Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Uniknya Tradisi Ngusaba Desa di Selumbung, Diawali Ngalang atau Membayar Upeti, Ada Prosesi Nyuwung  

I Putu Mardika • Rabu, 23 Oktober 2024 | 04:32 WIB

Tradisi Ngusaba Desa di Selumbung, Karangasem
Tradisi Ngusaba Desa di Selumbung, Karangasem
BALIEXPRESS.ID-Desa Adat Selumbung, Kecamatan Manggis, Karangasem setiap Purnama Sasih Kapat rutin menggelar tradisi Ngusaba Desa. Ritual ini sebagai simbol Syukur masyarakat Desa Selumbung atas anugerah yang diberikan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Tokoh Adat Selumbung, Jero Kubayan Wayan Gede Wiratma menjelaskan, tradisi Ngusaba Desa menjadi ritual yang dilaksanakan secara turun temurun.

Tradisi ini dimulai dari ngalang atau membayar upeti dari masing-masing masyarakat desa, yang berupa dua kilogram beras, dua sisir pisang, dua butir kelapa, kayu bakar, dan peralatan kebutuhan lainnya yang mendukung pelaksanaan upacara Ngusaba Desa.

Kemudian Saya dasa bertugas untuk mengumpulkan kebutuhan tersebut dengan mendatangi masing-masing rumah warga, setelah semua kebutuhan terpenuhi barulah ngayah dimulai dengan mempersipkan sarana upacara berupa, pala bungkah, pala gantung, dan pala kesimbar yang merupakan lambang dari unsur kesuburan yaitu, pala bungkah merupakan umbi-umbian, pala gantung merupakan buah-buahan, sedangkan pala kesimbar merupakan bijibijian.

Dilanjutkan dengan membuat jajanan dengan aneka ragam bentuk serta banten dan upakara oleh tukang banten yang dibantu oleh banjar pengempon istri dalam proses pembuatan bantennya dan dikoordinir oleh Jero Nyarikan.

“Proses ini dilakukan selama sehari berturut-turut, selama satu minggu sampai semua persiapan yang diperlukan untuk upacara Ngusaba Desa selesai dibuat,” katanya.

Dahulu upacara Ngusaba Desa dilaksanakan di dua pura, yaitu Pura Desa dan Pura Puseh, karena hal tersebut dianggap tidak efisien dan menguras tenaga dan waktu, maka upacara Ngusaba Desa diputuskan untuk dilakukan di Pura Puseh saja.

Prosesi dimulai dengan disuarakannya kulkul desa pada pukul 15.00, yang merupakan pertanda masyarakat desa hadir menuju pura amongannya masing-masing.

Begitu juga dengan para pemangku pura yang sudah terlebih dahulu hadir untuk menghias jempana dan memohon kepada ida bhatara yang melinggih agar dapat disthanakan di Pura Puseh selama berlangsungnya Ngusaba Desa.

Pada saat proses memohon kepada ida bhatara, pada masing-masing pura menghaturkan banten pejati terlebih dahulu yang dipimpin oleh pemangku pada pura masing-masing. Warga yang hadir di pura amongannya juga melakukan persembahyangan individu sebelum menuju ke Pura Puseh untuk melinggihang ida bhatara.

Setelah proses menghias jempana, wewiletan, payah-ayahan selesai di masing-masing pura, kulkul desa dibunyikan lagi, pertanda Ida Bhatara Bhatari dipersilahkan tedun menuju perempatan desa untuk berkumpul dan bersama-sama menuju Pura Puseh.

Sebelum Ida Bhatara Bhatari melinggih di pepanggungan Pura Puseh, para pemangku dari masing-masing pura terlebih dahulu menuju Pura Puseh ngaturang pemendak dengan banten dan upakara berupa sohoran gede dan labaan agung untuk melinggihang Ida Bhatara Bhatari.

Sesudah melinggih di pepanggungan dipersembahkan kembali banten suci pejati kepada Ida Bhatara Bhatari.

Baca Juga: Masalah Mental Health Semakin Serius, RSUD Singasana di Desa Nyitdah Bissa Tangani 100 Kasus Per Bulan

Pada hari pertama ini, hanya berfokus pada melinggihang Ida Bhatara Bhatari dari masing-masing pura ke Pura Puseh untuk dapat disthanakan, tidak terdapat persembahyangan bersama yang bersifat wajib dalam rangkaian hari pertama upacara Ngusaba Desa ini

Selanjutnya masyarakat Desa Selumbung bersama-sama berkumpul pada jam 07.00 di Pura Puseh dengan membawa peralatan dan perlengkapan ngusaba untuk dibawa ke segara dengan tujuan membersihkan sebelum mulai menggunakannya kembali dalam upacara Ngusaba Desa.

Beberapa alat-alat yang dibawa seperti, umbul-umbul, kober, mamas, bandrang, payung pagut, pajeng agung, dan beberapa tombak serta keris.

Upacara pebantenan yang ditujukan kepada Dewa Wisnu yang dilaksanakan di Pura Puseh. Pada upacara pebantenan ini juga melakukan upacara pembersihan pada area Pura Puseh yang dipimpin oleh pemangku dari Pura Kahyangan Tiga Desa Selumbung diikuti dengan pemangku masing-masing pura.

Pebantenan pertama ini bertujuan untuk memohon kepada Dewa Wisnu agar diberikan kesuburan atas sumber daya alam Desa Selumbung, seperti pertanian dan perkebunan serta mengucap syukur atas semua yang telah diberikan kepada Desa Selumbung

“Pada pukul jam 15.00 kulkul desa kembali dibunyikan, masyarakat Desa Selumbung mulai berkumpul di perempatan desa sembari membawa keris yang telah dibersihkan dalam upacara melis,”  paparnya.

Setelah masyarakat ramai berkumpul, mereka bersama-sama berjalan menuju Pura Puseh sembari mesuryak dan mengacungkan keris, ini merupakan pertanda mulainya daratan, ada juga beberapa yang sudah mulai kesurupan dalam perjalanan menuju Pura Puseh.

Sebelum mulainya tradisi daratan pemangku Pura Puseh terlebih dahulu menghaturkan tetabuhan memohon izin kepada bhatara bhatari yang melinggih untuk melaksanakan daratan dan agar diberi keselamatan selama prosesi daratan berlangsung.

Sesampainya di Pura Puseh sebagian ada yang kesurupan dan mulai narat dan sebagian lagi ada yang menaruh keris pada tempat yang telah disediakan untuk para penarat dan mencari tempat duduk untuk menyaksikan daratan. (dik)

 

Editor : I Putu Mardika
#Manggis #karangasem #desa #Selumbung