Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tumpek Landep: Upacara Suci Hindu Bali Penuh Makna, Ada yang Kian Terlupakan

I Putu Suyatra • Sabtu, 19 Oktober 2024 | 14:21 WIB
Keris
Keris

BALIEXPRESS.ID - Tumpek Landep, hari suci umat Hindu di Bali, dikenal sebagai momen istimewa terutama bagi mereka yang memiliki pusaka warisan leluhur.

Upacara ini erat kaitannya dengan Pasupati dan dipercaya membawa anugerah kecerdasan serta ketajaman intelektual bagi manusia.

Namun, di balik ritual yang penuh makna ini, ada cerita yang jarang diketahui banyak orang, dan bahkan terkesan semakin terlupakan oleh generasi saat ini.

Asal kata "Tumpek" sendiri berasal dari 'Tampa' yang berarti turun, sedangkan "Landep" mengacu pada sesuatu yang tajam atau lancip.

Secara spiritual, Tumpek Landep melambangkan turunnya kekuatan Hyang Widi ke dunia untuk memberikan anugerah intelegensi kepada makhluk hidup.

Ritual ini diadakan setiap Sabtu Kliwon Wuku Landep, atau setiap enam bulan sekali, dan memiliki makna mendalam yang berhubungan dengan keseimbangan spiritual dan kehidupan manusia.

Namun, dalam pelaksanaannya, makna suci dari upacara ini sering kali dilupakan, terutama terkait dengan simbol-simbol pusaka seperti keris.

Ida Pedanda Gde Manara Putra Kekeran menegaskan bahwa keris bukan sekadar senjata tajam, melainkan simbol Tri Bhuwana—Bhuwana Agung dan Bhuwana Alit—yang menghubungkan dunia fana dan dunia spiritual.

Keris dianggap sakral, dengan tiga mata pisau yang melambangkan kekuatan Brahma, Wisnu, dan Siwa.

Sayangnya, semakin banyak umat Hindu yang tidak lagi memiliki senjata keris sebagai simbol suci.

Banyak keris warisan justru dijual, bahkan hingga ke tangan orang asing.

Padahal, menurut Ida Pedanda, pelaksanaan Tumpek Landep seharusnya melibatkan penggunaan keris sebagai bagian dari tradisi yang mendalam dan sakral.

"Sejatinya, keris merupakan simbol kekuatan spiritual yang terhubung dengan kebenaran. Dalam setiap upacara Hindu, keris seringkali digunakan, mulai dari upacara perkawinan hingga pemurnian bangunan suci," tambahnya.

Tidak hanya itu, pelaksanaan Tumpek Landep juga dilakukan di Merajan atau Kemulan dengan sarana sesajen seperti Tumpeng abang, Pajati, dan berbagai banten suci lainnya.

Meskipun ritual ini kaya akan makna, generasi muda cenderung mengabaikan atau tidak lagi memahami nilai spiritual yang terkandung di dalamnya.

Pada Hari Suci Tumpek Landep, penyucian benda pusaka seperti keris, tombak, dan genta menjadi bagian penting dari ritual.

Keluarga keturunan Pande bahkan melaksanakan upacara dengan skala lebih besar, sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur dan simbol kekuatan Sang Hyang Pasupati.

Namun, dengan banyaknya pusaka yang terjual dan berpindah tangan, akankah makna suci Tumpek Landep semakin terlupakan?

Mampukah generasi muda mengembalikan nilai-nilai tradisi yang kian memudar ini? Di tengah arus modernisasi, upacara yang sakral ini tetap menjadi pengingat akan pentingnya menjaga warisan leluhur dan keseimbangan antara dunia fana dan alam baka. *** 

 

Editor : I Putu Suyatra
#bali #keris #hindu #Tumpek Landep