Ada sejumlah sarana penting yang digunakan dalam tradisi Neduh ini.
Sarana atau bahan-bahan yang digunakan tergolong mentah, termasuk ayam, itik dan babi dipersembahkan masih hidup-hidup.
Krama desa adat peserta upacara semuanya baik yang laki-laki dan peremuan berpakaian adat (tanpa mengenakan baju) termasuk Pemangku yang nganteb upacara tersebut.
Dikatakan Perbekel Tenganan Pegrinngsingan Ketut Sudiastika Upacara Neduh ini berlangsung selama kurang lebih satu jam.
Baca Juga: Ritual Neduh di Tenganan Pegringsingan Gunakan Babi Hitam, Memohon Perkebunan Tumbuh Subur
Kemudian diakhiri dengan sangkepan baik sangkepan krama desa lanang dan sangkepan krama desa istri disertai sarana tuak, lungsuran ketupat, pisang, kuud (daging kelapa muda) gula merah dan garam.
Setelah usai upacara, babi yang telah dipakai persembahan di masing-masing pura tersebut selanjutnya disemblih di Balai Banjar Adat.
Kemudian dipakai adonan seperti urab-uraban, balung yang dipanggang dipakai lauk ketika makan bersama bagi krama desa adat saat melaksanakan sangkepan (rapat) yang dilaksanakan di balai banjar tersebut.
Rangkaian upacara Neduh tersebut diakhiri dengan pelaksanaan tabuh rah (tajen) sebanyak tiga seet bertempat di wantilan desa adat. Upacara Neduh di Desa Adat Tenganan Pegringsingan sangat penting untuk dilaksanakan.
Di samping sebagai wujud bakti dan terima kasih masyarakat Desa Adat Tenganan Pegringsingan kepada Tuhan.
Selain itu, tradisi ini menjadi momen yang baik untuk memohon kemurahan Tuhan (Dewa Indra) serta Dewa yang berstana di Pura Besaka dan Pura Batan Cagi.
Tujuannya, agar Dewa Indra berkenan memberikan kesuburan terhadap tumbuh-tumbuhan atau pepohonan dan kemakmuran kepada masyarakat Desa Adat Tenganan Pegringsingan.
Baca Juga: Keripik Kentang Albaeta, UMKM yang Berkembang Pesat Berkat Pemberdayaan BRI
“Upacara Neduh juga merupakan upaya penjagaan hutan secara niskala agar tetap Lestari,” tutupnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika