Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Ragam Motif Tenun Songket Jinengdalem, Simbol Penghormatan terhadap Leluhur

I Putu Mardika • Minggu, 13 Oktober 2024 | 20:43 WIB

Penenun Songket Jinengdalem
Penenun Songket Jinengdalem
BALIEXPRESS.ID-Ada bebebarapa motif yang dihasilkan para penenun Tenun Songket di Desa Jinengdalem, Kecamatan/Kabupate  Buleleng.

Mulai dari motif Bade, motif flora atau patra hingga motif wayang. Motif-motif tersebut juga tidak terlepas dari nilai-nilai filosofis yang dikenal masyarakat Jinengdalem dan sebagai penghormatan terhadap leluhur.

Dikatakan Ni Ketut Sriponi, ada motif Bade atau juga disebut wadah adalah sarana religius dalam upacara ngaben yang digunakan untuk membawa sawa atau jenasah ke setra.

Bentuk bangunan wadah/bade ini di hiasi oleh beragam ornamen Bali yang dalam dominasi ornamen patra punggel pada bangunan wadah/bade disebutkan dibagi menjadi tiga bagian yaitu Bagian kepala, Bagian badan, dan Bagian kaki.

Kemudian Motif flora atau patra adalah motif yang paling banyak digunakan dalam kain songket termasuk songket Bali.

Motif flora mencakup motif pohon, sulur- suluran, daun, bunga, biji-bijian dan tunas tumbuhan. Bunga secara umum bagi umat Hindu menggambarkan kesucian hati karena itu dipakai untuk memuja Sang Hyang Widhi dan para leluhur.

Patra adalah tumbuhan yang merambat dan menjalar sebagai bagian jejepan dari rumus perhitungan wariga dan dewasa ayu dalam kalender bali yang digunakan untuk menentukan hari baik berdasarkan wariga dan dewasa ayu.

Motif wayang merupakan motif yang menggunakan gambar-gambar manusia.

Baca Juga: Kain Tenun Songket Jinengdalem Pernah dipakai Presiden Jokowi, Masih Gunakan Cag Cag  

Tokoh-tokoh yang digambarkan dalam motif songket Bali ini adalah karakter yang berasal dari epos Mahabarata dan Ramayana.

“Motif motif seperti cili, wayang dan topeng merupakan simbol penghormatan kepada roh leluhur,” sebutnya.

Songket bermotif fauna atau karang menampilkan gambar-gambar berbagi jenis hewan.

Hewan-hewan ini melambangkan sifat-sifat sakral dari dewa-dewa dalam agama Hindu atau juga merupakan sahabat atau tunggangan para dewa.

Simbol-simbol hewan yang dianggap sakral antara lain singa, naga, sapi, angsa, buruk merak, manuk dewata, kupu-kupu dan sebagainya.

Poses pewarnaan alam yang dilakukan oleh kelompok pengrajin songket melalui beberapa tahapan.

Proses ekstraksi/pembuatan larutan zat warna alam perlu disesuaikan dengan berat bahan yang hendak diproses.

Sehingga jumlah larutan zat warna alam yang dihasilkan dapat mencukupi untuk mencelup bahan tekstil.

Sebelum dilakukan pencelupan dengan larutan zat warna alam pada kain katun dan sutera perlu dilakukan beberapa proses persiapan.

Yaitu proses mordanting melalui perebusan bahan-bahan alam, pembuatan larutan fixer (pengunci warna) dan proses pencelupan dengan zat warna alam setelah bahan di-mordanting dan larutan fixer siap maka proses pencelupan bahan tekstil dapat segera dilakukan melalui proses pencelupan bahan benang sutra ke dalam rebusan selama kurang lebih 30 menit sampai dengan 1 jam.

Ada beberapa tahapan yang dilakukan dalam produksi songket.

Baca Juga: Tari Ijang Kidung Keli di Tigawasa Ditarikan saat Usaba Kuningan Nadi, Simbol Syukur dan Kegembiraan

Pertama Benang sebagai bahan dasar songket dicuci dengan air kanji kemudian dijemur sampai kering.

Setelah kering lalu digulung dengan menggunakan “degkrek” dan “undar”.

Kemudian dilanjutkan dengan proses “anyinin” dengan alat “panyinan”. Selanjutnya proses suntik untuk dimasukkan ke sisir/serat.

Setelah itu proses disasah/dipanjangkan yang kemudian digulung dengan menggunakan pandalan.

“Tahap berikutnya adalah membuat motif dengan “guwon” Usai motif dibuat maka diteruskan dengan proses penenunan melalui ruas-ruas bambu di sepanjang bahan dasar benang,” tutupnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#tenun songket #Motif #bade #buleleng #jinengdalem