Ritual-ritual tersebut tidak hanya melambangkan rasa syukur namun juga menunjukkan keyakinan petani Bali untuk hidup selaras dengan alam.
Salah satu ritual yang khas adalah Ngurit atau Ngewiwit, yang merupakan persembahan yang dilakukan sebelum musim tanam dimulai.
Pada ritual ini, petani memohon restu kepada Dewi Sri (dewi padi dan kesuburan) serta dewi Pṛthwiī (dewi bumi), agar padi yang mereka tanam dapat tumbuh dengan subur dan menghasilkan panen yang melimpah.
Akademisi UHN I Gusti Bagus Sugriwa, Wayan Gaduh menjelaskan Ngurit merupakan simbol penghormatan terhadap alam dan manifestasi Tuhan yang memengaruhi kehidupan dan siklus pertanian di Bali.
“Ngurit adalah persembahan oleh petani perorangan pada saat membuat persemaian (pembibitan padi). Disebut juga dengan istilah Pengwiwit yaitu upacara pada saat akan menabur benih di persemaian” katantya.
Ritual Ngurit adalah ritual kedua yang dilaksanakan oleh para petani dalam sebuah siklus pertanian.
Ritual pertama yang dilaksanakan oleh petani adalah ritual Ngendagin/ Nuasen Tedun yaitu ritual memulai siklus pertanian yang baru. Ritual Ngurit dilaksanakan pada saat menabur benih padi di persemaian.
Tidak ada waktu pasti kapan ritual Ngurit dilaksanakan.
“Semua tergantung pada rangkaian proses pertanian. Pada Lontar Dharma Pemaculan disebutkan bahwa ritual Ngurit dilaksanakan sekitar 18 hari setelah ritual Nuasen Tedun” paparnya.
Ritual ini merupakan bentuk permohonan berkat dan kesuburan agar benih padi dapat tumbuh sehat hingga siap untuk ditanam. Bagi para petani Hindu Bali yang menjunjung kehidupan selaras dengan alam, benih padi disayang selayaknya seorang bayi.
“Para petani memastikan benih dapat tumbuh subur dengan menyediakan media tanam yang baik, kecukupan air dan nutrisi,” katanya.
Dewi Pṛtiwi dipuja sebagai ibu yang merawat semua makhluk hidup dengan menyediakan sumber nutrisi dan makanan. Untuk itu, anugrah Dewi Pṛthiwi dalam aktivitas pertanian adalah hal yang mutlak.
Lahan penyemaian padi ibarat rahim seorang ibu yang menjaga dan menumbuhkan benih padi hingga siap untuk tumbuh di lahan pertanian. Sedangkan Dewi Śrī adalah Dewi Kesuburan khususnya sebagai Dewi Padi dalam wujud benih padi itu sendiri.
Walaupun disediakan media tanam yang subur, jika benihnya tidak baik maka tanaman padi tidak akan tumbuh sesuai harapan.
“Untuk itu, mulai dari upacara Ngurit hingga bulir padi diolah menjadi makanan, pemuliaan Dewi Śri terus dilaksanakan secara berkesinambungan,:” ungkapnya.
Tahap pelaksanaannya ritual Ngurit adalah mempersembahkan lahan penyemaian, menyiapkan benih, menabur benih, dan mempersembahkan sesajen Ngurit. Pada praktik secara tradisional, lahan penyemaian dibuat di hulu sawah.
Sedikit berbeda dengan penentuan hulu pada kehidupan ritual masyarakat Hindu Bali yang berdasarkan pada arah gunung dan matahari terbit, pada aktifitas pertanian di sawah, daerah hulu adalah tempat masuknya air di area persawahan (pengalapan).
Baca Juga: Kampanye Akbar Paket GP Dihadiri Mangku Pastika dan De Gadjah: Sumarjaya Linggih Ikut Orasi
Selain pertimbangan bahwa pengalapan dan penyemaian adalah tempat yang sakral. Hal tersebut juga bertujuan mempermudah akses air terhadap benih yang disemaikan.
Setelah bibit padi ditabur di persemaian, dipersembahkan sesajen sebagai bentuk harapan benih dapat tumbuh dengan subur.
Setelah ritual Ngurit dilaksanakan, persemaian ditutup dengan ilalang hingga muncul tunas dan benih padi membutuhkan sinar matahari untuk tumbuh dengan baik.
Sesajen yang dipergunakan saat upacara Ngurit cukup beragam, sesuai dengan tradisi masyarakat setempat. “Sumber sastra yang memuat tentang upacara Ngurit adalah Lontar Sri Purana Tattwa,’ katanya (dik)
Editor : I Putu Mardika