Tahap pertama diawali dengan Ngidih atau Memadik, di mana keluarga mempelai pria mengunjungi mempelai wanita dengan membawa banten (sesajen) dan langsung membawa mempelai wanita kerumah mempelai pria untuk dilakukan upacara selanjutnya.
Proses ngidih, juga dikenal sebagai memadik yang merupakan sebagian dari ritual Pawiwahan yang sangat sakral.
Selama proses ini, mempelai pria (purusa) akan mengunjungi rumah mempelai wanita (pradana) untuk meminta izin orang tuanya untuk meminang.
Dengan kata lain Ngidih atau memadik itu tentang kesiapan antara dua mempelai untuk membangun rumah tangga. Pernikahan kedua mempelai disaksikan oleh banyak saksi, termasuk Kelian Banjar dan Bendesa Desa Adat, yang sesuai dengan Desa, kala, dan patra.
Setelah kedua keluarga diberitahu, mempelai pria meminta waktu untuk berbicara dengan pendeta atau jro mangku untuk menentukan waktu dan merencanakan upacara berikutnya. Setelah upacara memadik atau ngidih selesai, mempelai pria membawa mempelai wanita langsung ke rumahnya.
Tokoh Adat Sembiran, Nengah Arijaya menjelaskan selanjutnya melakukan Upacara Kepus Pusar, Nelubulanin, Mitubulanin dan Ngotonin.
Baca Juga: Heboh! Ini Penjelasan Polda Bali Soal Kembang Api Finns Beach Club saat Warga Hindu Gelar Upacara
Upacara kepus pusar dimulai dengan mepiuning di depan Pura Peken, yang dilakukan oleh tukang banten atau keluarganya dengan membawa banten sebagai persembahan. Ia meminta bantuan para dewa untuk mempelai wanita yang menjadi bagian dari upacara.
Di Pura Peken ada Dewa Gede di Puncak, Dewa Bukit Gunung Sinunggal, dan Dewa Ngurah Balingkang.
Selanjutnya dilakukan mepiuning di Pura Janggotan. Para dewa dari pura ini, Ida Bhatara Janggotan (juga disebut I Ratu Bagus Janggotan), menerima doa dan sarana banten.
“Tukang banten duduk di samping pura yang mengarah ke laut, dan mereka meletakkan banten mereka di atas batu keramat. Tahap selanjutnya dekat candi teruna, adalah gerbang dari pura Desa yang mengarah ke bangsal pertemuan organisasi bujang teruna di dalam pura Desa,” katanya.
Tahap terakhir dari upacara ini dilakukan di bawah pohon kamboja di dekat pura Cungkub dengan mempersembahkan banten Guling.
Setelah upacara mepiuning selesai di sana, tukang banten keluarga menuju ke rumah mempelai untuk melakukan metebus terhadap mempelai wanita dengan mengikatkan benang putih di atasnya.
Sarana yang digunakan dalam upacara kepus pusar terhadap mempelai wanita yang berasal dari luar Desa Sembiran, yaitu banten wakul yang berisi nasi yang disembah di pura peken, pura janggotan, pura puseh, dan candi teruna.
Baca Juga: Kematian Gung Balang dan Istri, Polisi Duga Ada Pengaruh Narkoba, Pastikan Nihil Pelaku Lain
Upacara kepus pusar dilakukan dengan menggunakan banten ini untuk ngaturang piuning kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa.
Di dekat pura cungkub, atau lebih tepatnya di bawah pohon kamboja, banten sagian arepan dipersembahkan sebagai persembahan kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa untuk meminta keselamatan selama upacara kepus pusar.
Banten tebus berisi benang putih yang akan dililitkan dipergelangan mempelai wanita.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa upacara kepus pusar dilaksakan karena mempelai wanita dianggap masih kotor/cuntaka sehingga diperlukan upacara pembersihan dengan sarana upacara yang digunakan terdiri dari beberapa banten, yaitu banten sagian arepan dan guling yang digunakan untuk menyembah Tuhan untuk meminta keselamatan.
Upacara pawiwahan di Desa Adat Sembiran berbeda dari yang lain karena semua orang yang lahir di sana harus melalui kuta kurung. Oleh karena itu, jika mempelai wanita tidak berasal dari Desa Adat Sembiran, upacara harus dilakukan sejak bayi.
Masyarakat di Desa Adat Sembiran percaya bahwa kuta kurung adalah tanda kelahiran setiap orang yang tinggal di sana. Oleh karena itu, wanita yang dipinang oleh pria dari Desa ini harus dibuatkan banten ulang saat dia masih kecil.
“Setiap sanggah atau merajan memiliki kuta kurung yang berfungsi sebagai perlindungan bagi masyarakat Desa Adat Sembiran. Selanjutnya Upacara Nelubulanin,” sebutnya.
Bagi mempelai wanita yang tidak berasal dari Desa Sembiran, upacara nelubulanin dilakukan dalam dua tahap.
Neduh, proses pertama, dilakukan di pura merajan atau sanggah. Tujuannya adalah untuk membersihkan seluruh keluarga yang hadir, sementara mempelai wanita tidak hadir selama upacara ini.
Pada tahap ini, leluhur diberikan banten dan tempat duduk mereka dibersihkan dengan air suci. Tahap kedua dari upacara Natab dilakukan di kamar suci. Mempelai wanita dan anggota keluarganya mengikuti prosedur ini selama proses natab. (dik)
Editor : I Putu Mardika