Akademisi UHN I Gusti Bagus Sugriwa, I Putu Artha Weda memaparkan, pedagingan setiap pelinggih dengan pelinggih lainnya berbeda.
Dalam Lontar Teks Dewa Tattwa dijelaskan berbagai macam padagingan dalam membangun tempat suci, seperti meru, gedong, prasada, padmasana, ibu. Semuanya hendak dilengkapi dengan pedagingaan nista, madya, dan utama
Dimana dalam sebuah padagingan akan tersusun atas berbagai jenis logam, biji-bijian, rempah-rempah dan berbagai jenis lainya yang kemudian dibungkus menjadi sebuah padagingan.
Dijelaskan bahwa dalam sebuah padagingan terdapat komponen-komponen pokok yang menjadi dasar semua jenis padagingan.
“Komponen tersebut adalah unsur logam panca dhatu yakni dalam bentuk lempengan, jarum, maupun dalam bentuk uang kepeng dan keberadaan dari batu permata yang menjadi pokok dari sebuah padagingan,” jelasnya.
Logam Panca Dhatu Panca dhatu secara etimologi berasal dari bahasa sansekerta “panca” yang berarti 5 (lima) dan “dhatu” yang dimana warna atau elemen.
Sehingga panca dhatu dapat diartikan sebagai 5 (lima) elemen atau warna yang dalam kepercayaan agama Hindu sebagai simbol dari keberadaan panca devata.
Panca dhatu merupakan salah satu unsur penyusun dari sebuah padagingan yang dimana terdiri atas logam-logam mulia yang dibentuk sedemikian rupa agar menjadi sebuah simbol-simbol.
Adapun unsur panca dhatu dalam sebuah padagingan yakni terdiri atas emas (Au), Perak (Ag), tembaga (Cu), Besi (Fe), dan campuran dari keempat logam tersebut sebagai unsur logam yang kelima
Rempah-rempah atau dalam bahasa Bali disebutkan dengan anget-anget yang merupakan simbol dari dunia makro.
Baca Juga: Petugas Geledah Kamar Hunian Lapas Tabanan, Temukan Sejumlah Barang Membahayakan
Keberadaan rempah-rempah ini menjadi memberi kehangatan dimana dijelaskan bahwa sebuah kehidupan selalu memerlukan kehangatan di dalamnya
“Para orang tua dahulu mengolah rempah-rempah menjadi sebuah lulur (parem) yang diusapkan kesuluruh tubuh sehingga memberikan efek hangat,” katanya.
Selain rempah-rempah, sarana pedagingan ada pula batu permata atau disebut dengan mirah. Batu mirah merupakan batu yang tergolong dalam jenis cerrudum minerals (Kerund) yang dimana memiliki angka kekerasannya adalah 9 (sembilan).
Permata atau mirah juga disebut dengan nama robijn yang berarti merah.
Keberadaan mirah dalam padagingan merupakan sebagai sebuah simbol kekuatan dan kekuasaan dari manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang dipuja.
Selanjutnya komponen dari pedagingan adalah Uang Kepeng. Keberadaan dari uang kepeng dalam padagingan sebagai pelengkap dari komponen padagingan yang dalam teks dewa tattwa.
“Uang kepeng disebutkan sebagai artha atau disebutkan juga dengan jinah yang jika diartikan secara harfiah berarti uang,” katanya.
Jumlah uang kepeng dalam sebuah padagingan menyesuaikan dengan tingkatan padagingan yang di ambil apakah yang uttama (utama), madya (menengah), atau nista (kecil) serta jumlah uang kepeng dalam sebuah padagingan disesuaikan dengan padagingan untuk palinggihnya.
Baca Juga: Antisipasi Megathrust, Yayasan dan BPBD Gianyar Gelar Simulasi
Jumlah uang kepeng dalam padagingan secara dasar terkecil itu adalah 11 keping yang merupakan simbol dari pengebek gumi yakni simbol dari arah mata angin yang terdiri atas timur, timur laut, selatan, barat laut, barat, barat daya, utara, tenggara, tengah, atas, dan bawah.
Sarana selanjutnya adalah Kwagen. Sarana ini merupakan sebuah produk kebudayaan Hindu yang difungsikan dalam sebuah upacara yadnya yang digunakan sebagai sebuah sarana dalam berhubungan dengan Tuhan.
Secara filosofis kwangen dapat dimaknai sebagai simbol dari Om Kara, dimana terdiri atas ardha candra yang diwakilkan oleh bentuk dari tepian kojong yang menyerupai dari bentuk bulan sabit.
Windu yang disimbolkan dengan uang kepeng, dan Nada yang disimbolkan dengan cili, porosan silih asih sebagai sebuah simbol dari purusa pradana
Kain merupakan salah satu bagian yang digunakan dalam pembuatan padagingan yang dimana kain ini difungsikan sebagai pembungkus dari semua komponen padagingan. Kain yang digunakan merupakan kain yang dalam keadaan bersih, suci atau sukla.
Kain yang digunakan dalam pembuatan padagingan adalah mengunakan kain mori atau juga disebut dengan kain kaci yang berwarna putih.
Kain yang digunakan dalam proses pembuatan padagingan akan diberikan tulisan atau rajahan aksara serta gambar-gambar tertentu sebagai sebuah sarana untuk membangkitkan spirit dari segala materi yang menyusun padagingan.
“Namun dalam teks dewa tattwa hanya menjelaskan terkait dengan pengunaan kain dalam pembuatan padagingan sebagai pembungkus dari padagingan itu sendiri tanpa menjabarkan apakah kain tersebut ditulis oleh rerajahan aksara tertentu,” sebutnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika