BALIEXPRESS.ID – Perayaan Nyepi tahun Caka di Bali disibukkan dengan segala persiapan untuk menyambut pergantian tahun baru yang jatuh setiap tahun sekali menurut perhitungan kalender Bali.
Menjelang pelaksanaan pangerupukan, para pemuda dan warga banjar di seluruh Bali disibukkan dengan pembuatan ogoh-ogoh .
Hal yang sama juga nampak di Kapubaten Tabanan, Bali. Tidak hanya ogoh-ogoh saja yang menjadi tontonan dan hal yang menarik dalam pelaksanaan pangerupukan.
Namun ada juga tradisi unik yang ditampilkan oleh para pemuda dan warga Banjar Bendul Desa Pakraman Wongaya Gede Kecamatan Penebel Kabupaten Tabanan.
Baca Juga: Pj Gubernur Bali Ajak DPD RI Bersinergi Atasi Masalah Krusial Pulau Dewata
Dalam prosesi pangerupukan tidak hanya arak-arakan ogoh-ogoh yang ditampilkan tapi juga okokan kulkul dan juga gambelan baleganjur yang dikreasikan dengan seindah mungkin.
Penyuluh Agama Hindu, Ni Made Ayu Suniari, mengatakan makna dari okokan itu menurut pandangan dia dan masyarakat Bendul “untuk ngerebeg atau nyombia bhuta kala.
“Sebelum ngerebeg diadakan upacara pecaruan terlebih dahulu di masing-masing banjar, setelah selesai melaksanakan pecaruan ngerebeg dengan okokan dan pawai ogoh-ogoh dilaksanakan” ujarnya.
Baca Juga: Terkuak! OTT Perbekel Bongkasa Diduga karena Kasus Minta Uang ke Kontraktor Pembangunan Pura
Sepengetahuan dia, okokan itu mulai diperkenalkan sejak jaman dahulu mulai dari Umat Hindu melaksanakan Nyepi dan rangkaiannya.
Dahulu okokan itu digunakan untuk ngarapan sapi namun seiring perkembangan jaman okokan itu mulai digunakan untuk mengiri pawai ogoh-ogoh.
“Okokan hanya digunakan pada saat pangerupukan saja untuk kegiatan lain tidak pernah menggunakan okokan,,” tegasnya.
Dia juga menyampaikan bahwa okokan mulai memudar maka untuk melestarikan okokan agar tidak punah dan tergerus jaman.
“Maka pada saat pangerupukan ditampilkanlah pawai ogoh-ogoh yang diringi dengan okokan.
Okokan bisa dimainkan oleh siapa saja asalkan yang membawanya kuat untuk menggerakkannya’’ tegasnya.
Okokan sebagai warisan budaya harus tetap dilestarikan dan dijaga agar selalu aksis. Selain itu juga untuk memperkenalkan dan menjaga warisan budaya yang dimiliki. Dia juga mengatakan agar ke depannya pemuda ikut serta memainkan okokan. *
Editor : Putu Agus Adegrantika