Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Asal-usul Desa Sulangai Badung, Berawal dari Raja Mengwi yang Tersesat di Tengah Hutan Gegara Matahari Terbit dari Tenggara: Begini Kisahnya

Nyoman Suarna • Kamis, 24 Oktober 2024 | 00:56 WIB
DESA SULANGAI: Desa Sulangai merupakan bagian dari Kecamatan Petang, Kabupaten Badung yang berawal dari kisah Raja Mengwi yang tersesat.
DESA SULANGAI: Desa Sulangai merupakan bagian dari Kecamatan Petang, Kabupaten Badung yang berawal dari kisah Raja Mengwi yang tersesat.

BALIEXPRESS.ID - Sejarah Desa Sulangai, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, Bali merupakan bagian dari sejarah Desa Petang.

Sebab Desa Sulangai merupakan hasil pemekaran dari Desa Petang yang diresmikan pada 27 Juli 1999 oleh Gubernur Bali, Dewa Made Beratha.

Dikutif dari sulangai.desa.id yang mengacu pada cerita dari beberapa tetua/penglingsir di Sulangi, ada yang mengatakan bahwa nama Sulangai terkait dengan Sejarah Mengwi.

Berawal dari perjalanan raja Mengwi, I Gusti Agung Gede Agung ke daerah di utara Badung, bernama Puncak Mangu, yang sekarang menjadi kawasan suci Pura Luhur Puncak Mangu (Pura Kahyangan Jagat).

Saat dalam perjalanan pulang menuju Mengwi, ia menemukan banyak munduk, antara lain Munduk Semanik, Auman, Munduk Tiying, Batu Lantang, Munduk Abing.

Hingga akhirnya sampai di sebuah munduk yang masih berupa hutan belantara dengan pepohonan lebat.

Raja dan pasukannya tersesat, tidak tahu arah dan tidak menemukan jalan keluar dari munduk tersebut.

Kemudian terlihat matahari muncul di arah tenggara, sehingga ia menyebut daerah itu "sirang ai".

Seiring waktu, masyarakat menyebutnya Sulangai, hingga saat ini dikenal sebagai Desa Sulangai.

Sementara itu, seorang tokoh di Bali, AA Gede Raka, dalam sebuah artikel menjelaskan makna dari kata Sulangai.

Dengan mengamati posisi desa yang membentang dari hulu ke hilir, dalam posisi yang tidak lurus dari utara ke selatan atau "mengerang".

Untuk mengetahui posisi desa "mengerang" tersebut, tentu dapat dilihat ketika matahari berada tepat di tengah sesuai dengan arah "poros bumi" (dari timur ke barat), tepatnya pada bulan Oktober dan April.

Bagian desa dari hulu ke hilir seharusnya berada di arah utara-selatan. Namun yang terlihat di lapangan adalah bahwa matahari tidak berada dari timur ke barat.

Ini memberi indikasi bahwa posisi desa "menyerang" atau berlawanan dengan arah pergerakan matahari. Karena letak desa ini melintasi arah matahari, maka desa ini disebut "Silang Ai" (silang = menyerang, ai = matahari).

Dari kata "Silang Ai", seiring berjalannya waktu karena kesalahan pengucapan, berubah menjadi Sulang Ai. Demikian juga dalam penulisan, yang seharusnya ditulis sebagai Sulang Ai, menjadi Sulangai.

Jelas bahwa nama Desa Sulangai berasal dari posisi desa yang melintasi arah matahari (nyilang ai). Dari Silangai, karena kesalahan pengucapan, menjadi Sulangai.

Namun berdasarkan tinggalan berupa Pura Kancing Bumi yang disejajarkan dengan Pura Kentel Bumi di  Banjarangkan, Klungkung) dan Pura Pusering Jagat di Pejeng, Gianyar.

Kedua pura ini merupakan pura kahyangan jagat yang didirikan oleh Empu Kuturan, saat ia menjabat sebagai pendeta istana pada masa pemerintahan Raja Udayana di Bali.

Mengacu pada hal itu, Desa Sulangai diduga sudah ada sejak jaman Raja Udayana pada abad ke-11 Masehi.

Editor : Nyoman Suarna
#matahari #raja mengwi #petang #hutan #tersesat #desa #badung #sulangai