BALIEXPRESS.ID - Pura Batan Bingin, yang terletak di Desa Pejeng Kawan, Tampaksiring, Gianyar, Bali, bukan hanya dikenal sebagai tempat suci Hindu Bali, tetapi juga menyimpan cerita mistis yang membuatnya dihormati dan dijaga ketat oleh warga setempat.
Selain dikenal sebagai tempat ibadah, pura ini memiliki pantangan yang sangat serius: apapun yang ada di areal pura, tak boleh dibawa pulang.
Di bagian utara pura, terdapat sebuah tegalan yang tampak seperti hutan kecil, dihiasi dengan pohon kelapa, pisang, dan berbagai macam kayu besar.
Tumbuhan-tumbuhan ini tumbuh subur di lahan yang kini dikenal sebagai laba pura, tempat yang dianggap sakral dan penuh misteri.
Menurut Tokoh Adat Pejeng Kawan, I Gusti Nyoman Lasia, salah satu warga yang pernah melanggar pantangan ini mengalami kejadian aneh.
Pada sekitar tahun 1980-an, seorang warga yang tidak mengetahui jalan pulang terjebak berputar-putar di sekitar tegalan tersebut.
Keanehan ini baru terungkap setelah warga setempat melihatnya mondar-mandir di sekitar area itu.
Ternyata, orang tersebut telah mengambil buah kelapa yang jatuh di areal laba pura.
Setelah diinterogasi, ia mengaku tidak bisa menemukan jalan pulang karena mengambil kelapa dan kayu bakar di tempat yang dianggap suci itu.
Peristiwa tersebut bukan yang pertama kali, dan sejak itu, para leluhur di desa ini menyimpulkan bahwa apapun yang berada di laba pura tidak boleh dibawa pulang.
Hingga saat ini, area tegalan itu masih terlihat asri, seperti hutan di tengah pedesaan, dengan pemandangan yang menakjubkan.
Namun, meskipun di sekitarnya kini ada pematang sawah milik warga, mereka tidak pernah berani mengambil apapun dari area tersebut.
Bahkan, jika ada sesuatu yang jatuh ke pematang sawah, warga dengan hormat akan mengembalikannya ke laba pura.
Selain itu, ada lagi pantangan penting yang dipegang teguh oleh warga setempat.
Peralatan persawahan, terutama yang dianggap kotor, tidak boleh dibawa ke areal pura karena dapat membuat pura menjadi leteh atau ternoda.
Jika pantangan ini dilanggar, sanksi adat berupa pacaraun (pembersihan secara sekala dan nisakala) akan diberikan sebagai bentuk pemurnian.
Cerita-cerita mistis dan pantangan yang melekat pada Pura Batan Bingin menjadi pengingat akan betapa pentingnya menjaga kesucian dan kehormatan tempat-tempat suci di Bali.
Bagi yang berkunjung, hati-hati, karena legenda dan pantangan ini bukan sekadar cerita—mereka dihormati dan dijalankan oleh warga dengan penuh keyakinan. ***
Editor : I Putu Suyatra