Gajah Mina dan Palinggih Unik di Pura Beji Sakenan Tunggak Tiing bagi Umat Hindu Bali, Simbol Kekuasaan Dewa Lautan
I Putu Suyatra• Selasa, 26 November 2024 | 02:33 WIB
Pura Beji Sakenan Tunggak Tiing di utara Pulau Serangan, Denpasar, menyimpan daya tarik luar biasa bagi umat Hindu Bali.
BALIEXPRESS.ID - Pura Beji Sakenan Tunggak Tiing di utara Pulau Serangan, Denpasar, menyimpan daya tarik luar biasa bagi umat Hindu Bali.
Berada di atas lahan hutan konversi, pura ini dikenal tidak hanya karena keangkerannya, tetapi juga karena keunikannya.
Salah satu yang mencuri perhatian adalah dua palinggih dengan bentuk tak biasa: satu menyerupai tubuh manusia berkepala gajah, dan satu lagi berbentuk ikan besar berkepala gajah, yang disebut Gajah Mina.
Menurut Anak Agung Ngurah Bagus Aryana, pemangku Pura Beji Sakenan Tunggak Tiing, Gajah Mina adalah simbol kekuatan Dewa Baruna, yang menjadi dewa tertinggi di pura ini.
Sebagai penguasa lautan, Dewa Baruna distanakan di Pura Beji karena lokasinya yang dekat dengan laut.
“Makhluk berkepala gajah dan bertubuh ikan ini disebut Makara atau Gajah Mina, stana sekaligus kendaraan Dewa Baruna,” ujar Turah Mangku, panggilan akrabnya.
Filosofi di balik bentuk ini pun menarik. Ikan besar melambangkan kekuatan raja lautan, sementara gajah dianggap sebagai makhluk darat yang bijaksana.
“Kombinasi ini menciptakan sosok yang mewakili kekuatan maha dahsyat, baik di laut maupun darat,” tambahnya.
Terinspirasi dari Legenda Matsya, Avatara Wisnu
Keberadaan Gajah Mina juga dikaitkan dengan kisah Matsya, salah satu Avatara Dewa Wisnu.
Dalam mitologi Hindu, Matsya adalah ikan berkepala gajah yang menyelamatkan dunia dari kehancuran.
“Kami terinspirasi dari kisah ini, karena Dewa Baruna juga dianggap pelindung masyarakat, terutama yang bergantung pada hasil laut,” jelas Turah Mangku.
Peran Dewa Baruna di Pura Beji Sakenan
Dalam ajaran Hindu, Dewa Baruna adalah manifestasi Brahman sebagai penguasa air, lautan, dan samudra.
Nama Baruna berasal dari kata Sanskerta var, yang berarti "membentang" atau "menutup," merujuk pada lautan yang melingkupi sebagian besar bumi.
Selain sebagai penguasa lautan, Baruna juga diyakini sebagai penjaga hukum alam, dikenal sebagai Rta.
Makhluk mitologi seperti Gajah Mina atau Makara sering muncul dalam arsitektur pura, termasuk Pura Beji Sakenan.
Tidak hanya simbol keagungan Dewa Baruna, Makara juga dipahatkan sebagai hiasan pada candi-candi untuk menunjukkan perlindungan dan kekuatan.
Kepercayaan dan Harapan Masyarakat Serangan
Bagi masyarakat Pulau Serangan, keberadaan Palinggih Gajah Mina tidak hanya sekadar simbol keagamaan.
Mereka percaya makhluk ini memberikan perlindungan sekaligus berkah bagi hasil laut, sumber utama penghidupan mereka.
“Kami semua berharap keberadaan beliau membawa kesejahteraan dan melindungi dari marabahaya,” ungkap Turah Mangku.
Jejak Mitologi di Pura Beji Sakenan
Keunikan Pura Beji Sakenan Tunggak Tiing tidak hanya pada sosok Gajah Mina.
Masyarakat Hindu juga percaya Dewa Baruna memiliki tunggangan bernama Makara, yang digambarkan sebagai makhluk purba gabungan buaya dan lumba-lumba.
Dalam kisah Ramayana, Dewa Baruna bahkan membantu Rama menyeberangi lautan menuju Lanka dengan menciptakan jembatan.
Pura Beji Sakenan Tunggak Tiing mengingatkan kita akan kedalaman filosofi dan kekayaan mitologi dalam tradisi Hindu.
Bagi Anda yang tertarik mendalami kisah-kisah unik dan penuh makna, Pura Beji ini layak menjadi destinasi rohani sekaligus wisata budaya yang menakjubkan.
Berani menjelajah lebih jauh? Siapkan diri Anda menyelami misteri dan keajaiban lautan di Pura Beji Sakenan Tunggak Tiing. ***