senen) menggunakan Sesayut Cittarengga, kelahiran Anggara (Selasa), menggunakan Sesayut Wirakusuma. Kelahiran Budha (Rabu) menggunakan Sesayut Purnasuka.

Kelahiran Wrhaspati (Kamis) menggunakan Sasayut Kusumagadhawati; kelahiran Sukra (Jumat) menggunakan sarana Sesayut Liwet Raja Bira; dan kelahiran Saniscara (Sabtu) menggunakan Sesayut Kusumayudha.

“Sarana bebantenan yang digunakan juga bisa disesuaikan dengan kemampuan. Dari alit hingga agung,” tutupnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#bali #bayuh oton #hindu bali #hindu #kelahiran #tradisi