BALIEXPRESS.ID - Sejak beberapa tahun terakhir, Pura Pajinengan Gunung Tap Sai semakin ramai dikunjungi umat Hindu dari berbagai penjuru Bali.
Pemandangan yang menarik terjadi saat purnama dan tilem, di mana pamedek berbondong-bondong datang hingga tengah malam, menjadikan pura ini salah satu destinasi spiritual yang paling diminati.
Pura Tap Sai, yang berlokasi di Dusun Puragae, Desa Pempatan, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, Bali, memiliki daya tarik mistis yang memikat.
Terletak di lereng Gunung Agung, pura ini lebih mudah diakses meskipun berada di tengah hutan lebat.
Jalur menuju pura, yang melalui Rendang-Kubu, sudah diaspal hingga area jaba pura, membuat perjalanan menuju tempat suci ini cukup nyaman.
Salah satu pemangku setempat, Jro Mangku Santa, mengungkapkan bahwa nama asli pura ini sebenarnya Pura Pajinengan.
Nama Tap Sai sendiri muncul dari kebiasaan warga yang sering menyebutnya demikian. Namun, ada kisah menarik di balik nama unik ini. Menurut Jro Mangku Santa, istilah Tap Sai berasal dari frasa "matapa sesai" atau yang berarti "bertapa setiap hari."
Seiring waktu, frasa ini mengalami perubahan pelafalan hingga menjadi Tap Sai.
"Meskipun terdengar seperti nama asing, Tap Sai tidak ada hubungannya dengan Cina. Itu hanya pelafalan dari matapa sai-sai yang berubah," jelas Mangku Santa dengan senyum simpul.
Sejarah Misterius Pura Pajinengan
Pura ini dipercaya sudah ada sejak lama, meskipun tak ada catatan pasti kapan pura ini didirikan.
Menurut Jro Mangku Santa, yang kini berusia 54 tahun, ia telah mengenal pura ini sejak kecil, meskipun bangunannya dulu sangat sederhana.
Namun, sejak renovasi besar yang dilakukan pada tahun 2000-an, termasuk upacara besar yang diadakan pada tahun 2014, pura ini semakin terawat dan memiliki banyak palinggih baru.
Sejak saat itu, semakin banyak umat yang datang untuk nangkil.
Yang menarik, Pura Pajinengan merupakan tempat berstana tiga dewi penting dalam agama Hindu, yaitu Dewi Saraswati, Dewi Sri, dan Dewi Laksmi, yang juga dikenal sebagai Bhatara Rambut Sedana atau sering disebut Tri Upa Sedana.
Jro Mangku Santa mengungkapkan, banyak pamedek yang datang ke pura ini untuk memohon berkah, baik itu kesuksesan dalam bisnis, atau bahkan untuk mendapatkan keturunan, terutama di palinggih Lingga Yoni yang diyakini memiliki kekuatan spiritual khusus.
Alur Sembahyang yang Harus Dipatuhi
Bagi para pamedek yang ingin nangkil ke pura ini, ada aturan yang harus diikuti dengan ketat.
Mangku Santa menekankan pentingnya menjalani prosesi sembahyang sesuai tahapan, mulai dari palinggih Ratu Penyarikan Pengadang-adang di bagian bawah, kemudian menuju palinggih Ratu Gede Mekele Lingsir, hingga ke Widyadara-Widyadari.
Setelah itu, para pamedek melanjutkan ke Dalem Ped, sebelum menuju beji untuk melakukan malukat atau penyucian diri dengan tirta bang, salah satu jenis tirta yang ada di pura ini.
Yang menarik, Pura Tap Sai memiliki tiga jenis tirta yang diambil dari sumber air berbeda, yaitu tirta bang, tirta selem, dan tirta putih.
Namun, tirta putih ini masih harus didaki untuk bisa diambil, sedangkan tirta lainnya sudah tersedia di areal utama mandala.
Setelah ritual malukat, barulah pamedek diperbolehkan masuk ke madya mandala, di mana terdapat palinggih Ganesha, atau dikenal sebagai Sanghyang Gana.
Puncak sembahyang di pura ini dilakukan di utama mandala, yang merupakan tempat berstana Ida Bhatari Tri Upa Sedana dan Lingga Yoni.
Pesan Penting Bagi Pamedek
Mangku Santa menegaskan bahwa mengikuti alur sembahyang ini sangat penting agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
"Secara skala, ini seperti meminta izin dulu kepada yang di bawah sebelum masuk ke dalam pura," ungkapnya.
Hal ini menambah aura misteri dan keagungan dari pura ini, menjadikan setiap pamedek merasakan pengalaman spiritual yang mendalam.
Bagi mereka yang ingin mencari ketenangan dan keberkahan di Pura Tap Sai, memahami sejarah dan mengikuti tata cara sembahyang yang tepat adalah kunci agar perjalanan spiritual mereka berjalan lancar.
Tidak heran jika Pura Tap Sai kini menjadi magnet spiritual bagi umat Hindu di Bali, yang datang dengan berbagai harapan dan doa, menghidupkan kembali tradisi dan keyakinan yang telah ada sejak dulu kala.
Siapkah Anda merasakan kekuatan spiritual di lereng Gunung Agung? ***
Editor : I Putu Suyatra