Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sakral! Sanggar Surya saat Mekala-kalaan Simbol Sang Hyang Smarajaya dan Smararatih

I Putu Mardika • Selasa, 5 November 2024 | 04:51 WIB

Proses mekala-kalaan saat pawiwahan dilaksanakan
Proses mekala-kalaan saat pawiwahan dilaksanakan
BALIEXPTRESS.ID-Ritual Mekala-kalaan adalah bagian dari upacara pawiwahan yang harus dijalani. Jika diperhatikan, ada sejumlah uparengga atau sarana yang digunakan. Seperti Sanggah Surya, Tetimpug, Tikeh Dadakan, Tegen-tegenan hingga sampat lidi. Semua ada makna filosofis yang layak dikupas.

Dosen Filsafat Hindu, STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Putu Ariyasa Darmawan, M.Ag mengatakan Ritual mekala-kalaan tidak bisa dilepaskan dari upacara pawiwahan.

Ritual ini bertujuan untuk penyucian diri, yang ditujukan kepada Bhuta Kala. Mekala-kalaan merupakan manifestasi dari kekuatan kama yang memiliki sifat keraksasaan.

Kedua pengantin dipersonifikasikan sebagai kekuatan kala dan kali yang disebut kala nareswari.

Penggunaan sejumlah sarana saat mekala-kalaan juga tak lepas dari makna filosofis. Sebut saja Sanggah Surya yang sifatnya sementara ditancapkan di halaman rumah.

umumnya posisi menghadap ke barat atau ke selatan, atau berhadap-hadapan dengan calon pengantin.

Ini merupakan simbol (nyasa) Dewa Surya dan Sang Hyang Smarajaya bersama Sang Hyang Smara Ratih.

Diyakini Dewa Surya menjadi saksi upacara mekala-kalaan yang dilangsungkan oleh kedua mempelai agar perkawinan tersebut menjadi sebuah kehidupan baru yang harmonis.

“Sanggah Surya bermakna melalui upacara mekala-kalaan kedua jiwa pengantin mendapatkan pencerahan, dilenyapkan segala kegelapan, sehingga dapat melaksanakan kehidupan berumah tangga dengan damai,” jelasnya.

Sarana selanjutnya adalah tetimpug. Diyakini sarana ini sebagai alat komunikasi baik secara niskala maupun secara sekala.

Secara niskala tetimpug berfungsi untuk memberitahukan kepada Bhuta Kala yang akan mendapat persembahan bahwa upacara mekala-kalaan segera dimulai.

Secara sekala tetimpug juga mempunyai fungsi untuk memberitahukan kepada warga sekitar bahwa upacara mekala-kalaan segera dimulai.

Bambu yang digunakan memiliki ruas sebanyak Lima buah. Secara filosofis berarti orang yang telah mampu memahami hakekat Brahman, Atman, Karmaphala, Punarbhawa dan moksa.

Sedangkan tujuh ruas bermakna sudah mampu memahami tentang tujuh kegelapan (Sapta Timira) yang menyebabkan malapetaka.

Selanjutnya ketiga bambu tersebut diikat menjadi satu bermakna bahwa dasar orang memahami makna Brahman, Atman, Karmaphala, Punarbhawa dan Moksa dengan baik adalah karena telah mampu mensucikan pikiran, ucapan dan tindakan dalam kehidupan sehari-hari.

Kemudian sarana Tikeh dadakan (tikar kecil) juga digunakan saat mekala-kalaan. ini memiliki makna sebagai simbol Pradana atau Prakṛti.

Pada saat upacara mekala-kalaan berlangsung maka tikeh dadakan akan dirobek dengan keris yang dipegang oleh pengantin pria.

Keris memiliki makna purusa. Tikeh dadakan (tikar kecil) adalah sebagai kesucian Yoni atau Prakṛti, sedangkan makna keris adalah sebagai kekuatan Purusa. Dengan bersatunya Purusa dan Prakṛti maka akan terjadi penciptaan.

“Dalam sebuah perkawinan, bersatunya atau bertemunya seorang pria dengan seorang wanita diharapkan akan lahir anak-anak yang suputra,” imbuhnya. (dik)

 

 

Editor : I Putu Mardika
#bali #hindu #pawiwahan #mekala kalaan