Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Kisah Keturunan Danghyang Nirartha tak Boleh Makan Waluh, Ada Kaitannya dengan Sejarah Pura Geriya Tanah Kilap di Suwung

Nyoman Suarna • Jumat, 25 Oktober 2024 | 01:34 WIB
PURA: Pura Geriya Tanah Kilap yang terletak di Gelogor Carik, Desa Suwung, Denpasar menjadi saksi sejarah perjalanan Danghyang Nirartha ke Bali.
PURA: Pura Geriya Tanah Kilap yang terletak di Gelogor Carik, Desa Suwung, Denpasar menjadi saksi sejarah perjalanan Danghyang Nirartha ke Bali.

BALIEXPRESS.ID – Dalam tradisi Bali terungkap, ada bhsama bagi keturunan Danghyang Nirartha yang tidak boleh mengonsumsi waluh selama-lamanya.

Bhisama tersebut terkait dengan sejarah perjalanan Danghyang Nirartha saat datang ke Bali bersama keluarganya, yang terungkap dari sejarah Pura Geriya Tanah Kilap di Suwung, Denpasar.

Dikutif dari Babadbali.com, Pura Geriya Tanah Kilap yang terletak di Gelogor Carik, Desa Suwung, Denpasar memiliki sejarah yang erat kaitannya dengan Danghyang Nirartha.

Beliau adalah  seorang pendeta agung yang datang ke Bali pada tahun Saka 1411.

Beliau datang bersama istri dan tujuh putranya, yaitu Ida Ayu Swabawa, Ida Kuluwan, Ida Lor, Ida Wetan, Ida Rai Istri, Ida Tlaga, dan Ida Nyoman Kaniten.

Perjalanan mereka ke Bali penuh tantangan. Konon Danghyang Nirartha menaiki waluh kele (waluh pahit) dan keluarganya terpaksa menggunakan perahu bocor.

Setelah tiba di Bali, mereka beristirahat di bawah pohon ancak. Di tempat ini, Danghyang Nirartha mendirikan parhyangan yang dinamakan Pura Ancak.

Dalam tradisi, terdapat larangan bagi keturunannya untuk tidak mengonsumsi waluh selama-lamanya.

Dalam perjalanan menuju timur, Danghyang Nirartha menghadapi sebuah naga yang membuka mulutnya bagaikan goa.

Dengan keberanian, ia memasuki mulut naga tersebut dan menemukan telaga yang dipenuhi bunga tunjung berwarna putih, merah, dan hitam.

Ia memetik bunga-bunga tersebut sebagai simbol kesaktian.

Setelah keluar dari perut naga, wajah Danghyang Nirartha berubah menjadi menyeramkan dengan warna-warna yang silih berganti.

Hal ini membuat istri dan anak-anaknya ketakutan. Sementara itu, Ida Ayu Swabawa, anaknya yang paling terakhir, pingsan akibat tipu daya orang desa di Pagametan.

Kemarahan Danghyang Nirartha pun memuncak, lalu mengutuk penduduk desa tersebut menjadi wong samar yang dikenal sebagai Wong Sumedang dan menghancurkan desanya.

Selanjutnya, perjalanan Danghyang Nirartha membawa sejarah baru bagi keturunannya.

Ida Ayu Swabawa menjadi Dewa Wong Sumedang dan dipuja di Pura Melanting sebagai Dewi Pasar.

Ibu mereka, Sri Patni Kaniten, sirna di Pulaki dan dipuja sebagai Batari Dalem Pulaki.

Sementara itu, putrinya, Ida Rai Istri, sirna di Alas Sepi yang dikenal sebagai Suwung.

Ia dipuja di Pura Geriya Tanah Kilap, Desa Suwung, dengan gelar Batari Lingsir atau Betari Ratu Niyang Sakti.

Kini Pura Tanah Kilap menjadi tempat pemujaan bagi masyarakat Hindu Bali khususnya di Denpasar, sebagai pengingat kisah perjalanan dan pengorbanan Danghyang Nirartha beserta keluarganya.

Editor : Nyoman Suarna
#keturunan #tanah kilap #pura #waluh #sejarah #Danghyang Nirartha