BALIEXPRESS.ID – Bagi masyarakat Hindu Bali yang tinggal di sekitar Denpasar, Bali, nama Pura Gria Taman Asih tentu tak asing lagi. Berlokasi di sisi kiri jembatan di Jalan Gunung Agung, pura ini selalu terlihat ramai dengan kunjungan umat. Namun, apa yang membuat kawasan suci ini begitu istimewa?
Dibangun di atas lahan kurang dari setengah are, Pura Gria Taman Asih dikenal sebagai pura pasimpangan dengan peran vital sebagai penjaga niskala wilayah.
Menurut Jero Mangku Wayan Sumarma, pemangku pura ini, dulunya kawasan tersebut sangat angker.
Sungai di bawah jembatan yang kini ramai dikenal sebagai perbatasan Pemecutan Utara dan Desa Tegal Kerta, dahulu penuh dengan cerita mistis.
“Sering terdengar suara-suara aneh tanpa wujud yang jelas. Ketika malam, tak ada warga yang berani melintas. Sungai itu dulunya digunakan untuk membuang abu jenazah usai Ngaben dan juga jasad korban konflik di masa penjajahan hingga era G30S/PKI,” ungkap Jero Mangku Sumarma.
Transformasi Kawasan dan Kehadiran Pura
Seiring bertambahnya penduduk, kawasan ini berubah menjadi lebih ramai. Namun, gangguan mistis masih dirasakan, sehingga pada awal 1970-an didirikanlah Pura Gria Taman Asih.
“Sejak pura ini berdiri, suasana menjadi lebih aman. Banyak warga merasa lebih tenang, terutama saat melewati area ini di malam hari,” tambah Jero Mangku.
Pura ini awalnya dibangun dengan palinggih Ratu Niang Sakti.
Namun, seiring waktu, diketahui bahwa pura ini juga menjadi tempat berstana Ida Ratu Gede Dalem Peed dari Nusa Penida, Ratu Lingsir, Ida Ratu Mas, Ratu Bagus, dan Bhatara Tirta. Palinggih tambahan pun dibangun untuk mereka.
Pusat Spiritualitas: Maluasin dan Permohonan Tamba
Selain sebagai tempat persembahyangan, Pura Gria Taman Asih memiliki fungsi spiritual unik, terutama untuk ritual Maluasin.
Ritual ini memungkinkan komunikasi antara keluarga yang masih hidup dengan leluhur yang telah tiada. Biasanya, hal ini dilakukan untuk menyelesaikan urusan yang belum tuntas di dunia.
“Banyak yang datang ke sini untuk nunas baos (memohon petunjuk), tamba, hingga taksu bagi seniman seperti penari dan dalang. Namun, ritual Maluasin adalah yang paling menarik perhatian,” jelasnya.
Keunikan dan Kesakralan Pura
Meski berukuran hanya 3x4 meter, pura ini dianggap sebagai taman spiritual yang luas. Di dalam Gedong Ageng terdapat tapakan sakral berupa Rangda, Barong, dan topeng yang disucikan.
Selain itu, ada aturan unik yang harus dipatuhi umat: semua persembahan boleh dihaturkan kecuali yang berbahan daging sapi.
Ajakan untuk Melestarikan Kesucian Pura
Jero Mangku Sumarma menekankan pentingnya menjaga kesucian pura.
“Peduli itu tidak selalu harus ngayah, tetapi cukup dengan menjaga kebersihan dan tidak membuang sampah sembarangan,” tegasnya.
Pura Gria Taman Asih tidak hanya menjadi simbol spiritual, tetapi juga saksi transformasi dari tempat angker menjadi pusat ketenangan bagi masyarakat.
Apa cerita selanjutnya yang tersembunyi di balik tembok suci pura ini? Mari kita jaga bersama keistimewaannya. ***
Editor : I Putu Suyatra