Dijelaskan Luh Putu Cita Ardiyani, pencarian plendo tidak bisa dilakukan sembarangan karena kualitasnya berpengaruh pada hasil akhir sekar taji.
Plendo harus dicari selama masa penanggalan, yaitu 15 hari sebelum bulan purnama, agar menghasilkan plendo yang lurus dan kokoh.
Plendo yang memenuhi standar kualitas akan dibentuk menyerupai taji seperti yang digunakan dalam sabung ayam. Sekar taji yang telah dibentuk kemudian dirangkai untuk dijadikan hiasan kepala penari Rejang.
Setelah dirangkai dengan cermat, sekar taji dipasang pada gelungan kepala dan diberikan upacara pasupati pada hari-hari yang dianggap baik.
Ia menyebutkan, Sekar taji ini menjadi salah satu hiasan yang digunakan pada gelungan penari Rejang, sekar taji terbuat dari plendo atau kayu khas Desa Pedawa yang sulit ditemukan di tempat lain.
Mencari plendo tidak boleh sembarangan, harus pada fase bulan penanggal yakni 15 hari menjelang bulan Purnama maka hasil plendo yang didapat akan bagus. Tetapi jika dicari di luar fase hari itu maka plendo yang dihasilkan tidak akan bagus dan susah untuk dikeluarkan dari batangnya.
“Karena plendo ini merupakan kayu yang di luarnya keras kemudian akan dikeluarkan isi dari dalam kayu ini yang berwarna putih, inilah yang akan digunakan untuk membuat sekar taji,” katanya.
Sebelum pementasan Tari Rejang pada Saba Malunin di Desa Pedawa, dane balian dan dane pengulu desa melakukan matur piuning. Matur piuning ini menyampaikan rasa syukur dan sekaligus mohon ijin akan mementaskan Tari Rejang pada Saba Malunin tersebut
Baca Juga: PERINGATAN UNTUK YANG MAU BALIKAN DENGAN MANTAN! Cemburu Membara, Istri Habisi Suami saat Tidur
Umumnya, dane balian mempunyai tugas membawa persembahan ke depan panggung tempat penari tampil. Persembahan tersebut terdiri dari canang daksina dengan isi berupa canang raka, teg-teg, dan pengulapan matah.
Persembahan ini adalah rasa cinta kepada Tuhan serta simbol Hyang Tri Dasa Saksi
Ketua Daa Desa akan menghaturkan canang raka setelah dane balian dan dane pengulu desa melakukan matur piuning.
Hal ini bertujuan untuk memohon ijin kepada Bhatara-Bhatari yang dipuja di pura tersebut serta sebagai tanda bahwa penari harus sudah siap di posisi masing-masing untuk merejang.
Prosesi ini disebut dengan istilah nunas pakuluh. Ketika sudah diadakannya nunas pakuluh, semua penari tidak boleh melakukan aktivitas lain dan harus sudah memusatkan pikiran untuk merejang dan siap dalam posisi melingkar.
"Dengan kata lain nunas pakuluh merupakan awal dari rangkaian pementasan Tari Rejang pada Saba Malunin di Desa Pedawa,” paparnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika