Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Ritual Neduh di Tenganan Pegringsingan Gunakan Babi Hitam, Memohon Perkebunan Tumbuh Subur

I Putu Mardika • Minggu, 24 November 2024 | 21:35 WIB

 

Pura Batan Cagi menjadi salah satu tempat pelaksanaan ritual neduh di Desa Tenganan Pegrsingsingan
Pura Batan Cagi menjadi salah satu tempat pelaksanaan ritual neduh di Desa Tenganan Pegrsingsingan
BALIEXPRESS.ID-Tradisi Neduh menjadi ritual penting bagi masyarakat Desa Tenganan Pegringsingan, Kecamatan Manggis, Karangasem. Ritual Neduh bertujuan untuk memohon ketenangan yang dilakukan oleh para petani di Tenganan.

Masyarakat Desa Adat Tenganan Pegringsingan adalah masyarakat agraris yang menggantungkan hidupnya secara ekonomi dan pemenuhan kebutuhannya pada bidang pertanian.

Oleh karena itu demi keberhasilan ekonomi di bidang pertanian, maka secara niskala dilakukan penjagaan dan pemeliharaan lahan pertanian termasuk hutan dengan melaksanakan upacara Neduh

Perbekel Tenganan, Ketut Sudiastika mengatakan, masyarakat Desa Adat Tenganan Pegringsingan melaksanakan upacara Neduh di dua tempat yaitu di Pura Besaka dan Pura Batan Cagi.

Upacara Neduh di Pura Besaka dilaksanakan pada tanggal 4 Sasih Karo, sedangkan upacara Neduh di Pura Batan Cagi dilaksanakan pada tanggal 7 sasih Karo, berselang tiga hari setelah Neduh di Pura Besaka.

Pada upacara Neduh ini dipersembahan babi hitam yang masih hidup. Diusahakan babi yang dipakai haturan seberat kurang lebih 45 kg. Lungsuran babi yang hidup itu selanjutnya dipotong di Balai Banjar, dan dagingnya dibagikan kepada krama desa adat.

Upakara persembahan lainnya adalah kuud (buah kelapa muda, gula Bali (gula merah), garam, pisang dan telor

Upacara Neduh yang dilaksanakan setiap sasih Karo di Pura Besaka dan Pura Batan Cagi adalah memohon anugrah Dewa yang bersthana di Pura Besaka dan Pura Batan Cagi.

Permohonan krama desa adalah agar dewa di Pura tersebut berkenan menormalkan cuaca, dan tumbuh-tumbuhan atau pepohonan yang ada di hutan, kebun dan sawah dapat hidup subur dan berbuah lebat.

Pada upacara Neduh yang dilaksanakan di Pura Besaka dan Pura Batan Cagi menggunakan upakara/banten pamuja, dan beras dasaan yang terdiri atas ketan, injin, taluh, sudang, mba genep (bawang, jahe, langkuas, tingkih, sere, kulit jeruk nipis), uang kepeng 1.000, kampuh silih (wastra putih, sabuk, saput), gula jaka 2 sibak, base lunggahan, tipat sambutan.

Juga pangoling yang menggunakan wadah ingka beralaskan daun pisang alunggah, biu bunga aijas, kelapa asibak, base lunggahan, bikat gangsung, tingkih 2 butir, tegen-tegenan matah memakai sanan carang dapdap berisi kelapa, pisang kayu, sirih dan buah pinang.

“Semua upakara ini ditempatkan pada palinggih yang di atas. Sedangkan babi hitam yang masih hidup dipersembahkan pada palinggih batu yang di bawah dengan tetabuhan tuak 1 klungkuh,” ungkapnya.

Dikatakan Sudiastika, Upacara Neduh di Pura Besaka ini dilaksanakan pada pukul 07.00 Wita, dengan peserta terbatas pada krama desa adat saja.

Sehabis persembahyangan dilanjutkan dengan sangkepan, dengan kelengkapan kuud (daging kelapa muda dan gula Bali).

Setelah usai sangkepan, maka semua peserta kembali ke desa. Babi yang habis dipakai upacara kemudian dilungsur, selanjutnya dipotong di Balai Banjar.

Dagingnya dipakai uraban dan lain-lain, ada juga dibagikan kepada krama desa adat.

“Upacara Neduh di Pura Batan Cagi dilaksanakan empat hari setelah upacara Neduh di Pura Besaka. Banten dan proses upacaranya pada prinsipnya sama seperti yang dilaksanakan di Pura Besaka,” paparnya.

Upacara ini dilaksanakan pada taggal 4 sasih Karo (bulan Maret) pada pukul 07.00 hingga pukul 08.00 WITA.

Upacara Neduh juga dilaksanakan bertempat di Pura Batan Cagi di lingkungan pemukiman desa di ujung selatan desa.

Krama desa istri sedang melakukan persembahyangan menghadap ke selatan, di belakangnya diikuri oleh krama desa lanang.

Di sana ada palinggih berupa tumpukan batu yang tempatnya di samping candi kurung (pintu) pura tersebut.

Upacara yang dipimpin oleh Pamangku Desa dimulai pada pukul 07.00 hingga pukul 08.00 WITA. Setelah usai melakukan persembahyangan, dilakukan sangkepan

Tempatnya di areal dalam pura menghadap ke utara. Posisi duduknya sesuai dengan posisi pada struktur organisasi desa adat, yang paling depan Luanan 5 Orang, di belakangnya Bahan Roras 12 Orang, di belakangnya lagi Tambalapu Roras 12 Orang dan paling belakang Pangluduhan.

“Bila ada yang tidak hadir, maka krama yang ada di belakangnya duduk bergeser ke depannya. Krama desa istri juga melakukan sangkepan seperti halnya krama desa lanang, cuma tempatnya di areal pura sebelah timur menghadap utara,” imbuhnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#Manggis #ritual #Tenganan Pegringsingan #neduh #AGRARIS #pertanian #karangasem