10 Fakta Menarik Lontar Usada Bali: Ada Mantra dengan Unsur Islam
I Putu Suyatra• Sabtu, 26 Oktober 2024 | 03:48 WIB
Lontar Usada Bali
BALIEXPRESS.ID - Di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Udayana (Unud), tersimpan sebuah keunikan yang mengejutkan dalam lontar usada. Selain mengandung berbagai mantra tradisional, ternyata beberapa lontar juga menyisipkan doa-doa dalam Islam.
Apa sebenarnya yang terjadi di balik fenomena ini?
Kekayaan Budaya yang Mempesona
Alkulturasi antara budaya Hindu-Buddha dan Islam di Indonesia tampak jelas dalam berbagai aspek, seperti pertunjukan wayang, seni sastra, dan aksara.
Sejak sebelum kedatangan pengaruh Hindu dan Islam, masyarakat Indonesia sudah memiliki kehidupan religius yang kuat.
Tradisi ini menjadi pedoman dalam bersikap dan berperilaku sehari-hari.
“Hampir setiap aktivitas selalu diwarnai dengan upacara religius, baik itu dalam bidang pertanian, adat perkawinan, hingga tata cara penguburan,” ungkap Putu Eka Guna Yasa, S.S., M.Hum, staf Unit Pelaksana Teknis (UPT) sekaligus penerjemah lontar usada, dalam sebuah wawancara pada Senin (16/4).
Misteri di Balik Lontar Usada
Lontar, yang ditulis menggunakan daun siwalan atau daun tal, merupakan bentuk seni sastra yang sangat berharga.
Teks lontar dikelompokkan menjadi beberapa kategori, seperti babad, suluk, dan usada, yang berisi sejarah serta metode pengobatan tradisional.
Namun, untuk memahami teks usada, kita perlu menguasai bahasa Bali dan Jawa kuno, karena sering kali terdapat penggunaan bahasa metafora yang hanya dipahami oleh kalangan tertentu.
Unsur Islam yang Menarik
Dalam konteks ini, Eka menyoroti kehadiran unsur budaya Islam dalam lontar usada.
“Unsur kebudayaan Islam secara perlahan diterima dan diolah menjadi bagian dari kebudayaan Indonesia, melahirkan budaya baru yang merupakan akulturasi,” katanya.
Salah satu contoh yang menarik adalah Usada Manak, yang berkaitan dengan proses kelahiran dan kesehatan ibu.
Dalam teks ini, terdapat pengobatan yang menggunakan doa Islam.
Contoh praktik dari Usada Manak termasuk metode untuk mencegah keguguran pada ibu hamil.
Dalam teksnya, terdapat istilah "pengancing manik" yang berarti pengunci janin dan "pengancing kama," yang berfungsi sebagai pengunci kualitas sperma.
Pengobatan ini dilakukan dengan menggunakan air yang ditempatkan dalam tempurung kelapa.
Mantra Unik dengan Sentuhan Spiritual
Teks usada juga menjelaskan cara membuka kuncian jika mengalami kesulitan dalam proses melahirkan.
Salah satu mantra yang diajarkan, “Om tutup kancing buana Allah buana keling, tutupane gedong Allah. Wuwus pepet sarirane si anu,” menegaskan keberadaan kata "Allah" dalam konteks pengobatan ini, menunjukkan bahwa akulturasi Hindu-Islam dapat ditemukan dalam teks usada.
Eka menambahkan, “Apakah dengan sarana sederhana ini dan puja mantra ini kita terhindar dari keguguran, itu tergantung pada ketulusan permohonan dan pikiran kita. Hasilnya sangat subjektif, bergantung pada takdir masing-masing.”
Dengan penemuan ini, lontar usada di Unud tidak hanya menjadi sarana pengobatan tradisional, tetapi juga mencerminkan kekayaan budaya Indonesia yang kaya akan keragaman dan akulturasi.
Seberapa dalam Anda ingin menyelami keunikan budaya ini?
Berikut adalah beberapa fakta menarik dari teks mengenai lontar usada di Universitas Udayana (Unud) yang mengandung unsur Islam:
Kekayaan Akulturasi Budaya: Lontar usada di Unud menunjukkan bagaimana budaya Hindu-Buddha dan Islam saling berinteraksi dan berakulturasi dalam masyarakat Indonesia, menciptakan budaya baru yang unik.
Dua Tradisi dalam Satu Karya: Selain mengandung mantra tradisional, lontar usada juga menyisipkan doa-doa dalam Islam, yang menunjukkan keterbukaan dan penerimaan unsur-unsur budaya yang berbeda.
Seni Sastra Berharga: Lontar, yang ditulis menggunakan daun siwalan atau daun tal, merupakan bentuk seni sastra yang sangat berharga dan memiliki berbagai kategori, termasuk babad, suluk, dan usada.
Bahasa Kuno yang Rumit: Memahami lontar usada memerlukan penguasaan bahasa Bali dan Jawa kuno, yang sering kali menggunakan bahasa metafora dan simbolik yang hanya dipahami oleh kalangan tertentu.
Usada Manak dan Kesehatan Ibu: Salah satu contoh akulturasi dalam lontar usada adalah Usada Manak, yang berkaitan dengan proses kelahiran dan kesehatan ibu. Teks ini menyertakan pengobatan yang melibatkan doa Islam untuk mencegah keguguran.
Praktik Pengobatan Tradisional: Dalam praktik Usada Manak, terdapat istilah seperti "pengancing manik" dan "pengancing kama," yang menunjukkan pengobatan tradisional yang mengintegrasikan elemen-elemen Islam.
Mantra Spiritual: Salah satu mantra dalam lontar usada, yang mencantumkan nama "Allah," menggarisbawahi integrasi antara praktik pengobatan dan spiritualitas, serta bagaimana akulturasi dapat terlihat dalam teks tersebut.
Keterhubungan dengan Takdir: Menurut Eka, keberhasilan pengobatan dengan menggunakan lontar usada sangat subjektif dan bergantung pada ketulusan permohonan serta pikiran individu, menekankan pada aspek spiritualitas dalam proses penyembuhan.
Cermin Keragaman Budaya: Penemuan lontar usada di Unud tidak hanya berfungsi sebagai sarana pengobatan tradisional, tetapi juga mencerminkan kekayaan budaya Indonesia yang kaya akan keragaman dan akulturasi.
Potensi Penelitian Lebih Lanjut: Temuan ini membuka kesempatan untuk menyelidiki lebih dalam tentang hubungan antara praktik budaya dan religius di Indonesia, serta bagaimana kedua unsur ini berinteraksi dalam konteks masyarakat modern.