BALIEXPRESS.ID – Di tengah beragamnya tradisi unik yang dimiliki Hindu Bali, ada satu tradisi kuno yang terus dijaga di Kabupaten Tabanan.
Tradisi tersebut dikenal dengan nama Meyeh Dangdang, yang digelar setiap perayaan Tumpek Wayang atau Saniscara Kliwon Wuku Wayang di Puri Gede Belayu, Desa Peken Belayu, Kecamatan Marga, Tabanan.
Tradisi ini bukan hanya soal upacara keagamaan, melainkan juga warisan penyembuhan yang dipercaya mampu mengatasi penyakit misterius yang sulit diobati.
Menurut I Gusti Ngurah Bagus Surya, salah satu anggota keluarga Puri Gede Belayu, tradisi Meyeh Dangdang berawal dari masa lalu, saat masyarakat Desa Belayu dilanda musibah penyakit misterius.
Kala itu, tidak ada obat yang mampu menyembuhkan penyakit tersebut.
"Masyarakat kemudian memohon petunjuk ke Merajan Agung Puri Gede Belayu. Dari situ, muncullah petunjuk untuk menggunakan ramuan herbal yang dicampur dengan air suci dalam sebuah Dangdang—sebuah wadah dari tanah liat," ungkapnya.
Dangdang ini diisi dengan berbagai benda seperti batu, sepit (alat tradisional), dan kukusan (wadah makanan tradisional), serta air suci yang sudah dicampur dengan tanaman obat yang dipercaya memiliki khasiat penyembuhan.
Beberapa jenis daun yang digunakan dalam tradisi ini antara lain daun Jeruju, Pandan Berduri, Jeruk Bali, dan daun Intaran, masing-masing dengan khasiat penyembuhan yang berbeda-beda.
- Daun Jeruju, yang tumbuh di lumpur atau rawa, dikenal mampu mengobati pembengkakan, radang hati, hingga kanker hati.
- Pandan Berduri dipercaya mampu menetralisir energi negatif dan mengusir gangguan mistis seperti Leak.
- Daun Jeruk Bali selain memberikan aroma yang menenangkan, juga berfungsi sebagai obat flu, meningkatkan imun, membunuh bakteri, serta mengatasi infeksi dan peradangan.
- Daun Intaran dipercaya menyembuhkan berbagai penyakit mulai dari kanker payudara, asma, malaria, hingga merawat kesehatan kulit dan rambut.
Tradisi ini, kata Bagus Surya, sudah ada sejak Desa Belayu berdiri dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Pada perayaan Tumpek Wayang, masyarakat akan berkumpul di simpang empat Desa Belayu, tepat di depan Puri Gede Belayu.
Dari pagi hari, manggala Puri telah menyiapkan Yeh Dangdang (air suci dalam Dangdang) yang nantinya akan dipercikkan kepada seluruh warga pada sore hari.
"Tua, muda, hingga anak-anak semua ikut berbaur, berebut untuk mendapatkan percikan air suci tersebut," jelasnya.
Tak hanya dipercaya menyembuhkan berbagai jenis penyakit, tradisi ini juga digelar sebagai upaya penolak bala.
Warga berdoa agar selalu dilindungi dari marabahaya dan diberkahi kemakmuran.
Selain itu, mereka juga membawa wadah untuk mengambil air suci Yeh Dangdang dan membawanya pulang untuk dipercikkan kepada keluarga yang tidak hadir.
Meski tradisi ini berlangsung rutin setiap Tumpek Wayang, Bagus Surya mengaku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika tradisi ini ditinggalkan.
“Sejak dulu, tradisi ini selalu dijalankan, dan kami yakin inilah yang menjaga keselamatan Desa Belayu dari berbagai marabahaya,” tambahnya.
Hingga kini, warga masih sangat antusias mengikuti tradisi Meyeh Dangdang, berebut tirta hingga basah kuyup dalam suasana suka cita.
Tradisi yang tidak hanya menyehatkan secara fisik, tetapi juga dipercaya memberikan ketenangan spiritual, semakin memperkuat identitas Desa Belayu sebagai desa yang penuh kearifan lokal dan tradisi penyembuhan kuno. ***