Tarian ini memiliki gerakan yang sarat akan makna. Tarian ini diawali dengan papeson dan diakhiri pakaad.
Ada tiga bagian utama yang membentuk struktur hampir semua tarian Bali: papeson (awal), pangadeng (tengah) dan pakaad (akhir).
Ketiga bagian ini mengalir dengan gerakan dimulai dari intensitas rendah, kemudian beralih menjadi lebih dinamis dan enerjik, kemudian pada bagian akhir intensitas menjadi kembali rendah meskipun tidak serendah intensitas awal.
Dijelaskan Jero Gede Batur Duhuran ketiga struktur tari Bali juga teraplikasikan keadalam tari Baris yang terdapat di pura Ulun Danu Batur.
Bagian pertama (papeson) dalam pementasan tari Baris ini dimulai dengan para penari keluar dari gelung kori (pintu gerbang yang terdapat di Pura) dan memasuki pelataran Pura.
Baca Juga: Tari Baris di Pura Batur, Kintamani Diiringi Tempekan Jero Gambel, Ditarikan Tempekan Jero Baris
Para penari keluar secara bergiliran dari balik candi bentar (gapura) dengan gerakan berjalan matungked bangkiang (berjalan memegang pinggang) kemudian menoleh kekanan dan kekiri sembari meluruskan barisan dengan penari yang lain, kemudian dilanjutkan dengan gerakan nanjek.
Gerakan berikutnya yakni gerakan duduk dengan posisi tombak berada di samping penari, setelah itu perlahan berdiri dengan mengucapkan kata “puh,,,,” dilakukan serentak oleh penari yang di barengi dengan gerakan ngoyod dan ngedebeg dua kali, setelah itu mencari posisi berjajar saling berhadapan kemudian mengucapkan kata “puh,,, dan aiihh,,”.
Bagian kedua (pangadeng), pada bagian ini penari yang berada pada bagian depan menggerakan leher secara tegas kekanan dan kekiri (ngoyodin baong), dilanjutkan pada gerakan yang sama oleh penari Baris yang berada pada bagian belakang.
“Selanjutkan para penari anatara depan dan belakang berhadap-hadapan sambil mengucapkan kata “puh,,, dan aiihh,,” yang kemudian dilanjukkan dengan gerakan saling menombak satu sama lain,” katanya.
Ia menambahkan, gerakan tersebut menjadi perlambang para prajurit yang sedang latihan untuk mengahadapi pertempuran dimedan peperangan.
Baca Juga: Ibu-Ibu Viral Ngaku Keluarga Disekap, Polda Bali Sebut Tidak Ada, Berujung Dilaporkan Kasus ITE
Adegan peperangan dilanjutkan pada gerakan berjongkok seperti mengintip musuh kemudian perlahan berdiri dengan gerakan yang seolah-olah seperti mengintip dan dilanjutkan dengan saling menusukan tombak pada bagian samping pinggang.
Kemudian dilanjutkan pada gerakan ngoyod berputar bertukar posisi anatara kelompok depan dan kelompok belakang kemudian mengulangi gerakan yang sama pada posisi penari yang sudah berpindah.
Pada bagian ketiga (pakaad), penari baris sedikit meningkatkan intensitas tempo pertunjukan kemudian para penari berputar sebanyak 3 kali dan diakhiri dengan mengambil posisi berhadap-hadapan.
Kemudian melakukan gerakan nanjek sembari mengucapkan kata “puh,,, dan aiihh,,” yang kemudian dilanjutkan dengan gerakan saling menombak satu sama lain antara kelompok kanan dan kiri.
Adegan peperangan dilanjutkan pada gerakan yang seolah-olah seperti mengintip dan dilanjutkan dengan saling menusukan tombak pada bagian samping pinggang.
Baca Juga: TPA Butus Nyaris Overload, DLH Karangasem Ngaku sudah Study Banding ke Badung: Ini Solusinya
Tarian dilanjutkan pada gerakan ngoyod berputar bertukar posisi anatara klompok kanan dan kelompok kiri kemudian mengulangi gerakan yang sama pada posisi penari yang sudah berpindah.
Bagian ketiga ini merupakan bagian akhir dari pertunjukan tari Baris pada upacara Ngusaba Kedasa di Pura Ulun Danu Batur, dimana setelah adegan peperangan selesai, para penari kemudian mengambil posisi sejajar dengan arah hadap semua penari menghadap kedepan.
Kemudian dilanjutkan pada gerakan ngoyod serta maju tiga langkah diakhiri dengan tanjek kemudian bersama-sama berbalik kearah belakang, serta terakhir berama-sama berjalan keluar dari area pementasan. (dik)
Editor : I Putu Mardika