BALIEXPRESS.ID - Pura Luhur Srijong di Selemadeg, Tabanan, Bali, merupakan pura yang memiliki sejarah panjang.
Ada tiga versi sejarah yang menyebut awal mula berdirinya pura tersebut.
Kata Srijong, berasal dari bahasa Jawa Kuno yang dibagi menjadi dua suku kata yaitu “Sri” yang berarti Raja atau yang mulia sedangkan Jong yang mempunyai arti Perahu “Jukung”. Jadi Srijong berarti Perahu Raja.
Menurut beberapa catatan, Pura Luhur Srijong dibangun hampir bersamaan dengan Pura Rambut Siwi di Jembrana dan Pura Tanah Lot yakni pada abad ke-16 Masehi yang masih berkaitan dengan perjalanan Dang Hyang Dwijendra.
Salah satu versi menyebut, berdirinya Pura Luhur Srijong berawal dari masyarakat sekitarnya melihat sebuah cahaya di tepian pantai yang berbatu karang.
Cahaya tersebut dikelilingi pohon kelapa dan juga semak-semak.
Di tempat itu kemudian dibangunlah sebuah pura oleh masyarakat sekitar dan diberi nama Pura Luhur Srijong.
Ada juga yang menyebutkan bahwa Pura Luhur Srijong punya kaitan erat dengan perjalanan spiritual Dang Hyang Dwijendra yang bergelar Ida Pedanda Sakti Wawu Rauh.
Ketika Dang Hyang Dwijendra berkeliling Bali menyebarkan ajaran dharma untuk menata umat beragama di Bali, beliau sempat singgah dan melakukan pemujaan di tempat ini.
Masyarakat sekitar sangat terkesan dengan aura kepanditaan beliau, sehingga diputuskan untuk membangun pelinggih sebagai sarana memuja beliau sebagai guru bagi umat manusia.
Tak hanya itu, pura ini juga dihubungkan dengan perjalanan Kebo Iwa, tokoh berpengaruh di Pulau Dewata.
Menurut Manggala Bala Kria Pura Luhur Dang Kahyangan Srijong, Wayan Miarsana, Pura Srijong dulunya merupakan bekas dapur Kebo Iwa.
Hal ini ditandai dengan peninggalan priuk yang ditemukan di campuhan Tukad Meluang dan Payan, sebelah timur pura.
“Pura ini ada kaitannya dengan Pura Puseh di Bedha. Pura Luhur Dang Kahyangan Srijong merupakan bekas dapur Kebo Iwa,” jelas Wayan Miarsana, Kamis (2/11).
Pura ini terletak di Banjar Batulumbang, Desa Selemadeg, di tepi jalur utama jalan Denpasar-Gilimanuk, sekitar 46 km atau 1 jam 45 menit perjalanan dari Kota Denpasar.
Pura Luhur Srijong memiliki beberapa area utama, yaitu Pura Luhur Srijong sebagai pusat persembahyangan.
Ada juga Beji Pingit, yang unik dengan Goa Kelelawar, tempat bernaung puluhan ribu kelelawar yang terdiri dari jempiit, lelawah, dan balongan.
Pura Ratu Gede Kebo Iwa yang memiliki Palinggih Ratu Niang Sakti, di samping Pura Melanting yang melambangkan tempat berkah untuk hasil bumi.
Kawasan pura ini terdiri dari Tri Mandala, di mana pada Madya Mandala terdapat lumbung padi atau jineng, melambangkan keterikatan pura dengan subak. Sementara itu, di Utama Mandala berdiri Meru tumpang tiga sebagai stana Ida Bhatara Pranda Sakti Wawu Rauh.
Pura ini termasuk dalam Pura Kahyangan di Bali yang terkait erat dengan Pura Luhur Uluwatu, Tanah Lot, dan Rambut Siwi.
Piodalan Pura Luhur Srijong dilaksanakan setiap enam bulan sekali, di tepatnya pada hari Buda Umanis Prangbakat.
Editor : Nyoman Suarna