BALIEXPRESS.ID - Pura Gumang, yang terletak di Desa Pakraman Penempahan, Manukaya, Tampaksiring, Gianyar, merupakan saksi bisu dari sejarah panjang penyatuan berbagai sekte Hindu di Bali.
Di balik keheningan dan keindahannya, pura ini menyimpan kisah menarik tentang persatuan antara ajaran Siwa, Budha, dan Bali Mula yang sebelumnya saling bertentangan.
Keindahan Alam dan Atmosfer Sakral
Dikelilingi oleh hutan lebat dan persawahan yang menghijau, Pura Gumang menawarkan suasana tenang yang menambah kesakralan tempat ini.
Ketika tim Bali Express (Jawa Pos Group) mengunjungi pura ini, kawasan pura tampak sepi, tanpa ada pamedek yang terlihat.
Hal ini dikarenakan saat itu tidak ada kegiatan ritual yang berlangsung, memberikan kesan misterius bagi pengunjung.
Setelah melewati jalan bertanah yang berliku dan rimbunan pepohonan, kami tiba di sebuah wantilan besar yang terletak di jaba pura.
Pura Gumang mungkin tampak seperti pura pada umumnya, tetapi memiliki keunikan tersendiri dengan empat gapura yang berfungsi sebagai akses masuk dan keluar bagi pamedek.
Menurut I Made Arya Suardana, Tokoh Desa Pakraman Panempahan, pura ini telah ada sejak abad IX Masehi.
Artefak Bersejarah dan Simbol Penyatuan
Di dalam Pura Gumang, terdapat artefak berharga seperti Lingga Yoni, Stupa, dan Trisula, yang diyakini merupakan Lingga Yoni terbesar pada zamannya.
Suardana menjelaskan bahwa artefak-artefak tersebut melambangkan keberadaan tiga kepercayaan yang telah melebur menjadi satu.
“Ini adalah miniatur dan realisasi dari ajaran Bhineka Tunggal Ika,” ungkapnya.
Keberadaan empat gapura tersebut, yang dikenal sebagai Catur Paiguman, bukan hanya simbol akses, tetapi juga simbolisasi persamaan.
"Apapun perbedaannya, dari mana pun asal serta sektenya, mereka dapat masuk dari empat penjuru angin. Ini adalah cikal bakal dari sebuah paruman," lanjut Suardana.
Kisah Mitos Mayadenawa dan Daya Magis Pura Gumang
Pura Gumang juga terkenal akan daya magis dan kesakralannya. Terdapat sebuah batu besar dengan bekas tapak kaki yang terlihat jelas, yang diyakini berkaitan dengan mitos asal-usul pura ini.
Suardana menceritakan bahwa dahulu, Mayadenawa melarang orang untuk melakukan yadnya, menyebabkan murkanya para dewa yang kemudian turun ke bumi.
Mereka tidak diperbolehkan menginjakkan kaki di pertiwi, sehingga dipilihlah wilayah hutan terpencil sebagai pijakan.
Wilayah inilah yang kini dikenal sebagai Pura Gumang.
Mitos ini tidak hanya menjadi bagian dari sejarah pura, tetapi juga menarik banyak pengunjung yang percaya akan kesaktiannya.
Banyak masyarakat sekitar yang meyakini bahwa Pura Gumang adalah tempat yang tepat untuk memohon kelancaran rezeki dan kesuburan.
"Beberapa yang telah mencoba, mendapat anugerah dan berkah dari bhatara yang bersthana di sini," ungkap Suardana.
Permohonan seperti ingin memiliki anak atau kelancaran dalam mencari rezeki sering kali dikabulkan, meskipun semua itu tetap bergantung pada kuasa Ida Sanghyang Widhi dan karma masing-masing individu.
Pesan dari Pura Gumang
Dengan segala mitos, artefak bersejarah, dan suasana yang penuh kesakralan, Pura Gumang bukan hanya sekadar tempat ibadah. Ia merupakan simbol sejarah dan persatuan, mengingatkan kita akan pentingnya toleransi dan saling menghormati antar kepercayaan.
Mengunjungi Pura Gumang berarti menyusuri jejak sejarah yang mendalam, menelusuri cerita-cerita magis, serta merasakan kedamaian yang sulit ditemukan di tempat lain.
Apakah Anda siap untuk menjelajahi pesona dan misteri Pura Gumang? ***
Editor : I Putu Suyatra