BALIEXPRESS.ID - Bagi umat Hindu Bali, upacara Ngaben merupakan tradisi sakral yang melambangkan penghormatan terakhir bagi mereka yang telah meninggal.
Namun, di Desa Pekraman Puluk Puluk, Desa Tengkudak, Kecamatan Penebel, Tabanan, Bali, prosesi Ngaben punya keunikan tersendiri dengan kehadiran Tari Baris Memedi—tarian sakral yang tak ada di tempat lain.
Tradisi yang Langka: Tari Baris Memedi untuk Penghormatan Terakhir
Menariknya, Tari Baris Memedi hanya akan ditampilkan jika orang yang meninggal telah memiliki cucu atau cicit.
Jika belum, upacara Ngaben tetap berjalan, tetapi tanpa tarian khas ini.
“Pada prosesi pengabenan gede atau upacara besar, Tari Baris Memedi ditampilkan menjelang pembakaran jenazah,” ujar Tokoh Adat Desa Pekraman Puluk Puluk, I Nengah Susana Yasa.
Warisan Turun-Temurun yang Sarat Makna
Baris Memedi telah menjadi bagian tak terpisahkan dari warisan leluhur Desa Pekraman Puluk Puluk.
Susana Yasa mengungkapkan, tak ada yang mengetahui asal-usul pasti tarian ini, tetapi masyarakat yakin bahwa Tari Baris Memedi adalah simbol untuk mengantar roh yang meninggal menuju alam suarga loka.
Tarian ini dibawakan oleh sejumlah pria dengan jumlah ganjil, umumnya sembilan orang, sesuai dengan sembilan arah mata angin yang dipercaya dalam tradisi Hindu Bali.
Keunikan yang Menarik Perhatian di Pesta Kesenian Bali (PKB)
Di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB), Tari Baris Memedi yang langka ini pernah tampil, memukau penonton dengan kesakralannya.
Menariknya, sebelum tampil di acara besar ini, masyarakat desa melakukan ritual khusus untuk meminta izin dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Jika izin tak diperoleh, penampilan akan dibatalkan sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur.
Dengan daun pisang kering dan dedaunan segar yang dipetik langsung dari Setra setempat sebagai busana, para penari Baris Memedi ini mampu menghadirkan suasana mistis sekaligus memikat.
Tradisi ini tak hanya menunjukkan rasa hormat yang mendalam kepada arwah leluhur tetapi juga menyiratkan kekayaan budaya yang unik dan memikat, membuat siapa saja yang menyaksikan merasa tersentuh oleh kesakralan ritual ini. ***
Editor : I Putu Suyatra