Penari Baris yang pentas di Pura Ulun Danu Batur adalah penduduk Batur dan terikat oleh aturan adat bahwa mereka harus ngayah sesuai dengan tempekan (kelompok masyarakat) Pura Ulun Danu Batur.
Jero Gede Batur Duhuran menjelaskan terdapat empat tempekan yang berada di desa Adat Batur dengan tugasnya yang berbeda-beda, penjabarannya yakni tempekan Jero Batu Barak dan Gadang.
Tempekan ini bertugas untuk mempersiapkan segala sarana prasarana yang dibutuhkan saat upaara Ngusaba Kedasa di Pura Ulun Danu Batur.
Baca Juga: Harga Daging Babi di Tabanan Tembus Rp 90 Ribu Per Kilogram, Pedagang Kurangi Pasokan: Lho Kok Bisa?
Tempekan Jero Undagi ditugaskan untuk merawat serta membersihkan bangunan di area Pura. Kemudian Tempekan Jero Gambel bertugas sebagai pengiring musuik/ gamelan pada saat prosesi upacara sedang berlangsung.
Jero Gambel juga ditugaskan sebagai pengiring tari Baris; dan yang terakhir Tempekan Jero Baris yang bertugas sebagai penari Baris.
Terkhusus pada tempek Jero Baris memiliki kewajiban penuh untuk ngayah (melakukan pertunjukan secara tulus ikhlas) pada saat berlangsungnya upacara Ngusaba Kedasa.
Secara etimologi kata “Baris” diartikan sebagai jajar, banjar, leret, dan deret. Baris juga diartikan sebagai pasukan prajurit yang akan berperang. Tari Baris disamping tari upacara keagamaan juga tergolong tari kepahlawanan.
Jika dilihat Penari Baris menunjukkan kematangan dari seseorang yang ditunjukkan melalui kecakapannya dalam mempermainkan senjata atau alat perang.
Secara jelas dalam pementasan tari Baris tergambar dengan adanya unsur kepahlawanan mengingat para penari pada saat menari membawa perlengkapan senjata perang misalnya tombak, tamiang atau perisai dan sebagainya.
Kostum yang dikenakan oleh penari Baris juga tergolong cukup kompleks yang menambah kesan agung dalam pertunjukan tari Baris, adapapun kostum yang dikenakan yakni; pada bagian leher memakai badong yang dibuat dari kain beludru yang dibubuhi bebagai permata.
“Bagian badan dihiasi dengan awiran dan lelamakan dibuat dari kain berwana-warni dan dilapisi dengan perada. Musik pengiring tari Baris yakni gamelan gong gede,” jelasnya.
Dalam lontar Usana Bali disebutkan bahwa tari Baris adalah simbolis dari widyadara sedang menari, adapun penjabarannya lebih lanjut yakni Diceritakan bahwa ketika Bhatara Indra berhasil membunuh raja Bali Aga yang bernama Mayadenawa dalam suatu peperangan, maka para Dewa berkumpul semuanya di manukraya.
Kemudian para widyadari menari Rejang, para widyadara menari Baris dan para gandarharwa menjadi pemain gamelan (memain musik). Demikian pula para Dewa turut menari dengan gayanya masing-masing.
Lamanya karya di Pura Manukraya itu sampai tiga hari, setelah selesai upacara di Pura itu maka barulah Bhatara-Bhatari pulang ke Jambudwipa, diiringi oleh para Widyadara dan Widyadari dan para Gandharwa.
“Sejak itulah kalau ada piodalan atau karya di suatu Pura harus mengadakan pertunjukan tari Rejang dan Baris,” katanya. (dik)
Editor : I Putu Mardika