Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Posisi Dapur di Lereng Selatan Gunung Batukaru, Apa Alasannya Berbeda dari Tradisi Hindu Bali?

I Putu Suyatra • Sabtu, 19 Oktober 2024 | 01:44 WIB
Dapur
Dapur

BALIEXPRESS.ID - Posisi dapur di rumah-rumah masyarakat Hindu di Bali umumnya selalu berada di sisi selatan pekarangan.

Hal ini selaras dengan keyakinan bahwa arah selatan merupakan tempat Dewa Brahma, penguasa api, yang juga dipercaya sebagai pelindung dapur.

Namun, ada yang unik dan menarik perhatian di lereng selatan Gunung Batukaru.

Masyarakat di Banjar Puluk Puluk, Desa Tengkudak, Kecamatan Penebel, Tabanan, Bali, justru menempatkan dapur mereka di sisi utara. Apa alasan di balik perbedaan ini?

Seperti yang dijelaskan oleh I Nengah Susana Yasa, Tokoh Adat Desa Pekraman Puluk Puluk, penempatan dapur di sebelah utara merupakan bentuk penghormatan khusus kepada Ida Bhatara di Batukaru atau Sang Hyang Tumuwuh, yang dipercaya sebagai manifestasi Tuhan dalam aspek yang menumbuhkan kehidupan.

Menurut cerita turun-temurun dari leluhur, wilayah selatan Gunung Batukaru ini memang memiliki keistimewaan, sehingga tradisi lokal memposisikan dapur di utara, berbeda dari kebiasaan masyarakat Bali lainnya.

Keunikan ini tidak hanya terlihat di Banjar Puluk Puluk, tetapi juga di desa-desa lainnya yang berada di utara Sungai Yeh Kilang Kilung.

"Di seluruh desa yang ada di lereng selatan Gunung Batukaru, dapur masyarakatnya selalu ada di sebelah utara, bukan di selatan seperti kebiasaan umum," tambah Susana Yasa.

Alasan praktis juga menjadi faktor penting. Mengingat daerah ini berada di ketinggian dengan suhu yang lebih dingin, dapur yang dibangun di sisi utara seringkali menyatu dengan ruang tidur, menjaga kehangatan di dalam rumah.

Namun, yang lebih menarik adalah kisah mistis yang dialami oleh salah seorang warga Banjar Puluk Puluk.

Ia mengalami rentetan musibah, sakit, dan kesulitan ekonomi setelah membangun dapurnya di sisi selatan.

Setelah berkonsultasi dengan seorang tokoh spiritual, diketahui bahwa posisi dapur tersebut yang dianggap bermasalah. Setelah dapur dipindahkan ke utara, keadaan perlahan membaik.

"Itulah yang membuat kami semakin yakin dengan tradisi ini," tegas Susana Yasa.

Keunikan posisi dapur di lereng selatan Gunung Batukaru ini menjadi bukti betapa tradisi dan kearifan lokal masyarakat Bali memiliki makna mendalam, sekaligus menjadi kisah menarik yang penuh misteri.

Akankah fenomena ini menjadi daya tarik baru bagi para peneliti dan wisatawan? *** 

 

Editor : I Putu Suyatra
#bali #dapur #gunung batukaru #hindu #tabanan