BALIEXPRESS.ID - Pura Dalem Puri, salah satu tempat suci Hindu Bali yang terletak di Carangsari, Petang, Badung, menyimpan keunikan yang menarik untuk ditelusuri.
Selain menampilkan sinergitas antara umat Hindu Bali dan Tionghoa, Pura Dalem ini juga memiliki hubungan erat dengan sebuah beji (pemandian suci) yang tak kalah menarik.
Pada hari Selasa, 13 Juni 2017, hujan lebat menyelimuti kawasan ini, namun hal itu tidak menyurutkan semangat warga pangempon Pura Dalem Puri untuk berangkat menuju beji.
Meskipun waktu sudah menunjukkan pukul 09.00 Wita, mereka terpaksa menunggu di wantilan pura karena kondisi cuaca.
Persiapan pembersihan dan pengukuran untuk penataan beji pun telah dilakukan dengan membawa berbagai perlengkapan, termasuk arit.
Dengan arahan Kelihan Pura Dalem Puri, I Made Nasiun, dan ajakan Pamangku Pura Dalem Carangsari, Jro Mangku Nyoman Netra untuk bersembahyang, umat akhirnya bersiap melanjutkan perjalanan ke kuburan Tionghoa yang berjarak sekitar 500 meter dari pura.
Bali Express (Jawa Pos Group) pun ikut serta dalam kegiatan ini.
Sesampainya di kuburan yang dilengkapi dengan tempat persembahyangan, para warga mulai menuruni tangga yang licin dan terjal menuju sungai.
Dalam perjalanan, mereka harus berhati-hati karena banyak pacet yang mengintai di sepanjang jalan. Meskipun tidak berbahaya, pacet-pacet ini dapat membuat perjalanan sedikit terganggu.
Setelah sekitar 30 menit menyusuri anak tangga, rombongan tiba di sebuah palinggih dengan wastra poleng.
Di sinilah Jro Mangku menghaturkan canang, diikuti dengan penemuan sebuah tebing batu yang menarik perhatian.
Tebing ini memiliki lubang berbentuk persegi yang dikenal sebagai Telaga Gantung, yang berisi air suci yang tidak pernah kering.
“Airnya tidak pernah kering meskipun musim kemarau,” jelas Jro Mangku.
Tirtha dari Telaga Gantung ini digunakan saat upacara piodalan di Pura Dalem Puri, dan dipercaya memiliki khasiat untuk pengobatan.
Namun, tidak sembarang orang diperbolehkan mengambil air suci ini.
Tidak jauh dari Telaga Gantung, terdapat beji yang baru-baru ini ditemukan kembali setelah puluhan tahun tertutup semak belukar.
Beji ini memiliki satu mata air utama yang mengalir dari patung naga kecil dan enam mata air lainnya yang lebih kecil.
Di sekitar beji terdapat peninggalan kuno, seperti arca singa dan kepala Buddha, yang menunjukkan keterkaitan erat antara kehidupan umat Siwa-Buddha di masa lalu.
Jro Mangku mengungkapkan bahwa beji ini juga digunakan untuk malukat oleh umat.
Bahkan, ada orang dari Kediri, Jawa Timur, yang mendapat petunjuk untuk membersihkan diri di sini setelah bermimpi tentang beji tersebut.
Dengan segala keunikan dan nilai historisnya, Pura Dalem Puri dan beji yang ada di sekitarnya tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga simbol dari keragaman budaya dan sejarah yang kaya di Bali.
Saat ini, pihak pengelola masih melakukan penataan di sekitar beji, mengingat lokasi yang berdekatan dengan Sungai Penet ini rawan longsor.
Mari kita telusuri lebih jauh keindahan dan makna dari Pura Dalem Puri dan beji yang menyimpan berbagai kisah menarik di dalamnya!