Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Cara Mengatasi Tangisan Malam Bayi: Alasan Bayi Digemari Praktisi Ilmu Gaib Negatif

I Putu Suyatra • Jumat, 18 Oktober 2024 | 02:33 WIB
ilustrasi
ilustrasi

 

BALIEXPRESS.ID - Menjaga bayi mungkin terdengar sederhana, namun sebenarnya penuh tantangan. Sering kali, orang tua dan pengasuh menemukan diri mereka dalam situasi membingungkan, terutama saat bayi mereka menangis tak wajar pada malam hari.

Meski sudah diperiksa secara medis dan dinyatakan sehat, tangisan si kecil sering kali membuat bingung. Lantas, apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana cara menanganinya?

Fenomena Menangis Malam di Bali

Di Bali, fenomena ini tidaklah asing. Keluarga yang baru saja dikaruniai anak sering kali mengalami situasi di mana bayi mereka menangis dengan intens, terutama saat menjelang malam.

Dalam budaya Bali, bayi diperlakukan dengan sangat hati-hati, baik dari segi medis maupun ritual.

Ritual ini melibatkan perlakuan khusus terhadap bayi, ari-ari, dan ibu yang baru melahirkan.

Kepercayaan terhadap Makhluk Halus

Akademisi dari UHN Sugriwa Denpasar, Dr. I Made Adi Surya Pradnya, atau lebih dikenal dengan sebutan Jro Dalang Nabe Roby, mengungkapkan bahwa masyarakat Bali percaya bahwa bayi, sebagai sosok yang masih suci, rentan terhadap gangguan makhluk halus atau orang yang menggunakan ilmu hitam.

Dalam Kanda Pat Rare, bayi dianggap sebagai “makanan empuk” bagi mereka yang mengamalkan ilmu gaib negatif.

"Baunya sangat enak, seperti masakan," ungkap Jro Dalang, merujuk pada aroma bayi baru lahir yang konon bisa menarik perhatian makhluk halus.

Ritual untuk Melindungi Bayi

Melindungi bayi dari gangguan makhluk halus bukan hanya tugas medis, tetapi juga ritual.

Dalam kepercayaan ini, setiap bayi lahir bersama Catur Sanak, empat saudara yang terdiri dari air ketuban (Anggapati), darah (Mrajapati), ari-ari (Banaspati), dan lapisan lemak janin (Banaspati Raja).

Keempat saudara ini diyakini menemani dan menjaga kehidupan bayi, sehingga perlakuan khusus terhadap mereka sangat diperlukan.

Ari-ari, misalnya, harus dikubur di pekarangan dengan berbagai ritual, termasuk penutupan menggunakan batu dan pandan berduri, serta pemberian sesajen dan penerangan.

"Ini penting untuk melindungi bayi dari gangguan," jelas Jro Dalang.

Upaya Mengatasi Tangisan Malam

Jika semua ritual telah dilakukan tetapi bayi tetap menangis pada jam-jam tertentu, terutama saat tengah malam, maka ada kemungkinan gangguan gaib terjadi.

Menurut Jro Dalang, ada beberapa langkah yang bisa diambil:

  1. Memberikan Sesajen: Setiap hari, Sang Hyang Rare Kumara harus dibantenin dengan sesajen dan mainan. Jika bayi menangis tepat pada tengah malam, buatkan segehan kepelan berisi nasi wong-wongan di bawah tempat tidurnya sebagai tanda penghormatan.

  2. Menggunakan Air Klebutan: Air dari mata air atau sumur dapat digunakan untuk menyucikan bayi. Air ini dilemparkan ke atap dapur dan ditadah untuk dipercikkan kepada bayi sebagai tirtha yang dapat membakar energi negatif.

  3. Bersihkan Rumah: Sebelum bayi dibawa pulang, penting untuk membersihkan rumah dan menyampaikan bahwa akan ada anak kecil yang tinggal di sana agar semua makhluk ikut menjaga.

Pentingnya Ikatan Emosional

Terlepas dari semua ritual dan cara yang telah dijelaskan, Jro Dalang menekankan bahwa sentuhan dan pelukan seorang ibu sangatlah penting.

"Antara bayi dan ibu ada ikatan jiwa yang kuat, jadi pelukan seorang ibu sangatlah menenangkan," tuturnya.

Dengan memahami kepercayaan dan praktik budaya ini, orang tua dapat lebih tenang dalam merawat si kecil. Apakah Anda memiliki pengalaman serupa? Bagikan cerita Anda! *** 

 

 

Editor : I Putu Suyatra
#ritual #bali #bayi #Catur sanak #Kanda Pat #segehan #menangis