Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Keberadaan Sanggah Surya: Lambang Kehadiran Dewa Surya dalam Tradisi Yadnya Hindu Bali

I Putu Suyatra • Jumat, 18 Oktober 2024 | 00:02 WIB

Sanggah Surya
Sanggah Surya

BALIEXPRESS.ID - Di Bali, umat Hindu memberikan posisi istimewa bagi Dewa Surya, salah satu dari 33 Dewa yang disebut dalam Rg. Weda. Hal ini terlihat jelas dalam praktik keagamaan mereka, terutama dengan ditempatkannya Sanggah Surya dalam berbagai upacara Yadnya.

Sanggah Surya tidak hanya menjadi simbol, tetapi juga mencerminkan kehadiran Dewa Surya dalam aktivitas spiritual masyarakat Bali.

Apa Itu Sanggah Surya?

Sanggah Surya, yang juga dikenal sebagai Sanggah Agung di beberapa daerah, terdiri dari dua kata: Sanggah, yang berarti sumber, dan Agung, yang menunjukkan kewibawaan Sang Hyang Siwa Raditya, yaitu Dewa Surya.

Ukuran Sanggah Surya umumnya lebih tinggi dari pinggang manusia, bahkan dalam upacara Yadnya, sanggah ini dibuat lebih tinggi dari bangunan tempat upacara berlangsung.

Menurut I Gede Anom Ranuara, seorang budayawan asal Denpasar, Sanggah Surya dibangun menggunakan empat batang bambu yang ditancapkan di sisi Timur Laut atau arah kaje kangin.

Posisi ini merujuk pada pembagian pekarangan menurut prinsip Asta Kosala-Kosali, di mana arah kaje kangin adalah titik pertemuan antara yang utama dengan yang utama, sering disebut sebagai arah Dewata.

Pentingnya Sanggah Surya dalam Upacara Yadnya

Sanggah Surya memiliki peranan yang sangat penting dalam pelaksanaan upacara Yadnya, terutama yang menggunakan banten Bebangkit yang dipuput oleh seorang Sulinggih.

Anom menjelaskan bahwa tanpa kehadiran Sanggah Surya, upacara Yadnya dianggap belum lengkap.

Keberadaan Sanggah Surya sangat vital sebagai upasaksi, yang terlihat saat Panca Sembah, di mana setelah sembah puyung, umat Hindu mempersembahkan bunga putih kepada Dewa Surya sebagai saksi dari persembahyangan.

“Begitu halnya Panca Sembah, yang juga merupakan yadnya, meski skalanya lebih kecil,” jelas Anom.

Mengenal Sanggah Tawang

Selain Sanggah Surya, ada juga Sanggah Tawang. Dalam pengertian ini, Sanggah berarti sumber, dan Tawang mengisyaratkan kesunyian.

Sanggah Tawang, yang terbuat dari bambu berbentuk segi empat panjang dan memiliki pinggiran yang disebut ancak saji, tidak memiliki atap dan terdiri dari tiga ruang.

Ini melambangkan Dewa Surya dalam konteks Tri Sakti, yaitu Dewa Brahma, Dewa Wisnu, dan Dewa Siwa.

Sanggah Tawang digunakan dalam upacara dengan tingkatan Utama, seperti Tawur Agung dan Padudusan Agung.

Sanggah ini menggambarkan manifestasi Sang Hyang Widhi, sebagai permohonan umat Hindu dalam upacara agama.

Dalam Pustaka Bhuwana terdapat sloka yang mengisahkan tentang alam sunia yang sakti, yang disebut Sang Hyang Siwa.

Makna Mendalam Sanggah Surya dan Tawang

Makna Sanggah Tawang sebagai simbol stananya Sang Hyang Widhi, serta Sanggah Surya yang menunjukkan kehadiran Dewa Surya, sangat erat kaitannya dengan Tri Sakti dan Tri Murti.

Hal ini mencerminkan kearifan lokal dan spiritualitas mendalam yang telah menjadi bagian integral dari kehidupan masyarakat Bali.

Dengan pemahaman ini, kita bisa melihat bagaimana tradisi dan keyakinan umat Hindu di Bali tidak hanya berbasis pada ritual semata, tetapi juga mencerminkan hubungan yang kuat antara alam, dewa, dan manusia.

Keberadaan Sanggah Surya dan Sanggah Tawang merupakan bentuk penghormatan dan pengakuan terhadap kekuatan spiritual yang ada di sekitarnya. *** 

 

Editor : I Putu Suyatra
#bali #yadnya #hindu #sanggah #Surya