Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Menguak Misteri Selonding di Tenganan: Gambelan Sakral di Bali yang Tak Boleh Direkam dan Menyentuh Tanah

I Putu Suyatra • Minggu, 17 November 2024 | 02:13 WIB
Selonding Tenganan, Bali.
Selonding Tenganan, Bali.

BALIEXPRESS.ID - Desa Tenganan di Bali bukan hanya terkenal dengan tradisi dan adat istiadatnya yang kental, tetapi juga menyimpan sebuah warisan sakral berupa Gambelan Selonding.

Gambelan ini diyakini telah ada sejak sebelum masa kejayaan Kerajaan Balingkang dan dianggap sebagai perwujudan wahyu Ratu Selonding.

Menariknya, suara dari gambelan ini tidak boleh direkam, dan setiap komponennya tidak boleh menyentuh tanah, sebuah pantangan yang menimbulkan rasa penasaran mendalam.

Asal-Usul Misterius Gambelan Selonding

Menurut Wayan Sudarsana, Kelian Desa Pegringsingan Tenganan, sejarah Selonding masih diselimuti kabut misteri.

“Gambelan ini ditemukan di utara desa, tepatnya di dekat pura. Namun, tidak ada prasasti atau lontar yang menjelaskan asal-usulnya. Yang ada hanyalah mitos yang menghubungkannya dengan wahyu Ratu Selonding,” ujarnya.

Dalam tradisi Tenganan, Gambelan Selonding disebut sebagai piturun, yakni berkah yang diberikan oleh Ratu Selonding kepada masyarakat desa.

Gambelan ini terdiri dari berbagai instrumen unik, seperti peneman, petuduh, nyong-nyong, gong gede, dan kempul.

Kesakralan yang Dijaga Ketat

Kesakralan Selonding sangat dijunjung tinggi. Tabuh tertentu, seperti Geguron atau tabuh dewa, hanya boleh dimainkan dalam upacara sakral.

Selain itu, masyarakat dilarang memegang gambelan sembarangan. Hanya pada hari-hari suci seperti Purnama dan Tilem, gambelan ini dikeluarkan untuk dimainkan.

“Kalau ada bagian gambelan yang terjatuh dan menyentuh tanah, ritual khusus bernama Mekuma Ligi harus dilakukan untuk membersihkan desa dari mala atau energi negatif,” jelas Sudarsana.

Ritual ini melibatkan seluruh masyarakat adat untuk menjaga harmoni dan kesucian desa.

Keunikan Melodi dan Peran Adat

Melodi Selonding di Tenganan memiliki ciri khas tersendiri yang berbeda dari Selonding di wilayah lain di Bali.

Dengan nuansa melow dan selendro, gambelan ini menghadirkan suasana etnik yang unik. Keunikan ini semakin memperkuat posisi Selonding sebagai ikon budaya yang tak tergantikan.

Selain itu, adat di Tenganan memiliki ciri khas tersendiri dengan menganut ajaran Hindu Indra.

Salah satu tradisi uniknya adalah penggunaan babi hitam sebagai sarana ritual dalam setiap upacara, baik kecil maupun besar.

“Setiap rumah di Tenganan memelihara babi hitam karena setiap tiga bulan kami membutuhkan jumlah besar untuk keperluan adat,” ungkap Sudarsana.

Tradisi yang Terus Dijaga

Gambelan Selonding bukan hanya sekadar alat musik, melainkan simbol warisan spiritual dan budaya yang terus dirawat oleh masyarakat Tenganan.

Kesakralannya, keunikan melodinya, hingga mitos yang menyelimutinya menjadikan Selonding sebagai bagian tak terpisahkan dari identitas Desa Tenganan.

Dengan segala misteri dan keunikan yang dimiliki, tak heran jika Selonding menjadi daya tarik tersendiri bagi para peneliti, wisatawan, dan pecinta budaya yang ingin menyelami lebih dalam tradisi Bali Aga yang begitu kental di desa ini. *** 

 

 

Editor : I Putu Suyatra
#bali #Tenganan #tradisi #selonding