BALIEXPRESS.ID - Desa Sebatu, Gianyar, menjadi sorotan selama pelaksanaan Usaba Dalem di Pura Dalem Pingit. Tradisi Hindu Bali sakral ini tak hanya memikat dengan ritualnya, tetapi juga dengan berbagai aturan ketat yang wajib dipatuhi warga.
Salah satu pantangannya adalah larangan keluar wilayah desa dan memotong rambut selama ritual yang berlangsung selama 12 hari ini.
Sebatu, Desa Tua Sarat Sejarah
Sebatu bukan sekadar nama, melainkan sebuah cerita sejarah. Menurut Tokoh Desa Sebatu, Senter, nama desa ini berasal dari kata "sauh" yang berarti tergelincir dan "batu" yang berarti batu.
"Kisah ini erat kaitannya dengan Sang Mayadenawa. Konon, raja yang dikenal serakah itu tergelincir di wilayah ini sebelum akhirnya tewas. Dari sini, nama Sebatu lahir," jelas Senter kepada Bali Express.
Larangan Keluar Desa: Mitos atau Kenyataan?
Salah satu aturan yang paling menarik perhatian adalah larangan keluar desa selama Usaba Dalem.
Jika seseorang sudah pulang ke desa untuk mengikuti ritual ini, mereka tidak boleh kembali ke tempat tinggalnya di luar Sebatu hingga ritual selesai.
"Larangan ini sebenarnya hanya soal kepercayaan, tetapi ada mitos bahwa melanggar pantangan ini bisa membawa celaka. Bahkan, beberapa kejadian aneh telah terbukti," ujar Senter.
Ia menceritakan pengalaman warga yang nekat pulang ke Denpasar di tengah Usaba Dalem.
“Keesokan harinya, mereka kembali ke Sebatu dalam kondisi tuli dan bisu. Dan anehnya, itu terjadi pada seluruh anggota keluarga mereka,” ungkapnya.
Pantangan Unik: Tak Boleh Potong Rambut dan Kuku
Selain larangan keluar desa, warga Sebatu juga dilarang memotong rambut atau kuku selama ritual berlangsung.
Bahkan, upacara Manusa Yadnya dan Pitra Yadnya serta kegiatan keagamaan seperti muspa juga dilarang.
"Ida Batara Dalem saat itu sedang melancaran, mengamankan desa Sebatu. Warga diwajibkan menyepi, mengontrol diri, serta menjauhkan pikiran dari kepentingan duniawi," jelas Senter.
Menurutnya, pantangan ini bertujuan untuk menjaga kesucian fisik dan batin selama proses Usaba Dalem berlangsung.
Harapan untuk Tradisi yang Tetap Ajeg
Senter berharap tradisi Usaba Dalem dan ritual lainnya di Sebatu tetap lestari.
"Kalau bukan kita yang menjaga, siapa lagi? Tradisi ini adalah warisan leluhur yang harus terus ajeg hingga generasi mendatang," tutupnya.
Pelaksanaan Usaba Dalem di Sebatu menjadi bukti bagaimana kepercayaan dan adat istiadat masih menjadi bagian penting kehidupan masyarakat Bali.
Namun, apakah larangan-larangan ini benar-benar membawa akibat jika dilanggar, ataukah sekadar mitos untuk menjaga kesucian tradisi? Pertanyaan itu mungkin hanya bisa dijawab oleh warga Sebatu sendiri. ***
Editor : I Putu Suyatra