Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Mesegeh Simbol Syukur, Penghormatan terhadap Sarwa Prani,

I Putu Mardika • Sabtu, 12 Oktober 2024 | 04:09 WIB

 

Nasi Wong-Wongan sebagai bagian dari ritual mesegeh yang merupakan simbol menetrasilir energi negatif
Nasi Wong-Wongan sebagai bagian dari ritual mesegeh yang merupakan simbol menetrasilir energi negatif
BALIEXPRESS.ID-Umat Hindu di Bali sangat menyadari siklus waktu yang dilakukan dengan ritual masegeh. Masegeh menjadi simbul Syukur atas segala anugerah yang telah diberikan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Setiap keluarga Hindu di Bali menghaturkan sesuatu sebelum mereka makan serta memulai aktivitas lainnya. Kegiatan yang kelihatannya sederhana, mempersembahkan sejumput nasi yang baru selesai dimasak.

Persembahan tersebut berisi lauk-pauk serta sayuran yang dimasak, memiliki makna mendalam bahwa sebelum makan harus menghaturkan terlebih dahulu kepada-NYA Sang pencipta, pemilik, dan penguasa segala yang ada. Sebab jika tidak mempersembahkannya, maka kita dianggap sebagai pencuri.

Disamping itu, mempersembahkan sesuatu kepada-Nya sebelum dimakan dan melakukan aktivitas juga sebuah laku bhakti, berserah, dan mengakui akan eksistensi yang lebih besar dari eksistensi manusia.

Wayan Westha selaku cendikiawan Hindu menjelaskan sodaan juga sebagai bentuk berterima kasih kepada ibu (Pertiwi).

Tidak hanya berhenti sampai disana, umat Hindu di Bali juga menghaturkan sesajen dan segehan pada kurun waktu tertentu, berdasarkan perhitungan siklus kewaktuan.

Baca Juga: Yuk Intip Ada promo Apa Saja di Mega Sales di Astra Motor

Perhitungan waktu itu misalnya tiga harian dikenal dengan Pasah, Beteng, dan Kajeng. Perhitungan lima harian, misalnya umanis, paing, pon, wage, dan kliwon. Ada lagi waktu lima belas harian, kajeng kliwon, purnama-tilem, dan siklus waktu satu tahun dan seterusnya.

“Pada setiap peralihan itu acapkali umat Hindu melaksanakan ritus, dengan mempersembahkan sesajen dan laku yang berkaitan dengan itu. Inilah kosmos kewaktuan yang dipedomani orang Hindu di Bali pada khususnya dan umat Hindu di Indonesia pada umumnya,” katanya.

Atas dasar kewaktuan, orang Hindu masegehan, mecaru, melaksanakan upacara tawur tidak pada sembarang waktu.

Masegehan sehari-hari, masegehan dalam perhitungan lima harian, lima belas harian, setahun sekali dan seterusnya.

Umat Hindu di Bali, dan juga umat Hindu yang berada di luar Bali mengenal tiga jenis ibu (trining ibu) yaitu ibu biologis yang melahirkan kita, yang memberi makan-minum, dan mengajari kita berkata-kata hingga besar dan eksis hingga hari ini.

Ibu pertiwi, tanah ini yang dalam terminologi Bali disebut ibuning ibu, bumi ini yang telah menyiapkan berbagai sumber makanan dan kehidupan, dan ibu Saraswati, yang membuat manusia memiliki pengetahuan, keterampilan, dan memungkinkan manusia hidup lebih mudah.

Baca Juga: Kronologi Kecelakaan Maut di Jimbaran yang Rengut Nyawa Mahasiswi: Ini Identitas Korban

Saat mempersembahkan sodaan, segehan, laku ini dilakukan untuk berterima kasih kepada ibu Pertiwi yang telah menyediakan begitu banyak makanan bagi manusia.

“Termasuk di dalamnya ucapan terima kasih kepada Sarwa Prani, baik nampak (semut, burung, kucing, anjing) maupun tidak nampak. Tujuannya tiada lain agar semua makluk berbahagia (sarwa prani itang karah,” jelasnya.

Ia menambahkan, tidak hanya manusia saja yang makan enak, sementara melupakan makluk lainnya.

“Inilah yang disebut doa dalam tindakan, doa dalam laku, doa dalam praksis. Doa tanpa Tindakan, tanpa ekskusi, tanpa praksis adalah omong kosong,” paparnya.

Inilah salah satu kesantunan orang Hindu di Bali dalam merawat dan memelihara hubungan dengan sarwa prani dan alam semesta.

Baca Juga: Jawab Isu Program Kemungkinan Tak Disetujui DPRD, Dukungan Suyadinata Bergema di Sibangkaja

Misalnya kenapa yang dipersembahkan salah satunya berisi bawang-jahe. Demikian pula dengan unsur arak-berem. Jika diteliti tentu akan ditemukan anasir sains dalam laku tradisional masegehan.

Jadi masodaan, masegehan, dan mecaru serta melaksanakan berbagai ritus upacara lain berdasarkan kosmos kewaktuan adalah bentuk berterima kasih, bentuk kesantunan menempatkan sarwa prani sebagai saudara, serta pelaksanaan Sains tradisional Bali.

Dengan doa dalam bentuk laku seperti itu, umat Hindu memohon agar sarwa prani harmoni. Ini adalah pengetahuan meta, di balik sesuatu yang tampak dan terekspresi.

Untuk itu dibutuhkan energi intuasi di balik semua laku magis tadi, bukan rasio.

“Mempersembahkan sodaan, segehan, dan berbagai bentuk caru sesungguhnya tidak hanya berfungsi magis dan penuh kekuatan mana, tetapi sebagai penanda dan atau memperkuat identitas etnis,” paparnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#syukur #mesegeh #pertiwi #hindu bali