Dosen Upakara, STAHN Mpu Kuturan Singaraja Dr. Wayan Murniti, M.Ag menjelaskan, Tirtha Penembak diambil dari permintaan Rsi Bisma untuk minum, sehingga Arjuna memanah tanah sebelah kanan dan keluarlah air suci dari tanah untuk minum sang Rsi.
“Manah itu diyakini sebagai suara hati, untuk menghilangkan semua ego dan keterikatan duniawi,” jelasnnya.
Tirtha penembak diambil dari permintaan Rsi Bisma untuk menyucikan badan, sehingga Arjuna melepaskan anak panah didekat kepala dan didekat kaki sehingga mengeluarkan air sbagai tirtha pemralina, pembersihan segala dosa dan papa.
Penggunaan tirtha pemanah dalam pelaksanaan pitra yadnya berpedoman pada Itihasa Mahabharata Gugurnya Rsi Bisma.
“Makna tirtha Penembak tersebut adalah untuk menghilangkan semua ego yang ada dalam diri dan keterikatan duniawi. Sehingga tirtha pemanah tersebut sangat diperlukan oleh sang seda (orang yang meninggal) agar tidak terikat lagi oleh sifat-sifat keduniawian,” ungkapnya.
Beberapa masyarakat mencari tirtha penembak pada muara pertemuan dua buah sungai atau ada juga yang mencari di muara pantai dengan sarana banten pejatian.
Sedangkan sarana untuk mengambilnya pun dengan menggunakan bumbung atau payuk, dan dilakukan oleh pertisentana sebagai simbul bakti kepada leluhur.
Tidak jarang juga umat Hindu memohon kepada sulinggih untuk ngelungsur tirtha kepada sulinggih dan tidak mengambil di pecampuhan agung. Melainkan prosesnya dilakukan di griya ida pedanda
Tirtha penembak sangatlah disakralkan sebagai pembuka jalan bagi roh leluhur yang didahului oleh tirtha penembak jika tidak didahului oleh tirtha penembak maka tirtha pembersihan, pelukatan dan pengentas tidak memiliki arti.
“Tirtha penembak merupakan tirtha utama dan yang pertama dipercikan kepada jenazah, oleh karena itu tentunya bagi putra atau keluarga terdekatnya mencarikan tirtha penembak,” katanya.
Sebelum tirtha penembak dipercikkan maka tirthatirtha yang lainnya belum bisa dipercikkan oleh sulinggih. Tirtha penembak adalah hal yang utama yang harus dipersiapkan oleh seorang putra pada saat upacara ngaben.
“Oleh karena itu disetiap upacara ngaben wajib menggunakan tirtha penembak karena merupakan sarana untuk pembebasan dari badan kasar yang selanjutkan akan disucikan,” sebutnya.
Murniti menambahkan, Seorang putra pada saat upacara ngaben diwajibkan untuk mencarikan orang tuanya tirtha penembak sebagai jalan untuk melepaskan dirinya dari badan kasarnya. Sehingga setiap upacara ngaben pihak keluarga yang ditinggalkan selalu mencarikan tirtha penembak, karena merupakan sebuah kewajiban.
Masyarakat tentunya menyadari bahwa penggunaan Tirtha Penembak tersebut sangatlah penting dalam setiap upacara ngaben
Ia menyebutkan, tirtha penembak menjadi suatu yang disakralkan dan menjadi hal yang utama sang yajamana pada saat upacara ngaben.
Menurutnya, tirtha penembak memiliki makna sebagai tirtha pembebasan roh leluhur dari badan kasar sebelum disucikan dengan tirtha-tirtha lainnya seperti pembersihan, pelukatan dan pengentas.
Sehingga sebelum dipercikkan tirtha penembak maka tidak memiliki makna tirtha -tirtha yang lainnya yang dikarenakan roh leluhur belum terbebaskan dari ikatan prajapati.
Baca Juga: Misteri Jasad Wanita Tanpa Kepala di Danau Muara Baru Terungkap, Identitas Korban Menggegerkan Warga
Tirtha Penembak digunakan pada saat Upacara ngaben tepatnya digunakan pada saat di setra. Setelah di setra, Tirtha Penembak digunakan pada saat setelah mengentas layon atau mayat. Mengentas layon mengelilingi tempat pembakaran mayat sebanyak tiga kali.
Dan cara menyiramkannya sama dengan pada saat pengambilanya yaitu dari hulu ke hilir dan dari hilir ke hulu dicipratkan sebanyak tiga kali yang dicipratkan oleh satu anak laki dan satu dari mangku atau pandita
Setelah mengelilingi tempat pembakaran tiga kali lalu jenasahnya diletakkan di tempat pembakaran, dan ikatan-ikatan simpul sawa dibuka sehingga, muka sama badan kelihatan. Barulah Tirtha Penembak yang pertama dicipratkan. (dik)
Editor : I Putu Mardika