Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Barong Landung: Sosok Sakral Penolak Bala di Pura Desa dan Puseh Bali

I Putu Suyatra • Minggu, 24 November 2024 | 16:43 WIB
Barong Landung
Barong Landung

BALIEXPRESS.ID - Barong Landung, sosok sakral dengan wujud tinggi besar dan berpasangan, menjadi ikon unik di sejumlah Pura Desa dan Puseh di Bali.

Bentuknya yang berbeda dari Barong Bangkung atau Barong Ket memunculkan banyak pertanyaan: apa sebenarnya muasal Barong Landung? Mengapa keberadaannya erat kaitannya dengan Pura Desa dan Puseh?

Sosok Barong Landung: Perwujudan Raja Balingkang dan Mitologi Bali

Barong Landung sering tampil dalam upacara piodalan atau ritual tertentu, seperti Dewa Yadnya.

Wujudnya menyerupai manusia, dengan pasangan bernama Jero Gede dan Jero Luh. Jero Gede berwajah hitam besar dan menyeramkan, sementara Jero Luh memiliki ciri khas mata sipit dan jidat menonjol, mencerminkan sosok permaisuri Raja Balingkang, seorang putri Tiongkok bernama Kang Cing Wei.

Menurut Ida Pandita Mpu Jaya Acharya Nanda, "Barong" berasal dari kata b(h)awa, yang berarti sinar atau penjelmaan, sedangkan "Landung" berarti tinggi besar.

"Barong Landung adalah manifestasi Tuhan dalam wujud besar yang melambangkan harmoni dan perlindungan," jelasnya.

Fungsi Sakral: Penolak Bala dan Tradisi Ngalawang

Keberadaan Barong Landung kerap dikaitkan dengan upacara penolak bala.

Ketika wabah penyakit atau bencana melanda, masyarakat menggelar ritual permohonan agar roh sakral seperti Ratu Gede Macaling bersedia berstana dalam Barong Landung.

Sosok ini dipercaya mampu menetralkan energi negatif dan mengusir roh jahat yang mengganggu desa.

Barong Landung juga menjadi bagian dari tradisi ngalawang, di mana ia diarak keliling desa untuk menciptakan harmoni dan keseimbangan.

Berbeda dengan tradisi ngalawang Barong Bangkung, prosesi ini tidak memasuki rumah-rumah warga, melainkan hanya melintas di depan rumah.

Warga yang menunggu biasanya menghaturkan banten berupa canang sari, panguntapan, dan sesari, dengan harapan mendapatkan keselamatan dan kedamaian.

Mitologi yang Beragam dan Misteri yang Belum Terpecahkan

Sejarah Barong Landung memiliki berbagai versi. Beberapa mitos menghubungkannya dengan Ratu Gede Macaling, Raja Balingkang, hingga konsep Catur Sanak (Kanda Pat) dalam lontar suci Bali.

Lontar Kanda Pat menyebut Barong Landung sebagai perwujudan kekuatan sakral yang melindungi desa dari wabah dan energi negatif para Bhutakala.

Namun, banyaknya versi cerita membuat sejarah Barong Landung terlihat samar.

"Sulit memastikan asal-usul Barong Landung secara pasti, karena lontar-lontar menyajikan beragam kisah yang berbeda," ujar Mpu Acharya Nanda.

Meski begitu, satu hal yang pasti, Barong Landung tetap menjadi simbol perlindungan dan harmoni dalam kehidupan masyarakat Bali.

Pesan Filosofis dalam Ritual dan Tradisi

Melalui ritual-ritual sakral seperti nunas tamba atau memohon keselamatan, masyarakat Bali memperkuat keyakinan bahwa Barong Landung adalah media penghubung dengan kekuatan ilahi.

Tirta yang diberikan saat upacara dipercaya memiliki khasiat sebagai obat dan pembersih pekarangan, menciptakan kedamaian bagi seluruh desa.

Keberadaan Barong Landung di Pura Desa dan Puseh bukan sekadar tradisi, tetapi juga warisan budaya yang sarat makna.

Sosoknya yang misterius dan kisah-kisah di baliknya menjadikannya ikon unik yang terus hidup di tengah modernisasi Bali.

Apakah Anda pernah menyaksikan Barong Landung diarak mengelilingi desa? Cerita-cerita di baliknya mungkin lebih dalam dari yang kita bayangkan. ***

Editor : I Putu Suyatra
#bali #pura desa #hindu #barong landung #pura puseh