Pria asal Dusun Lempedu, Desa Les, Kecamatan Tejakula ini sudah menjadi Balian Uwut sejak tahun 1997 silam. Bahkan, saking ramainya, dalam 2,5 bulan pasien yang diobatinya mencapai seribu orang.
Kepada Bali Express (Jawa Pos Group), Ketut Mandiyasa menceritakan jika dirinya sudah diramal akan menjadi seorang balian sejak dirinya duduk di bangku Sekolah Dasar (SD).
Lelaki kelahiran tahun 1957 inipun justru merasa khawatir dengan ramalan itu.
Dalam benaknya, Mandiyasa berpikir jika menjadi seorang balian sangat beresiko. Sebab, bisa dimusuhi orang karena menyembuhkan.
“Ibaratnya, kita menyembuhkan satu orang, yang tidak senang atau memusihi bisa sepuluh orang. itu yang membuat saya takut jadi Balian,” jelasnya.
Baca Juga: Alihfungsi Lahan Tinggi Mengancam Kersediaan Pangan di Bali
Lambat laun, sekitar tahun 1997, di saat usianya menginjak 38 tahun ramalan itu benar adanya. Kala itu, ada seorang Balian yang datang ke rumahnya.
Mandiyasa pun sempat berkeluh kesah jika hidupnya secara ekonomi sangat susah kala itu.
Lalu, sang Balian yang datang itupun bertanya kepada dirinya.
"cen ngadenang hidup keweh atau nulungin anak keweh? (mana dipilih, hidup susah atau menolong orang kesusahan). Saya jawab lebih baik menolong orang susah,” kenangnya.
Sang Balian pun lantas menyarankan agar Mandiyasa menghaturkan sesajen Sayut Linggih di Plangkiran tempat tidurnya, yang kini ia jadikan sebagai kamar suci. Sejak itulah, tanpa disadari jika Mandiyasa sudah menjadi Balian.
Pasien pertama yang ia obati bukanlah orang jauh. Melainkan keluarganya sendiri. Saat itu, keponakannya cidera hingga mengalami dislokasi persendian. Mandiyasa pun mencoba untuk mengobatinya. Alangkah ajaibnya, sang keponakan pun sembuh sepeerti sediakala.
Baca Juga: 27 Juta Warga Indonesia Nyatakan Tidak Setuju Naturalisasi Pesepak Bola untuk Bela Timnas Indonesia
Uniknya, ia meminta sang keponakan untuk tak bercerita kepada orang lain. Namun apa daya, namanya perlahan kian tenar di desanya berkat cerita dari mulut ke mulut. Ketika ada masyarakat yang memiliki permasalahan seperti keseleo, salah urat hingga patah tulang, banyak yang berobat ke rumahnya.
Ia menyebut, keahlian nguwut tidak ada proses belajarnya. Namun semua dijalani secara alamiah.Mandiyasa meyakini, jika keahliannya itu adalah anugerah dari taksu yang diiringnya di Kamar sucinya.
Terlebih, saat mengobati pasein, Mandiyasa senantiasa terlebih dahulu memohon kesembuhan kepada Hyang Taksu.
“Sampai seluruh Bali ada yang datang untuk berobat. Ya rata-rata mengalami masalah di tulang, keselo, sendi bergeser,” imbuhnya.
Baca Juga: Dukungan Terus Mengalir, Bang Ipat Dikawal Barisan Mantan Pemkab Jembrana Hadapi Petahana
Ia tak menampik, jika sering mengobati pasien bule. Rata-rata bule yang mengalami cidera saat berlibur ke Bali. Mereka kerap diantar oleh pemandu wisatanya untuk berobat.
“Tamunya ada yang dari Australia, Austria, Malaysia, Belanda, Cina. Biasanya saat berlibur di Tulamben, Singaraja,” katanya. (dik)
Editor : I Putu Mardika