Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Prosesi Ngangkid di Desa Pedawa, Ada Tradisi Ngeluku, Dilaksanakan Enam Kali

I Putu Mardika • Senin, 11 November 2024 | 05:05 WIB

Tradisi Ngangkid di Desa Pedawa, Kecamatan Banjar, Buleleng
Tradisi Ngangkid di Desa Pedawa, Kecamatan Banjar, Buleleng
BALIEXPRESS.ID-Prosesi Ngangkid di Desa Pedawa, Kecamatan Banjar, Buleleng melewati sejumlah tahapan penting. Salah satunya adalah ngeluku.

Prosesi ini bertujuan untuk penyampaian kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa lantaran akan melaksanakan upacara dan meminta tuntunan-Nya hingga upacara mepegat dan ngangkid berakhir.

Dikatakan Tokoh Adat Pedawa, Wayan Sukrata, Ngeluku dilaksanakan kurang lebih enam kali dan dilakukan setiap tiga hari sekali tergantung petunjuk dari balian masing-masing. Ngeluku juga memiliki nama lain yaitu ngelempane.

Upacara ngeluku pertama diselenggarakan di rumah tempat tinggal balian tepatnya di plangkiran yang berada di atas tempat tidur.

Kemudian ngeluku diselenggarakan di rumah tua atau rumah kelahiran balian yang bantennya dihaturkan di Sanggah Kemulan.

Ngeluku dilanjutkan di sanggah (tempat pemujaan) di mana mereka membuat lau-lau, banten karna, dan banten sia pang sia. Dan ngeluku di selenggarakan di Pura Penyarikan, Pura Dalem, serta Pura Puseh Bingin.

Tuntas Ngeluku, kemudian dilanjutkan dengan nebuk padi gaga dan megbeg baas. Di Desa Pedawa saat melaksanakan upacara ngangkid banyak menggunakan jenis tumbuhan, salah satu tumbuhan yang sangat penting dan di upacarai adalah padi.

Padi yang digunakan bernama padi gaga, padi gaga sudah jarang dibudidayakan di lingkungan Desa Pedawa.

Baca Juga: Unik!Prosesi Panjang Tradisi Ngangkid di Desa Pedawa Diawali Mepiuning, Jalani Tahapan Nganggur ke Rumah Balian

Upacara yang dilakukan oleh masyarakat sebelum mendapatkan bulir-bulir beras padi gaga untuk sarana mepegat dan ngangkid yakni nebuk padi gaga.

Nebuk (numbuk) padi gaga dilaksanakan pada pagi hari, yang bertujuan melepaskan padi dari bagian kulit luarnya (sekam).

Nebuk padi juga disebut megeguntangan. Upacara lainnya yang berlangsung dengan nebuk padi gaga ialah megbeg baas.

Megbeg baas merupakan ritual mebantenin beras. Dengan dilaksanakan upacara megbeg baas masyarakat berharap dapat mengirit beras selama upacara Ngangkid berjalan.

“Megbeg baas diadakan bersamaan dengan tradisi mangseg umah paon yang artinya tradisi membuat dapur untuk upacara ngangkid,” kata Wayan Sukrata

Prosesi selanjutnya adalah Tradisi nyalanan gantal pengendek adalah tradisi mengundang aparat desa adat untuk menjadi saksi dalam upacara ngangkid.

Saksi-saksi yang diundang tersebut antara lain perbekel atau sangket, klian desa adat, enam orang pengulu desa, sepuluh pengeetan, dan beberapa daa. Semua yang diundang selaku pemegang desa adat.

Baca Juga: Akses Jalan Batusesa-Batang-Angsoka, Karangasem Bali Rusak Lagi, Baru Sebulan Selesai Diperbaiki!

Hadirnya aparat desa adat sangat penting bagi masyarakat yang mengadakan upacara ngangkid sebab mereka dianggap menjadi saksi sekalanya.

Panitia akan mengarahkan sebagian dari pengayah untuk membawakan gantal ke rumah aparat desa adat masing-masing.

Dengan sudah dibawakan gantal, para aparat desa adat dipastikan siap menjadi saksi dan pasti datang ke tempat upacara ngangkid.

Tahapan berlanjut pada tradisi Mepegat ang berarti lepas. Mepegat adalah upacara kematian tingkat kedua sesudah upacara penguburan.

Masyarakat Pedawa juga yang menyebut upacara mepegat sebagai upacara metepung tawar.

Umumnya upacara mepegat sudah bisa dilaksanakan 45 hari setelah upacara penguburan. Skala besarnya upacara mepegat di Desa Pedawa sama seperti upacara ngaben di masyarakat Bali dataran.

Dalam upacara mepegat, masyarakat juga mengadakan tradisi mangseg amben pepegat dan ngeyehin karang. Mangseg amben pepegat adalah tradisi membuat tempat atau pekarangan baru untuk balian muput dan menaruh banten mepegat.

Sedangkan ngeyehin karang adalah tradisi mencipratkan air suci di tempat pekarangan upacara keagamaan.

“Upacara mepegat bertujuan untuk membersihkan roh tingkat pertama atau masyarakat Pedawa sering menyebut bersih aklabang salak,” tutupnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#bali #PEDAWA #ngangkid #ngeluku #buleleng