Keunikan Pura Batan Bingin: Lima Tempat Suci Hindu Bali dalam Satu Kawasan dengan Aura Mistis yang Memikat
I Putu Suyatra• Sabtu, 16 November 2024 | 17:11 WIB
Pura Batan Bingin di Desa Pejeng Kawan, Tampaksiring, Gianyar, Bali.
BALIEXPRESS.ID – Di tengah kesejukan Desa Pejeng Kawan, Tampaksiring, terdapat sebuah pura yang tidak hanya kaya akan sejarah, tetapi juga aura mistis yang kental.
Pura Batan Bingin, dengan lima tempat suci Hindu Bali yang terletak dalam satu kawasan, menawarkan pengalaman spiritual yang sangat berbeda dari pura-pura lainnya di Bali.
Lima Pura dalam Satu Areal: Mengungkap Sejarah dan Keunikan Arsitektur
Berbeda dari kebanyakan Pura Kahyangan Tiga yang umumnya memiliki dua hingga tiga pura dalam satu area, Pura Batan Bingin menjadi fenomena langka dengan lima pura di dalamnya.
Terdiri dari Pura Batan Bingin, Pura Puseh, Pura Desa, Pura Batan Jepun, dan Pura Melanting, kelima pura ini memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat setempat, dan semuanya mengadakan piodalan serentak pada Purnama Kasa—kecuali Pura Melanting yang memiliki waktu piodalan berbeda.
Letaknya yang sedikit masuk ke dalam, hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit perjalanan dari Kota Gianyar, menuju Pasar Pejeng ke barat, menjadikannya tempat yang tenang dan penuh kekuatan spiritual.
Tepat di utara kantor desa, pura ini juga dikelilingi oleh pohon beringin besar yang kokoh, menambah kesan magis yang menyelimuti kawasan tersebut.
Tradisi dan Upacara: Keberagaman Ritual yang Menguatkan Komunitas
Pura Batan Bingin tidak hanya dikenal karena keunikan arsitektur dan lokasi yang penuh sejarah, tetapi juga karena keberagaman upacara adat yang dilaksanakan.
Tokoh Adat Pejeng Kawan, I Gusti Nyoman Lasia, menjelaskan bahwa Pura Desa dan Pura Puseh mulai dibangun bersamaan pada tahun 1980, sebagai satu kesatuan dengan tujuan mempermudah krama (warga) setempat dalam menjalankan ritual keagamaan.
Setiap enam bulan sekali, dua jenis piodalan—Sasepen dan Paselang—dilaksanakan dengan penuh makna dan kesakralan.
Sasepen adalah upacara sederhana yang tetap dihormati, sementara Paselang adalah piodalan besar dengan penggunaan caru kerbau, yang saat ini sedang dipersiapkan untuk upacara yang akan datang.
Tidak hanya itu, pada tahun 2010, masyarakat setempat melaksanakan piodalan Ngusaba Nini Panyegjeg Jagat yang diyakini dapat mendatangkan kesejahteraan dan menghindarkan dari bencana.
Sasuhunan: Penjaga Pura yang Dikenal Masyarakat
Keunikan lainnya adalah keberadaan Sasuhunan, yaitu pratima, barong ketet, rangda, dan berbagai tapakan lainnya yang dipercaya sebagai penjaga pura dan desa.
Sasuhunan ini tidak hanya berfungsi sebagai simbol spiritual, tetapi juga diyakini menjaga kesejahteraan warga.
Masyarakat juga memiliki tradisi Mapalu Dangsil, yang dilakukan setelah setiap piodalan, untuk mengelilingi area Pura Puseh dan Pura Batan Bingin dengan tujuan agar semua karya dan usaha berjalan lancar.
Pura Batan Jepun: Tempat Nunas Taksu dan Kelancaran Kesenian
Keunikan Pura Batan Bingin juga terletak pada Pura Batan Jepun, yang dikenal sebagai tempat nunas taksu bagi seni dan budaya.
Di tempat ini, salah satu sekaa teruna bahkan berhasil meraih juara dalam lomba tari tingkat kabupaten.
Pura ini diyakini sebagai sumber keberuntungan bagi mereka yang terlibat dalam kesenian, memberikan energi positif bagi setiap upacara dan kompetisi.
Sebuah Pura yang Menyatukan Sejarah, Tradisi, dan Spiritualitas
Pura Batan Bingin bukan hanya sebuah tempat ibadah, tetapi juga saksi bisu perjalanan panjang tradisi dan spiritualitas masyarakat Bali.
Dengan lima pura yang berdiri kokoh di satu kawasan, lokasi ini menjadi tempat yang menarik untuk dikunjungi, tidak hanya untuk merasakan kedamaian, tetapi juga untuk menggali lebih dalam tentang keunikan budaya Bali yang tak ternilai harganya.
Apakah Anda penasaran dengan kekuatan mistis yang menyelimuti Pura Batan Bingin?
Jangan lewatkan kesempatan untuk menyaksikan langsung keberagaman tradisi dan aura sakral yang ada di tempat ini. ***