Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Keunikan Tempat Suci Hindu Bali, Pura Sari Abangan: Ritual dan Tradisi yang Menarik di Pulau Dewata

I Putu Mardika • Jumat, 18 Oktober 2024 | 01:47 WIB
Pura Sari Abangan, yang terletak di Banjar Ancak, Desa Bungkulan, Kecamatan Sawan, Buleleng
Pura Sari Abangan, yang terletak di Banjar Ancak, Desa Bungkulan, Kecamatan Sawan, Buleleng

BALIEXPRESS.ID - Keberadaan tempat suci Hindu Baliu, Pura Sari Abangan, yang terletak di Banjar Ancak, Desa Bungkulan, Kecamatan Sawan, Buleleng, menyimpan berbagai keunikan yang patut diketahui.

Salah satu hal menarik dari pura ini adalah ritual Pujawali yang diadakan setiap Purnama Kapat (bulan Oktober) tidak boleh dipuput oleh Sulinggih, melainkan oleh Prawayah atau Kubayan.

Namun, apa yang membuat tradisi ini begitu istimewa?

Rangkaian Pelinggih yang Menyimpan Makna

Di dalam Pura Sari Abangan terdapat delapan pelinggih, di antaranya adalah Dewa Agung Ngurah Sesuhunan, Dewa Agung Wayan, dan Ratu Peranda Sakti.

Keberadaan Ratu Peranda Sakti sangat menarik karena posisi pelinggihnya yang terletak di pojok selatan Utama Madala, di mana terdapat patung Sulinggih yang duduk bersila.

Menurut Pangempon Pura, Nyoman Suma Argawa, pura ini diperkirakan dibangun pada abad ke-8 hingga ke-11, sebelum kedatangan Kerajaan Majapahit ke Bali.

"Tidak ditemukan pelinggih Surya di sini, yang menunjukkan bahwa pura ini memiliki akar sejarah yang sangat dalam," jelasnya.

Kepercayaan yang Mengikat

Menariknya, bagi siapa pun yang mengambil pesaren (wanita untuk dijadikan istri) dari Banjar Ancak, mereka wajib ngerama di Pura Sari Abangan. Ini menjadi syarat yang tidak bisa diabaikan.

"Setiap pria yang menikahi wanita dari Banjar Ancak harus ngerama di sini. Jika tidak, mereka akan mengalami kesakitan atau kesialan," tambah Suma Argawa.

Tradisi ini menciptakan keterikatan yang kuat antara pura dan komunitasnya, sehingga jumlah pengempon pura ini mencapai ribuan, tidak hanya dari Bungkulan, tetapi juga dari seluruh Bali dan bahkan Lombok.

Dewa Agung Wayan: Dewa Penghukum yang Ditakuti

Salah satu pelinggih yang menonjol adalah Dewa Agung Wayan, yang dikenal sebagai dewa penghukum yang tegas.

"Wajahnya yang menyeramkan dan sikapnya yang keras membuatnya sangat dihormati," ungkap Suma Argawa.

Dewa ini menjadi simbol keadilan bagi masyarakat, yang sangat menghindari kesalahan untuk menghindari konsekuensi berat.

Upacara Pujawali yang Memikat

Setiap piodalan yang jatuh pada Purnama Kapat, pura ini dimeriahkan dengan berbagai tarian sakral seperti Tari Baris Omang, Baris Badrangan, dan Baris Pendet.

Pujawali ini tidak hanya sekadar ritual, tetapi juga merupakan perayaan budaya yang mengikat komunitas dalam kebersamaan dan keharmonisan.

Rencana Restorasi untuk Melestarikan Sejarah

Demi menjaga kelestarian pura ini, para pengempon berencana melakukan restorasi untuk mengembalikan bentuk asli beberapa bangunan.

"Kami ingin mengembalikan Pura Sari Abangan ke bentuk semula, menciptakan identitas yang kuat untuk Bali Utara," kata Suma Argawa.

Dengan tujuan menjadikan pura ini sebagai cagar budaya, upaya ini diharapkan bisa melestarikan warisan sejarah dan spiritual yang sangat berharga bagi generasi mendatang.

Penelitian untuk Melestarikan Budaya

Made Purna, Peneliti Utama Balai Pelestari Nilai Budaya Bali-NTB-NTT, mengungkapkan bahwa mereka masih melakukan pengamatan awal dan menemukan banyak bangunan pura yang masih utuh dan tradisional.

"Bangunan Pura Sari Abangan adalah warisan kuno yang harus dipertahankan dan dilestarikan oleh generasi muda," tegasnya.

Dengan segala keunikan dan tradisi yang ada, Pura Sari Abangan bukan hanya sekadar tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat budaya dan sejarah yang menarik untuk dieksplorasi.

Siapkah Anda menyelami lebih dalam keindahan dan keunikan pura ini? *** 

 

Editor : I Putu Suyatra
#bali #pura sari abangan #sulinggih #Buleleleng #hindu