BALIEXPRESS.ID - Salah satu tempat suci Hindu Bali, Pura Luhur Mekori di Banjar Pemudungan, Desa Belimbing, Kecamatan Pupuan, Tabanan, menyimpan kisah mistis yang dipercaya oleh warga setempat.
Konon, pura ini dahulu disungsung oleh dua kelompok berbeda: manusia dan raksasa kanibal.
Namun, suatu peristiwa besar mengubah segalanya dan mengawali terbentuknya Desa Belimbing yang dikenal saat ini.
Tokoh Desa Belimbing, I Made Adi Suyana, mengungkapkan bahwa Pura Luhur Mekori awalnya disungsung oleh manusia dan kelompok raksasa dari Desa Mekori, yang kini tinggal kenangan.
Keanehan mulai terjadi setiap kali diadakan upacara piodalan di pura tersebut. Pada saat Tari Rejang Renteng digelar, penari yang berada di barisan paling belakang selalu menghilang secara misterius, menciptakan ketakutan di kalangan masyarakat setempat.
Tradisi tari ini pun terancam hilang karena tidak ada yang berani menari lagi.
Demi menjaga tradisi leluhur, desa akhirnya menemukan cara untuk mengungkap misteri ini.
Penari terakhir dalam barisan dibekali dengan gulungan benang panjang yang diikat di pergelangan tangannya, agar jejaknya dapat diikuti jika terjadi lagi kehilangan.
Dan benar saja, penari terakhir kembali menghilang, dan benang tersebut mengarah ke sebuah gua yang dihuni oleh pasangan raksasa kanibal.
Kemurkaan melanda warga Desa Mekori ketika mereka mengetahui bahwa pasangan raksasa ini yang telah menculik para penari.
Dalam amarahnya, masyarakat menuntut balas dan menyingkirkan raksasa perempuan yang diketahui sebagai penculik.
Namun, raksasa laki-laki yang merasa dirinya tak bersalah ikut terbunuh, meninggalkan kutukan: Desa Mekori akan dihancurkan oleh bola api.
Kutukan ini pun menjadi kenyataan, dan Desa Mekori hancur porak-poranda, menjadi tanah yang tak berpenghuni.
Beberapa waktu kemudian, keturunan Pasek Tohjiwa datang dan menetap di wilayah ini.
Mereka terpesona dengan keindahan alam yang menyerupai buah belimbing, hingga akhirnya menamakan desa itu sebagai Desa Belimbing.
Nama ini pun bertahan hingga sekarang, menjadi salah satu destinasi wisata yang banyak dikunjungi. ***
Editor : I Putu Suyatra