Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Catat!Uang Kepeng Suci dan Tidak Terkena Cuntaka, Ini Alasannya

I Putu Mardika • Senin, 21 Oktober 2024 | 05:19 WIB

Uang Kepeng atau Pis bolong yang vital dalam ritual Hindu
Uang Kepeng atau Pis bolong yang vital dalam ritual Hindu
BALIEXPRESS.ID-Uang kepeng dianggap sebagai benda yang suci dan tidak terkena cuntaka atau kotor secara spiritual, sehingga sering digunakan dalam berbagai ritual keagamaan di Bali. Uang ini juga dianggap sebagai "pinaka suteja," yang berarti seperti sinar atau cahaya.

Menurut Dosen STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Putu Ariyasa Darmawan, kesucian uang kepeng yang diibaratkan seperti cahaya merupakan salah satu alasan mengapa uang ini masih digunakan secara luas dalam masyarakat Bali hingga sekarang.

Penggunaan uang kepeng dalam upacara keagamaan mencerminkan konsep jinah dan artha yang disebutkan dalam lontar-lontar keagamaan atau lontar yadnya.

Misalnya, dalam Lontar Mpu Kuturan 1a-2b, disebutkan berbagai benda upacara, termasuk uang yang nilainya berbeda-beda tergantung tingkatannya, yaitu utama (8000), madya (4000), dan nista (1700).

Meskipun dalam lontar tidak disebutkan secara spesifik istilah uang kepeng atau keteng, istilah artha atau jinah sering kali merujuk pada uang kepeng.

Penggunaan uang kepeng dalam upacara keagamaan merupakan bentuk pelaksanaan dari aturan yang tercantum dalam lontar tersebut.

"Pemanfaatan uang kepeng juga ditemukan dalam lontar Kesuma Dewa dan lontar Sukma Agama Tirta," sebutnya.

Lontar Kesuma Dewa memberikan ketentuan berkait dengan penggunaan uang kepeng yang ditanam sebagai dasar bangunan tempat suci.

Bila yang utama menggunakan 700 keping, madya 225 keping dan nista 125 keping. Berbeda dengan lontar Kesuma Dewa, lontar Agama Tirta memberikan keterangan penggunaan uang kepeng berkaitan dengan upacara pengabenan terutama terkait dengan pengeringkesan, membungkus jenasah

Dalam konteks sesajen, uang kepeng berfungsi sebagai sesari, yang berasal dari kata "sari" yang berarti inti.

Dalam sesajen, sesari adalah representasi dari nilai tertinggi dalam persembahan kepada Tuhan, dan biasanya diwujudkan dalam bentuk uang kepeng.

Meskipun banyak uang logam modern beredar, masyarakat Bali lebih memilih uang kepeng sebagai sesari, mungkin karena makna filosofisnya, di mana bentuk bulatnya melambangkan langit atau surga, dan lubang segi empat di tengahnya melambangkan bumi.

“Uang kepeng, sebagai simbol langit dan bumi, juga dianggap melambangkan kesementaraan dan keabadian,” katanya.

Selain berfungsi sebagai sesari, uang kepeng juga dirangkai menjadi bentuk praraga, yang merupakan representasi dewa Rambut Sedana, dewa ekonomi dan kemakmuran.

Rangkaian uang kepeng dalam sesajen atau praraga selalu mengedepankan aspek keindahan dan kemewahan, karena persembahan kepada Sang Hyang Widhi haruslah yang paling indah dan mewah.

Uang kepeng juga sering digunakan sebagai jimat. Jimat ini disebut "pis jimat" dan biasanya dihiasi dengan rerajahan (gambar berkekuatan magis) serta aksara suci.

Beberapa jenis pis jimat termasuk pis Jogor Manik, pis Hanoman, pis Kresna, pis Dedari, pis Rama, pis jaran, pis Arjuna, dan lainnya.

“Pis jimat diyakini dapat memberikan penggunanya karisma, kecantikan, ketampanan, dan memenuhi keinginan-keinginan lainnya,” tutupnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#bali #lontar #Cuntaka #hindu #uang kepeng