Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Wajib ada dalam Ritual Ngaben, Ini Makna Sarana Manuk Dewata yang disebut Burung Surga

I Putu Mardika • Jumat, 1 November 2024 | 05:13 WIB

Manuk Dewata sebagai sarana penting dalam upacara ngaben di Bali
Manuk Dewata sebagai sarana penting dalam upacara ngaben di Bali
BALIEXPRESS.ID-Dalam upacara Ngaben Hindu Bali, simbol "Manuk Dewata" memiliki makna mendalam yang berkaitan dengan konsep transendensi, pelepasan jiwa, dan penghubung antara dunia fisik dan alam spiritual.

Manuk Dewata atau "burung dewa" biasanya diwujudkan dalam bentuk patung atau replika burung yang dibuat dari bahan seperti janur atau kayu, yang ditempatkan di samping atau bersama jenazah dalam proses kremasi.

Simbol ini bukan sekadar elemen ritual, tetapi mencerminkan konsep spiritual yang kaya dalam agama Hindu Bali.

Manuk Dewata dipercaya sebagai media yang membantu membawa jiwa atau "atma" dari dunia material menuju alam dewa atau alam leluhur.

Dalam pandangan Hindu Bali, burung dianggap sebagai makhluk yang bebas dan mampu berpindah antar-dunia, sehingga penggunaannya dalam upacara Ngaben melambangkan pembebasan jiwa dari tubuh fisik untuk dapat "terbang" menuju dunia roh, atau alam swarga (surga).

Dalam konsep ini, burung menjadi simbol kendaraan spiritual yang membebaskan jiwa dari keterikatan duniawi, sehingga atma dapat bergabung dengan leluhur atau bahkan mencapai moksa, yaitu penyatuan dengan Brahman (Tuhan).

Dalam ajaran Hindu, burung sering kali dikaitkan dengan dewa-dewa tertentu, seperti Garuda, yang merupakan wahana Dewa Wisnu.

Dalam konteks Ngaben, Manuk Dewata mewakili elemen yang lebih luas dari kosmologi Hindu Bali, di mana burung menjadi bagian dari unsur alam yang membawa jiwa menuju keseimbangan antara dunia atas (swarga loka) dan dunia bawah (bhur loka).

Sebagai simbol alam, burung ini juga membawa makna bahwa upacara Ngaben bukan hanya tentang kehidupan dan kematian, tetapi juga mengenai harmoni antara manusia, alam, dan alam semesta.

Dalam prosesi Ngaben, kehadiran Manuk Dewata dipercaya mampu menghalau energi negatif yang mungkin menghambat perjalanan jiwa. Dianggap bahwa burung ini akan membantu jiwa mengatasi rintangan yang mungkin dihadapi dalam perjalanan ke alam akhirat.

Selain itu, Manuk Dewata juga dianggap sebagai representasi kekuatan pelindung yang menuntun dan memastikan bahwa jiwa mencapai tujuan akhir tanpa gangguan.

Burung dalam konteks Ngaben ini mencerminkan transformasi, simbol yang menunjukkan perubahan dari kehidupan material menuju kehidupan spiritual.

Transformasi ini dianggap sebagai bagian penting dari siklus reinkarnasi (samsara), di mana jiwa yang meninggalkan tubuh fisik akan kembali pada kehidupan baru atau bergabung dengan asal-muasal spiritualnya.

Melalui simbol burung, masyarakat Hindu Bali juga mengajarkan bahwa kehidupan ini bersifat sementara, dan kematian bukanlah akhir, tetapi tahap menuju kehidupan yang lebih tinggi atau penyatuan dengan sumber spiritual.

Manuk Dewata mengingatkan keluarga yang ditinggalkan untuk melepaskan keterikatan dan ikatan emosional dengan almarhum.

Burung ini menjadi lambang untuk menyerahkan dengan ikhlas jiwa kepada alam roh dan melepaskan keterikatan pada tubuh fisik yang telah berakhir.

Dalam konteks ini, burung sebagai simbol pelepasan juga bermakna untuk mendukung proses berduka, sehingga keluarga dapat merelakan kepergian orang yang telah meninggal menuju kebebasan spiritual. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#bali #ngaben #hindu #roh #burung #manuk dewata