Tradisi Sakral Subak di Bali: Keunikan Ritual Hindu Ngusaba Ageng dan Nedunang Sang Hyang Sampat yang Penuh Misteri
I Putu Suyatra• Minggu, 17 November 2024 | 04:02 WIB
Sang Hyang Sampat
BALIEXPRESS.ID - Sistem Subak di Bali bukan sekadar metode pengairan sawah, melainkan jalinan erat antara adat, budaya, dan tradisi masyarakat Hindu Bali.
Setiap aktivitas di Subak selalu diawali dengan ritual keagamaan yang diwariskan turun-temurun.
Salah satu tradisi unik tersebut adalah Ngusaba Ageng dan Nedunang Sang Hyang Sampat yang digelar oleh krama Subak Puakan di Desa Pekraman Puluk Puluk, Desa Tengkudak, Kecamatan Penebel, Tabanan.
Namun, apa sebenarnya makna di balik ritual ini?
Ngusaba Ageng: Ritual Sebelum Panen
Ritual Ngusaba Ageng dilaksanakan setiap tahun di Pura Bedugul atau Pura Subak sebelum musim panen.
Sebelum prosesi utama ini dimulai, krama Subak Puakan terlebih dahulu menggelar upacara Nangkluk Merana, yang bertujuan melindungi tanaman padi dari hama dan penyakit.
Namun, berbeda dari tradisi di daerah lain, Nangkluk Merana di sini dilakukan dengan ritual unik Nedunang Sang Hyang Sampat, simbol sakral yang dipercaya mampu melindungi sawah dari ancaman negatif.
Legenda Sang Hyang Sampat: Jejak dari Zaman Pra-Hindu
Menurut para tetua Desa Pekraman Puluk Puluk, asal-usul Sang Hyang Sampat terkait mitologi pertempuran Raja Ki Ngurah Panji Sakti dari Buleleng yang berupaya memperluas kekuasaannya ke Tabanan.
Kerusakan yang dilakukan terhadap Pura Batukaru saat itu memicu wabah penyakit, termasuk kerusakan tanaman di wilayah sekitar.
Untuk mengatasi hal ini, dibuatlah Sang Hyang Sampat sebagai pelindung sawah, yang terus dipercaya hingga kini sebagai penjaga kesuburan tanaman dan keharmonisan alam.
Keunikan Ritual Nedunang Sang Hyang Sampat
Ritual ini berlangsung selama dua hari, dipusatkan di Pura Bale Agung Desa Pekraman Puluk Puluk.
Sang Hyang Sampat, yang terdiri dari dua simbol—Sang Hyang Sampat Lanang (laki-laki) dan Sang Hyang Sampat Istri (perempuan)—dibuat dari lidi khusus seperti Ron dan Nyuh Gading.
Jumlah lidinya memiliki makna mendalam, seperti angka 108 untuk Sang Hyang Sampat Lanang, yang melambangkan arah penjuru dunia dan keabadian Tuhan.
Simbol ini dihias dengan bunga-bunga sakral, lonceng, dan kain berwarna khas. Saat prosesi berlangsung, lonceng Sang Hyang Sampat terus berbunyi, menambah kesan magis.
Menariknya, ketika roh Widyadara merasuki Sang Hyang Sampat, gerakannya menjadi tak terduga dan bisa melaju cepat, bahkan hingga berlari, melintasi sawah, sungai, atau medan sulit lainnya.
Pesan Rohani dan Pemberkatan Subak
Ritual ini bukan sekadar simbolik. Sang Hyang Sampat dipercaya "membersihkan" areal sawah dari energi negatif dan memberkahi seluruh tanaman.
Selama tiga hari prosesi, Sang Hyang Sampat berkeliling Subak Puakan yang mencakup lima tempek (kelompok kecil), memastikan semua wilayah diberkati.
Pada hari terakhir, Sang Hyang Sampat menuju Beji, tempat pembersihan akhir sebelum di-sineb (dikembalikan) ke tempatnya.
Kesakralan yang Sarat Makna
Uniknya, Sang Hyang Sampat selalu tahu daerah mana yang belum diberkati, tanpa arahan manusia.
Ini menambah kesan mistis dan kepercayaan mendalam masyarakat terhadap tradisi ini. Bahkan, saat hendak di-sineb, tembang sakral kembali dilantunkan untuk mengiringi kepergian simbol suci ini.
Tradisi ini bukan hanya tentang mempertahankan adat, tetapi juga menjaga keharmonisan antara manusia, alam, dan roh leluhur.
Subak Puakan dengan ritual Ngusaba Ageng dan Nedunang Sang Hyang Sampat menjadi bukti hidup bagaimana warisan budaya Bali tetap terjaga di tengah modernisasi.
Tradisi yang penuh misteri ini layak menjadi daya tarik bagi siapa saja yang ingin memahami kedalaman spiritual masyarakat Bali. ***
SEMRINGAH: Tiga paslon bupati dan wakil bupati bergandengan tangan setelah mengikuti debat ketiga di Hotel Odaita Pamekasan, Jumat (15/11) malam. Editor : I Putu Suyatra