Putu Ariyasa Darmawan, akademisi dari STAHN Mpu Kuturan, menjelaskan bahwa secara fisik, uang logam ini berbentuk bulat dengan lubang segi empat di tengah.
Bentuk bulat melambangkan langit atau surga, sementara lubang segi empat melambangkan bumi.
Menurut Ariyasa, berbagai sumber sejarah mencatat bahwa uang kepeng yang beredar di Bali berasal dari Tiongkok dan pertama kali diterbitkan oleh Dinasti Zhou (1027-221 SM).
Konsep langit dan bumi yang tercermin dalam bentuk uang ini juga berkaitan dengan ideologi Tiongkok kuno, yang berlandaskan doktrin Tian Ming (mandat dari langit), yakni penguasa tertinggi adalah penguasa langit.
Setiap dinasti di Tiongkok menerbitkan uang kepeng dengan nama sesuai dinastinya. Misalnya, Dinasti Qin (221-206 SM) menerbitkan uang logam bernama ban-liang, sementara Dinasti Han (206-220 SM) mengeluarkan uang wu zhu, dan Dinasti Tang (618-907 M) menerbitkan uang Kai yuan tong bao.
Pada masa Dinasti Song (960-1279 M), sebanyak 137 jenis mata uang logam dicetak, masing-masing dengan gaya tulisan yang berbeda.
Dinasti Ming kemudian mencetak uang dengan tulisan da zhong dan hong wu, yang diekspor secara besar-besaran, termasuk ke Indonesia.
“Uang kepeng sampai di Indonesia, khususnya Bali, melalui para pedagang Tiongkok, menunjukkan bahwa hubungan dagang antara Bali dan Tiongkok sudah terjalin sejak Dinasti Han,” katanya.
Perdagangan ini bermula dari pelabuhan-pelabuhan di Bali Utara, seperti Desa Julah dan Manasa di Buleleng Timur, serta di Bali Selatan, seperti Banjar Belanjong, Desa Sanur, Denpasar.
Perdagangan kemudian meluas hingga ke desa-desa di pedalaman, seperti Renon di Denpasar dan Desa Sukawana di Kintamani.
Pada masa Bali Kuno, abad ke-8 hingga abad ke-14 Masehi, uang kepeng berfungsi sebagai alat tukar, menggantikan sistem barter yang digunakan masyarakat prasejarah Bali sebelumnya.
Selain dari Tiongkok, uang kepeng yang beredar di Bali juga berasal dari Jepang dan Nusantara, dengan berbagai jenis seperti pis gebogan, pis jaring, pis lumrah, pis krinyah, pis koci, pis lembang, dan pis wadhon.
Di masa lalu, uang kepeng banyak digunakan di pusat-pusat perdagangan di Bali, seperti pelabuhan Buleleng dan pelabuhan Blanjong di Sanur, dan berfungsi sebagai alat pembayaran hingga tahun 1950-an.
“Meskipun tidak lagi berfungsi sebagai alat pembayaran, uang kepeng tetap digunakan dalam kehidupan masyarakat Bali hingga saat ini,” sebutnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika