Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Jenis Ritual Ngaben di Bali Dibedakan Berdasarkan Keadaan Jenazah, Jenjang dari Utama sampai Sederhana

I Putu Mardika • Rabu, 20 November 2024 | 02:35 WIB

 

Prosesi NGaben di Desa Banjar, Buleleng
Prosesi NGaben di Desa Banjar, Buleleng
BALIEXPRESS.ID-Upacara Ngaben yang dilaksankan umat Hindu di Bali dibagi berdasarkan keadaan jasad orang yang diaben. Selain itu, ngaben juga dibagi berdasarkan tingkatan dari yang utama sampai yang paling sederhana.

Dosen STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Dr. Wayan Murniti menjelaskan dilihat dari keadaan jasad orang yang di-aben, maka upacara ngaben itu dapat dibagi menjadi tiga jenis.

Ada yang disebut sawa wadana, asti wadana, dan swasta. Perbedaan jenis ngaben tersebut terletak pada pangawak. Dalam ngaben sawa wadana ada jasat (sawa) orang yang baru meninggal sebagai pangawak.

Dikatakan Murniti, Ngaben asti wadana adalah upacara ngaben yang menggunakan tulang belulang orang yang sudah lama meninggal dan sudah lama dikuburkan.

Tulang belulang itu diangkat dari kuburan dan tulang belulang yang tersisa itulah yang dijadikan pangawak.

Baca Juga: WASPADA! Aksi Keprok Kaca Ancam Keamanan Lalu Lintas di Tabanan, Begini Kronologinya

Sedangkan Ngaben swasta adalah upacara ngaben yang tidak ditemukan jenazahnya, pangawaknya menggunakan simbol dalam bentuk tirtha atau kusa (daun alang-alang)

Dalam lontar Sundarigama pengabenan dalam upacara pitra yajña dapat dibedakan menjadi lima tingkatan yang disebut Panca Wikrama.

Lima jenis ngaben tersebut dari yang paling utama sampai yang upacaranya sederhana.

Sawa prateka, upacara ngaben ini dari segi bentuk upacaranya merupakan ngaben yang paling besar secara sekala. Ngaben sawa prateka ini arah sorga yang dituju disebutkan ring daksina artinya ’di Selatan’.

Dewatanya Dewa Brahma, wikunya Bhagawan Rama Parasu, tirtanya Merta Kamandalu, bidadarinya Dewi Gagar Mayang.

Menggunakan wadah atau bade dan damar kurung, patulangan, gamelan gambang, menggunakan banten teben, panjang ilang yang lengkap.

Sawa wedana, menggunakan damar angenan, pengawak kayu cendana, surganya ring pascima (Barat), dewatanya Dewa Mahadewa, bidadarinya Dewi Sulasih, wikunya Bhagawan Kanwa, tirtanya Merta Kundalini, gamelan gong trompong, boleh memakai wadah atau bade dan damar kurung.

Baca Juga: Truk Terjun ke Jurang di Tegallalang, Tiga Orang Terluka

Pranawa, boleh menggunakan wadah dan juga boleh tidak, memakai banten teben, damar kurung dan patulangan, pangawak tirta.

“Cukup memakai bale salunglung, sorganya ring uttara dewatanya Dewa Wisnu, bidadarinya Dewi Tunjung Biru, wikunya Bhagawan Jenaka, tirtanya Merta Pawitra. Gamelannya Saron,” katanya.

Ngaben swasta, tidak menggunakan wadah atau bade, tidak menggunakan damar kurung, tanpa banten teben, dan tanpa patulangan.

Saji lengkap dengan nasi angkeb, caru ayam putih lima ekor, sorganya ring wetan (Timur), dewatanya Sang Hyang Iswara, bidadarinya Dewi Supraba, wikunya Bhagawan Bhrgu. Menggunakan tirta Maha Merta dan gamelan Turas.

Ngaben mitra yadnya, dari segi bentuk ngaben inilah yang paling sederhana, tetapi dari segi spiritual paling utama.

Baca Juga: Modus Baru! Pabrik Narkoba di Bali, Dijual ke Anak Muda Pakai Carteridge Pod, Juga Dikirim ke Luar Negeri

Ngaben ini dengan pangawak daksina, sorganya ring madhya (tengah), dewatanya Dewa Siwa, bidadarinya Dewi Supini, wikunya Bhagawan Wararuci, tirtanya Sanjiwani, cukup memakai saji lengkap dan nasi angkeb. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#bali #ngaben #jasad #Sawa Wadana #hindu #Asti Wadana