Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

10 Fakta Menarik Geguritan: Puisi Tradisional Bali yang Penuh Makna dan Kehidupan

I Putu Suyatra • Senin, 21 Oktober 2024 | 19:59 WIB
Geguritan Nengah Jimbaran
Geguritan Nengah Jimbaran

BALIEXPRESS.ID - Pernahkah Anda mendengar tentang Geguritan atau Pupuh? Geguritan adalah nyanyian tradisional Bali yang menggunakan bahasa Bali, dikenal karena syairnya yang sederhana namun kaya akan petuah kehidupan. Salah satu contoh yang terkenal adalah Geguritan Nengah Jimbaran.

Sebagai salah satu jenis kesusastraan Bali, Geguritan masih dipertahankan dan dinikmati oleh masyarakat dalam berbagai ritual keagamaan dan acara budaya.

Tercatat dalam lontar Gita Sancaya, Geguritan sejatinya adalah puisi yang mengikuti kaidah mantra.

Dalam kesusastraan Purwa ini, kita menemukan bentuk tembang atau nyanyian yang memikat.

Putu Eka Gunayasa, S.S., M.Hum, seorang ahli lontar dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana, menjelaskan bahwa Geguritan biasanya memiliki sejumlah suku kata dalam setiap baris yang disebut wilangan, serta beberapa baris dalam satu bait yang dikenal sebagai guru atau guru gatra.

Ia menambahkan bahwa Geguritan juga memiliki pola ritme yang konsisten dan pola nada akhir yang serupa dalam setiap baris, yang dikenal sebagai guru ding – dung.

Menariknya, Gunayasa menyebutkan bahwa saat ini Geguritan semakin populer di kalangan masyarakat karena bahasa yang digunakan mudah dipahami dan temanya yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.

“Geguritan menceritakan petuah, kesetiaan raja, cinta, dan bahkan kehancuran kerajaan,” ungkapnya saat diwawancarai oleh Bali Express.

Salah satu Geguritan yang paling menarik perhatian adalah Geguritan Nengah Jimbaran, yang ditulis oleh Raja Badung pada masa lalu.

Karya ini menggambarkan rasa cinta dan kehilangan yang mendalam, menceritakan kisah seorang pria bernama Nengah Jimbaran yang kehilangan istrinya akibat wabah kolera yang melanda.

Ditemukan pada tahun 1903 caka dan disalin kembali pada 1928 masehi, geguritan ini menggunakan bahasa Melayu, sebuah pilihan yang langka untuk karya sastra saat itu yang umumnya menggunakan bahasa Bali atau Jawi kuna.

Dalam Geguritan ini, Nengah Jimbaran digambarkan sebagai seorang yang hidup dalam kemakmuran sebelum wabah menyerang.

Namun, saat wabah kolera melanda, ia merasakan penderitaan yang mendalam ketika melihat istrinya menderita penyakit yang tak terobati.

Kekuatan emosional dalam kisahnya membuatnya terpaksa melakukan tapa brata, hingga akhirnya bisa bertemu kembali dengan sang istri di akhir syair.

Geguritan umumnya digunakan dalam berbagai ritual keagamaan, seperti manusia yadnya dan pitra yadnya.

Gunayasa menjelaskan bahwa dalam pelaksanaannya, setiap jenis Geguritan memiliki makna dan penggunaan yang berbeda-beda, mencerminkan tahap kehidupan atau upacara yang sedang berlangsung.

Dengan keindahan bahasa dan kedalaman makna yang terkandung dalam setiap baitnya, Geguritan menjadi salah satu warisan budaya Bali yang terus dihayati dan dilestarikan.

Jika Anda ingin merasakan keindahan dan kedalaman Geguritan, kini saatnya menjelajahi keunikan sastra Bali yang kaya akan petuah dan kehidupan ini!

Berikut adalah beberapa fakta menarik tentang Geguritan yang dapat memperkaya pemahaman Anda:

  1. Asal Usul dan Bentuk: Geguritan berasal dari tradisi lisan Bali dan termasuk dalam kesusastraan Purwa. Ini merupakan bentuk tembang atau nyanyian yang mengandung makna filosofis dan petuah kehidupan.

  2. Pola Struktur yang Unik: Setiap Geguritan memiliki struktur tertentu, termasuk jumlah suku kata (wilangan) dalam setiap baris dan jumlah baris dalam bait (guru gatra). Selain itu, terdapat pola ritme dan nada akhir yang konsisten (guru ding – dung).

  3. Bahasa yang Digunakan: Meskipun sebagian besar karya sastra pada zaman dahulu menggunakan bahasa Bali atau Jawi kuna, beberapa Geguritan, seperti Nengah Jimbaran, berani menggunakan bahasa Melayu, menunjukkan keberanian penulisnya dalam bereksperimen dengan bahasa.

  4. Tematik yang Luas: Geguritan sering kali menceritakan berbagai tema, mulai dari kisah cinta dan kesetiaan, hingga petuah tentang pemerintahan dan bencana, seperti dalam Geguritan yang mengisahkan wabah kolera.

  5. Ritual Keagamaan: Geguritan tidak hanya sekadar seni, tetapi juga sering digunakan dalam ritual keagamaan, seperti manusia yadnya dan pitra yadnya, di mana jenis Geguritan yang dinyanyikan disesuaikan dengan konteks dan tujuan upacara.

  6. Karya Terkenal: Beberapa Geguritan terkenal, seperti Nengah Jimbaran, menggambarkan rasa cinta dan kehilangan yang mendalam. Kisah ini ditulis oleh I Gusti Ngurah Made Agung, seorang Raja Badung, yang mengungkapkan perasaan masyarakat pada saat bencana melanda.

  7. Pendidikan Sastra: Geguritan menjadi salah satu bagian penting dalam pembelajaran sastra Bali. Melalui geguritan, generasi muda dapat belajar tentang budaya, nilai-nilai, dan tradisi Bali yang kaya.

  8. Kepopuleran di Kalangan Masyarakat: Saat ini, Geguritan semakin populer di masyarakat, terutama karena bahasanya yang sederhana dan mampu menyampaikan pesan-pesan moral serta pengalaman hidup yang relatable.

  9. Daya Tarik Emosional: Geguritan sering kali menyentuh sisi emosional pendengarnya, membuat banyak orang merasakan koneksi dengan kisah-kisah yang diceritakan, sehingga menciptakan pengalaman yang mendalam.

  10. Pewaris Tradisi: Meskipun zaman terus berubah, Geguritan tetap dilestarikan oleh masyarakat Bali sebagai bagian dari identitas budaya mereka, menciptakan jembatan antara generasi lama dan generasi baru.

Fakta-fakta ini menunjukkan betapa kaya dan mendalamnya nilai yang terkandung dalam Geguritan, menjadikannya warisan budaya yang layak untuk dipelajari dan dihargai.

 

 
Editor : I Putu Suyatra
#bali #Geguritan