Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Mengungkap 11 Fakta Penting, Sejarah, dan Keajaiban Tari Rejang: Tarian Suci yang Menyambut Kedatangan Para Dewa bagi Umat Hindu Bali

I Putu Suyatra • Selasa, 22 Oktober 2024 | 04:16 WIB

Tari Rejang
Tari Rejang

BALIEXPRESS.ID -Di tengah pesona pulau dewata Bali, Tari Rejang berdiri sebagai salah satu warisan budaya yang sarat makna bagi umat Hindu Bali.

Tarian tradisional ini bukan hanya sekadar pertunjukan, melainkan juga sebuah ritual suci yang menyambut kedatangan para dewa dari khayangan ke bumi.

Dengan nilai-nilai spiritual yang mendalam, Tari Rejang dipercaya sebagai simbol penghormatan dan persembahan kepada Sang Pencipta.

Sejarah dan Makna Spiritual

Diperkirakan telah ada sejak zaman pra-Hindu, Tari Rejang merupakan jenis Tari Wali atau tari sakral yang ditampilkan dalam upacara keagamaan.

“Tari Rejang selalu dipentaskan dalam berbagai upacara adat dan keagamaan di pura, seperti saat Piodalan. Selain itu, di beberapa daerah, tarian ini juga menjadi bagian dari upacara peringatan tertentu di lingkungan desa,” kata Budayawan Kota Denpasar, I Gede Anom Ranuara. 

Sebagai salah satu dari sembilan warisan Budaya Tak Benda dari Bali yang diakui oleh UNESCO, Tari Rejang menampilkan kelompok penari wanita yang tidak selalu terdiri dari profesional.

Siapa pun dapat terlibat, mulai dari wanita tua hingga muda, setelah melalui proses suci sebelum tampil.

“Para penari pemula biasanya dibimbing oleh Pamaret, penuntun yang berpengalaman, agar gerakan mereka selaras,” tambah Ranuara.

Gerakan yang Sederhana, Namun Penuh Hikmah

Gerakan dalam Tari Rejang didominasi oleh ngembat dan ngelikas, yang menggerakkan tubuh ke kiri dan kanan sambil melangkah perlahan ke depan.

Keunikan tarian ini terletak pada tempo yang cenderung pelan, sesuai dengan iringan musik gamelan Bali.

Musik yang biasa digunakan adalah gong kebyar, namun variasi lain seperti gambelan selonding juga sering muncul dalam pertunjukan.

Busana yang Menawan

Dalam pertunjukan, para penari mengenakan busana adat Bali yang didominasi warna kuning dan putih.

Kain panjang putih dikenakan dari pinggang ke bawah, sementara selendang kuning melilit di badan.

Di bagian kepala, penari dihiasi mahkota bunga, dan riasan wajah mereka tampil sederhana, lebih mengedepankan kesan natural.

Keberlanjutan Tari Rejang

Hingga kini, Tari Rejang tetap hidup di tengah masyarakat Bali, sebagai bagian integral dari upacara keagamaan.

Tarian ini diajarkan secara turun-temurun, memastikan keahlian dan nilai budaya tidak punah. Beberapa jenis Tari Rejang yang dikenal di masyarakat Bali antara lain:

  1. Rejang Renteng: Ditampilkan oleh kelompok wanita dengan gerakan beruntaian menggunakan benang putih.

  2. Tari Rejang Dewa: Ditujukan untuk menyambut para dewa dalam Upacara Dewa Yadnya, menggunakan pakaian sederhana dan hiasan janur.

  3. Tari Rejang Onying: Ditarikan oleh wanita remaja dengan karakter gerakan yang lebih keras, mirip dengan Tari Baris, dan seringkali melibatkan keris.

  4. Tari Rejang Kuningan: Dikenal di Desa Duda dan Desa Akah, ditampilkan saat perayaan Hari Suci Kuningan.

Di beberapa daerah, seperti Batuan Sukawati, Tari Rejang dikenal sebagai Tari Sutri, dipercaya dapat menghindarkan masyarakat dari marabahaya.

Di Kabupaten Tabanan, Tari Rejang Tabuh dimainkan sambil bernyanyi, dengan penggunaan kipas yang khas dalam setiap pementasannya.

Menyaksikan Keajaiban Tari Rejang

Dengan keunikan dan makna mendalam yang dimilikinya, Tari Rejang terus menjadi bagian dari warisan budaya yang patut dilestarikan.

Dalam setiap gerakan dan iringan musiknya, tarian ini bukan hanya menyambut para dewa, tetapi juga menyampaikan pesan spiritual yang kaya bagi masyarakat Bali.

Berikut adalah 11 fakta penting mengenai Tari Rejang yang mencerminkan nilai budaya dan spiritualnya:

Fakta Penting Tari Rejang

  1. Asal Usul Sejarah: Tari Rejang diperkirakan sudah ada sejak zaman pra-Hindu dan digunakan sebagai persembahan suci untuk menyambut kedatangan para dewa ke bumi.

  2. Jenis Tarian: Merupakan jenis Tari Wali, yang berarti tarian sakral, yang dipertunjukkan dalam berbagai upacara keagamaan, seperti Piodalan.

  3. Warisan Budaya Dunia: Tari Rejang diakui sebagai salah satu dari sembilan warisan Budaya Tak Benda dari Bali oleh UNESCO, menunjukkan pentingnya nilai budaya ini di tingkat global.

  4. Penari dari Berbagai Usia: Tarian ini dapat ditarikan oleh siapa saja, mulai dari wanita tua hingga muda, asalkan telah melalui proses suci sebelum tampil.

  5. Pembimbing Penari: Dalam pertunjukan, terdapat seorang Pamaret yang berfungsi sebagai penuntun untuk membantu penari pemula mengikuti gerakan tari.

  6. Gerakan yang Sederhana: Tari Rejang memiliki gerakan yang sederhana, fokus pada nilai spiritual, dengan tempo pelan dan gerakan ngembat serta ngelikas.

  7. Iringan Musik: Pertunjukan Tari Rejang diiringi oleh musik gamelan khas Bali, umumnya gong kebyar, tetapi bisa juga menggunakan jenis gambelan lainnya.

  8. Busana Tradisional: Para penari mengenakan busana adat Bali yang didominasi warna kuning dan putih, dengan ornamen bunga di kepala sebagai hiasan.

  9. Keberlanjutan Budaya: Tari Rejang terus dipertunjukkan dalam upacara keagamaan dan diajarkan secara turun-temurun, memastikan keahlian dan tradisi tidak hilang.

  10. Berbagai Variasi Tarian: Terdapat beberapa jenis Tari Rejang, termasuk Rejang Renteng, Rejang Dewa, Rejang Onying, dan Rejang Kuningan, masing-masing dengan ciri khas dan makna tersendiri.

  11. Fungsi Sosial dan Spiritualitas: Tari Rejang tidak hanya berfungsi sebagai seni pertunjukan, tetapi juga sebagai media untuk menyampaikan pesan spiritual dan memperkuat ikatan sosial di masyarakat Bali.

Dengan pemahaman yang lebih mendalam tentang fakta-fakta penting ini, kita dapat lebih menghargai Tari Rejang sebagai salah satu kekayaan budaya Bali yang memiliki nilai luhur. *** 

 

Editor : I Putu Suyatra
#bali #yadnya #anom ranuara #hindu #rejang #sejarah #budaya #tari #dewa